//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XVIII

Definisi Tafsir dan Ta’wil

Nasr Hamid Abu Zayd manganggap bahwa setiap tafsir adalah “ta’wil” yang kemudian dibaginya menjadi dua: pertama ta’wil resmi yang dianggap sebagai “tafsir” yang benar, dan yang kedua ta’wil oposisi yang kemudian disebut “ta’wil” atau paling banter disebut Tafsir bi ar-ra’yi.[1] Ini dikarenakan bahwa sebenarnya istilah ta’wil lebih populer dari pada istilah tafsir, dimana dalam al-Qur’an kata ta’wil muncul sebanyak 17 kali, sementara kata tafsir hanya sekali. Dan barangkali, rahasia dibalik ini bahwa ta’wil adalah konsep yang telah dikenal dalam kebudayaan pra-islam[2]. Ini berarti menurut Abu Zayd, istilah Tafsir bi ar-ra’yi adalah bentuk legitimasi dari kelompok oposisi dari tafsir resmi.

Ada perbedaan di antara ahli bahasa mengenai asal usul etimologis kata tafsir, apakah ia dari fasara atau dari safara. Kata fasara dalam lisan al-arab menunjuk pada pengertian “pengamatan dokter terhadap air”, dan kata tafsirah adalah “urine yang dipergunakan untuk menunjukkan adanya penyakit, dimana para dokter menelitinya berdasarkan warna urine untuk menunjukkan adanya penyakit begi seseorang”.[3] Dari pengertian ini, kita dihadapkan pada dua hal; pertama, materi yang diamati dokter untuk menyingkap adanya penyakit, yaitu tafsirah. Dan kedua, tindakan pengamatan itu sendiri dari pihak dokter. Ini berarti bahwa tafsir, yaitu menemukan penyakit, menuntut adanya materi (objek) dan pengamatan (subjek). Mufassir harus bertindak sebagai dokter, maksudnya, sebagai seseorang yang harus sudah memiliki pengetahuan terhadap penyakit dan gejala-gejalanya agar ia dapat melakukan proses penafsiran dan kemudian menemukan penyakit dari materi tersebut. Dokter sama sekali tidak berangkat dari kekosongan dalam diagnosa penyakit.[4]

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.[5]

Ayat tersebut berkaitan dengan bantahan terhadap orang-orang musyrik Makkah yang sering menyakiti Rasulullah dengan sikap meragukan kenabiannya dan misinya. Bantahan al-Qur’an terhadap sikap mereka yang demikian adalah sebagai argumentasi antitesis yang lebih kuat (ahsana tafsira) dilihat dari kejelasan maknanya, sebagaimana tergambar dalah surat al-Furqan dari awal surat sampai ayat tersebut di atas.

Sementara dari kata safara, kita dihadapkan pada banyak pengertian. Musafir adalah orang yang membuka kudung penutup wajahnya, membuka tempat-tempat penginapan, tempat istirahat, dank arena ia muncul di tanah lapang. Pengertian ini mengarah pada membuka dan menampakkan sesuatu yang asalnya tertutup atau tersembunyi. Sebagaimana dalam ungkapan; “safara as-subhu wa asfara”, artinya fajar menyinari. Dalam al-Qur’an disebutkan;

Banyak muka pada hari itu berseri-seri.[6]

Al-Farra’ menafsirkan, maksudnya wajahnya bersinar, safir adalah sebutan bagi wanita yang membuka cadarnya.[7] Pada bagian lain, kata safar menunjuk pada arti buku, dan kata safarah pada arti para penulis;

Seperti keledai-keledai yang membawa buku-buku.[8]

Ditangan para penulis (malaikat), yang mulia dan berbakti.[9]

Dalam Hadits disebutkan;

Perumpamaan seseorang yang membaca dan hafal al-Qur’an seperti para (malaikat) penulis yang mulia dan berbakti.[10]

Buku berfungsi mengungkapkan  apa yang tersembunyi dalam hati penulisnya. Ia hanya “ide-ide” yang tampak mewakili yang tidak tampak.

