Hati-hati, Pemalsuan Kitab. Bagian 1
Sebagaimana posting yang lalu, tentang bahasa “fatwa” Wahhabi yang sangat tergantung dengan kebijakan politik kerajaan Saudi (read here, with the comment). mungkin itu yang terjadi pada “pemalsuan” sekian Kitab Turats bermanhaj Ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah. Berikut ini adalah beberapa bukuti pemalsuan itu, yang berhasil saya telusuri dari beberapa situs.
Pemalsuan Kitab Tafsir Al-Showi
Nama Kitab : Hasyiyah al-Allamah Al-Showi ‘ala Tafsir Al-Jalalain
Pengarang : Ahmad Ibn Muhammad Al-Showi Al-Maliki (w. 1241)
Pemalsu : Kelompok Wahhabi
Tujuan : Menghilangkan jatidiri Wahhabi sebagai “hijbu as-syaithan”.
Naskah Kitab Asli yang dicetak sebelum tahun 1419 :

ini adalah versi asli cetakan Dar Ihya’ at-Turats al-Arabi sebelum dipalsukan oleh kelompok Wahhabi, pada Juz ke-5 halaman 78:

di halaman tersebut terlihat jelas bahwa menurut Al-Showi: Wahhabi adalah jelmaan dari Kelompok Khawarij yang telah merusak interpretasi atas Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah, lebih jauh dari itu mereka telah menghalalkan darah Kaum dan harta Muslimin, sebagaimana yang tercatat dalam sejarah gelap Wahhabi.
Bandingkan dengan versi palsu cetakan tahun 1420:

cetakan ini adalah edisi palsu, yang dicetak oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyah. (Akhir-akhir ini banyak beredar edisi yang ini, termasuk di Indonesia). Pada ayat yang sama, kelompok Wahabi telah menghilangkan jejak “jatidiri”-nya, coba perhatikan:

pada halaman ini, terlihat jelas pemalsuan itu kan.
www.marifah.net
9 Januari, 2009 pada 10:59 pm
Shobahul khair ya akhi..artikel2 anda semakin hangat dan menarik…semoga sukses selalu .FI AUNILLAH WA AMANIHI
11 Januari, 2009 pada 2:34 am
Amin
22 April, 2009 pada 8:22 am
assalamualaikum…
thanks infony, kalo boleh tahu sebenarnya gimana corak/karakteristik/mungin metodologi dr tafsir showi? makasih.pareeng.
1 Juni, 2009 pada 3:36 pm
Kami bangga sama antum, teruslah berkarya ……
2 November, 2009 pada 10:40 pm
Begini Kang…, emang syusyah bagi orang awam untuk tahu secara detail tentang pemalsuan-pemalsuan, baik penambahan maupun pengurangan terhadap literatur2 kitab kuning. Apalagi yang dihilangkan atau yang diselewengkan hanya sebatas satu kalimat atau satu alinea. Bagi orang yang ga’ begitu jeli pasti ga’ bakal nglegewo. So, sebenernya itu tugas berat bagi para ulama’ dan pemikir-pemikir Muslim untuk selalu mengakaji dan mengulas berbagai karya-karya besar ulama’ kita.
Syukron……
19 November, 2009 pada 5:34 am
setuju sekali