Disini, buku berubah menjadi tanda atau penunjuk bagi makna, menjadi “tafsirah” yang dijadikan medium pengamatan, sebagaimana contoh urine yang digunakan dokter dalam mendiagnosa suatu penyakit. Buku dalam hal ini berfungsi sebagai dalil yang mengisyaratkan adanya madlul, yaitu makna kalam.[11]

Seperti halnya yang dilakukan ar-Raghib[12], Nasr Hamid tampak berusaha untuk mengkompromikan polemic Ulama dalam hal perbedaan asal kata tafsir, apakah dari fasara atau safara.

Kata tafsir baik berasal dari kata fasara atau safara adalah sama. Makna keduanya sama, yaitu mengungkapkan sesuatu yang tersembunyi melalui medium yang dianggap sebaga tanda oleh mufassir.[13]

Sebelum mengkaji tafsir secara terminologis, terlebih dahulu kita perlu menganalisa pengertian kata ta’wil secara bahasa. Kata Ta’wil yang disebutkan sebanyak 17 kali dalam Al-Qur’an, 8 diantaranya menceritakan “kemampuan ta’wil” yang dimiliki Nabi Yusuf as.

Dan Demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu.[14]

Kemampuan “ta’wil” sebagaimana ditegaskan dalam ayat di atas, dibatasi pada konteks “ahadits”, yang di fahami sebagai media “ta’bir mimpi” oleh Nasr Hamid. Ia menyimpulkan bahwa;

Ungkapan ta’wil al-hadits tak lain hanyalah ta’wil terhadap mimpi. Ini terlihat jelas dari penggantian kata ahlam (mimpi) dengan kata hadits. …

Kata hadits dipergunakan untuk pengertian mimpi disebabkan karena juru ta’wil tidak semata-mata men-ta’wil mimpi itu sendiri. Ia men-ta’wil cerita (hadits) yang disampaikan oleh orang bermimpi. Dengan kata lain, bahwa ia melakukan ta’wil atas ungkapan-ungkapan verbal yang dipergunakan oleh orang yang bermimpi untuk memformulasikan gambar-gambar yang dilihat dalam tidurnya. Dengan demikian, ta’wil disini difokuskan pada gambaran-gambaran yang dijelaskan oleh mediator, yaitu hadits. …

Oleh karena itu, dalam cerita Yusuf kita menemukan kata ta’wil dikaitkan dengan kata ahlam, hadits, dan ru’ya. Semuanya memiliki pengertian yang sangat berdekatan.[15]

Diceritakan bahwa;

Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda[16]. berkatalah salah seorang diantara keduanya: “Sesungguhnya Aku bermimpi, bahwa Aku memeras anggur.” dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya Aku bermimpi, bahwa Aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung.” berikanlah kepada kami ta’birnya; Sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi).[17]

Kesimpulan ini kemudian berubah, saat Nasr Hamid menyimpulkan bahwa;

Pengertian ta’wil yang dipergunakan al-Qur’an tidak terbatas pada ahadits yang berhubungan dengan mimpi. Sebab, Yusuf berkata kepada teman-temannya dalam penjara setelah mereka menceritakan perihal mimpi mereka kepadanya:

Yusuf berkata: “Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan Aku Telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya Aku Telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian”.[18]

Pengertian ta’wil dalam konteks ini adalah memberitahukan “kejadian” sebelum terjadi secara factual. Di sini, Yusuf berusaha menegaskan kepada teman-temannya bahwa kemampuan memberi ta’wil yang ia miliki, tidak terbatas pada ta’wil mimpi saja, tetapi lebih dari itu. Ia mampu menceritakan sesuatu yang belum terjadi.[19]

Telepas dari kebingungan Nasr Hamid akan keterkaitan kata ahadits apakah dengan mimpi atau dengan sesuatu yang lain. Penulis ingin menegaskan kembali bahwa kemampuan ta’wil dalam kasus Yusuf dikaitkan dengan “medium” yang disebut dengan ahadits, dan dalam istilah tafsir disebut tafsirah. Pengertian ini juga berlaku pada kemampuan ta’wil yang dimiliki Khidir seorang pria sholeh guru Musa as. Yang dapat menjelaskan sesuatu sebelum terjadi;

Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara Aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan Aku bertujuan merusakkan bahtera itu, Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah Aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.[20]

Pengungkapan kejadian yang belum terjadi itu melalui “horizon” yang tidak lazim, dalam menjelaskan “kejadian-kejadian” sebagai medium ta’wil, disebut dengan ilmu ladunni yang diperuntukkan bagi orang-orang khusus. Keberatan Musa terhadap sikap Khidir pada kajadian-kejadian itu, tidak berasal dari “ketidaktahuan”, tapi justru timbul dari kemampuan ta’wil-nya melalui “horizon” yang berbeda. Dimana keduanya berusaha memahami “hakikat” suatu kejadian, sebab dan asal-usulnya, walaupun dari sudut yang berbeda, yang kemudian menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula. Pemahaman ini sejalan dengan asal kata ta’wil yang berasal dari kata awl, yang berarti kembali pada asalnya.

Bila A menilai bahwa setiap C adalah baik, maka ia akan menyimpulkan bahwa C sebagai medium kajiannya adalah baik. Sebaliknya bila B menilai bahwa setiap C adalah buruk, maka ia akan menyimpulkan bahwa C adalah buruk.

Perbedaan Tafsir dan Ta’wil

Sejauh ini, penulis tidak menemukan perbedaan substansial dari istilah tafsir dan ta’wil. Kecuali kemudian, terdapat pemahaman bahwa proses ta’wil tidak selalu harus melalui medium, berbeda dengan proses tafsir yang harus selalu melalui medium. Dimana pemahaman etimologis dari kata ta’wil yang menunjuk pada pengertian “kembali pada asal” atau “sampai pada tujuan” dinilai sebagai gerak mental-intelektual[21], sebagaimana tergambar pada ayat berikut;

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wil-nya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wil-nya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.[22]

Nasr Hamid menyimpulkan bahwa;

Ayat di atas berbicara mengenai gerak “ittiba'” yaitu gerak mental-intelektual bukan gerak materi, pada yang mutasyabih. Gerak ini berusaha mewujudkan dua sasaran, berdasarkan keterangan sebab (maf’ul liajlihi) kata ibtigha’, yaitu fitnah dan ta’wil.[23]

Kesimpulan ini, ditimbulkan oleh pemahaman secara terminologis, bahwa ta’wil adalah mengalihkan ayat ke makna yang memungkinkannya.[24]

Penulis setuju dengan definisi ini. Hanya saja tidak semua ta’wil dalam al-Qur’an dapat dipahami demikian, karena proses ta’wil dipergunakan untuk ungkapan yang global (mujmal), sebagai ungkapan pada kawasan ambigu (mutashabih), agar menjadi ungkapan yang mu’awwal walau masih pada kawasan yang sama.

Nasr Hamid mengutip dari az-Zarkashi;

ولهذا قال البجلى التفسير يتعلق بالرواية والتأويل يتعلق بالدراية …

Oleh karena itu, al-Bajili mengatakan: tafsir berkaitan dengan riwayat, dan ta’wil berkaitan dengan dirayat.[25]

Kutipan ini dimaksudkan untuk “membedakan” istilah tafsir dan ta’wil mengenai keharusan adanya medium dalam proses keduanya. Ia mungkin dengan sengaja tidak meneruskan pernyataan al-Jabili dalam kutipannya itu[26], yang seharusnya;

… وهما راجعان إلى التلاوة والنظم المعجز الدال على الكلام القديم القائم بذات الرب تعالى.

… dan keduanya berdasarkan pada “bacaan” dan struktur ungkapan sebagai mukjizat yang menunjukkan identitas kalam qadim yang melekat pada Dzat Tuhan.[27]

Jelas pada lanjutan pernyataan al-Jabili tersebut, menyatakan bahwa dalam hal keharusan adanya medium, tidak ada perbedaan antara tafsir dan ta’wil. Karena keduanya berdasarkan “medium” yang sama. Konsep riwayat dan dirayat bukan merupakan medium, tapi lebih kepada cara pandang dan metode analisa yang digunakan untuk menyikapi medium itu. Kedua konsep ini, akan penulis bahas pada bagian “tafsir bil-ma’tsur” sebagai tafsir yang berkaitan riwayat,  dan bagian “tafsir bi ar-ra’y” sebagai ta’wil yang berkaitan dengan dirayat.

Syarat Mufassir Al-Qur’an

Dimensi penting dari proses tafsir adalah bahwa peran Mufassir dalam menghadapi teks dan dalam menemukan maknanya bukan peran mutlak. Proses tafsir harus didasarkan pada pengetahuan tentang beberapa ilmu yang berkaitan dengan teks.

Berangkat dari itu, maka seorang Mufassir al-Qur’an, diharuskan memiliki kemampuan dan kualifikasi dalam pelbagai bidang ilmu secara mendalam. Dintara kualifikasi yang harus dikuasai menurut as-Suyuthi (w 911 H.):

1.                  Ka’edah gramatika bahasa al-Qur’an, termasuk etimologi dan morfologi.

2.                  Retorika bahasa al-Qur’an (al-ma’ani, al-bayan, dan al-badi’)

3.                  Teologi al-Qur’an

4.                  Fiqh dan Usul al-Fiqh

5.                  Asbabu an-nuzul

6.                  Nasikh – mansukh

7.                  Ilmu Qira’ah al-Qur’an.

8.                  Ilmu al-Mauhibah (gifted knowledge).[28]

Dari syarat yang tersebut di atas, sebenarnya ta’wil masih terikat dengan pengetahuan tentang “riwayat-riwayat”, dimana seorang mufassir yang akan menafsirkan al-Qur’an dengan metode ta’wil (dirayat), tetap diharuskan secara mutlak untuk menguasai beberapa ilmu yang berkaitan dengan teks.

Ta’wil harus didasarkan pada pengetahuan mengenai beberapa ilmu yang berkaitan dengan teks, yang termasuk dalam konsep tafsir. Mu’awwil harus mengetahui benar tentang tafsir sedemikian rupa sehingga ia dapat menemukan ta’wil yang diterima terhadap teks, yaitu ta’wil yang tidak menundukkan teks pada kepentingan subjektif, kecendrungan pribadi, dan ideologisnya. [29]


[1] Nasr Hamid, hlm. 275-276

[2] ibid, hlm 285

[3] Ibn mandzur al-Afriki al-Mishri, Lisan al-Arab, juz 5 hlm 55

[4] Nasr Hamid, hlm 281

[5] QS 25 al-Furqan, 33

[6] QS 80 ‘Abasa, 38

[7] Nasr Hamid, hlm 282

[8] QS 62 al-Jumu’ah, 5

[9] QS 80 ‘Abasa, 15-16

[10] Ahmad Hanbal, Musnad, Kitab: Baqi musnad al-anshor, hadits nomor: 23644.

[11] Nasr Hamid, hlm 283

[12] Ar-Raghib menyatakan bahwa kata fasara dan safara sama, sebagaimana kedekatan vocal huruf-hurufnya. Lihat Manna’u al-Qatthan, hlm 324

[13] Nasr Hamid, hlm 283

[14] QS 12 Yusuf, 6

[15] Nasr Hamid, hlm 286

[16] Menurut riwayat, dua orang pemuda itu adalah pelayan-pelayan raja; seorang pelayan yang mengurusi minuman raja dan yang seorang lagi tukang buat roti.

[17] QS 12 Yusuf, 36

[18] QS 12 Yusuf, 37

[19] Nasr hamid, hlm 287

[20] QS 18 al-Kahfi, 78

[21] Nasr Hamid, hlm 294

[22] QS 3 Ali Imran, 7

[23] Nasr Hamid, hlm 292

[24] Lihat az-Zarkashi, juz 2, hlm 148

[25] Lihat az-Zarkashi, juz 2, hlm 150

[26] Nasr Hamid menghilangkan kelanjutan pernyataan itu dan langsung menyambungnya dengan pernyataan yang lain. Lihat Nasr Hamid, hlm 295

[27] Ibid.

[28] as-Suyuthy, hlm 180 – 182

[29] Nasr Hamid, hlm 296

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 65,541 hits

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: