Arsip untuk Buku kategori

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XIX

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , on 3 Januari, 2009 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Tafsir bi ar-Ra’yi

Tafsir bi-ra’yi adalah metodologi bayan al-Qur’an berdasarkan rasionalitas pikiran (ar-ra’yu), dan pengetahuan empirik (ad-dirayah). Tafsir jenis ini mengandalkan kemampuan “ijtihad” seorang mufassir, dan tidak berdasarkan pada kehadiran riwayat-riwayat (ar-riwayat). Disamping aspek itu, kemampuan tata bahasa, retorika, etimologi, konsep yurisprudensi, dan pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan wahyu dan aspek-aspek lainnya menjadi pertimbangan para mufassir.

Kata “ar-ra’yu” yang berarti “kebebasan pemikiran”, cenderung berkonotasi pada rasionalitas ijtihad terhadap bayan al-Qur’an. Ini berarti, al-Qur’an dianggap sebagai teks “fleksibel” yang memberi ruang gerak secara bebas bagi mufassir untuk menentukan dan memberi bayan sesuai dengan “kepentingannya”.  Sehingga perlu adanya syarat-syarat tertentu yang membatasi pengertian Tafsir bi ar-ra’yi terutama dalam aplikasinya. Sebagaimana yang diriwayatkan at-Turmudzi, bahwa;

Barang siapa menafsirkan al-Qur’an dengan tanpa berdasarkan “pengetahuan” (al-ilm), maka neraka adalah tempatnya”.[1]

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XVIII

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , on 3 Januari, 2009 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Tafsir bil Ma’tsur

Tafsir yang dipahami sebagai pemahaman teks melalui “riwayat-riwayat”, dan ta’wil berdasarkan nalar pemikiran. Adalah dualisme metodologi bayan al-Qur’an yang terpisah. Model pertama, disebut dengan tafsir bi al-ma’tsur yang bertujuan mencapai makna melalui sejumlah dalil historis dan kebahasaan, ini berarti pemahaman teks secara objektif. Yakni, pemahaman yang diusahakan seperti apa yang dipahami oleh generasi pertama pada zaman turun dan terbentuknya teks al-Qur’an itu, melalui berbagai gejala kebahasaan dan kandungannya. Sebaliknya pada model kedua pemahaman berdasarkan sikap asli sang mufassir, yang lalu mencoba menemukan sandaran dalam teks al-Qur’an. Sebuah pemahaman yang subjektif, disebut dengan tafsir bi ar-ra’yi.

Para pendukung kecendrungan model pertama disebut ahlussunnah atau salaf as-shalih, yang men-dapatkan pandangan keagungan dan penghargaan, sementara pendukung model kedua disebut filosof, mu’tazilah, syi’ah dan bahkan para sufi, dipandang secara negatif, bahkan sampai pada tingkat pengkafiran dan pembakaran buku-buku. Adalah suatu keniscayaan untuk menunjuk bahwa perbedaan dua kecendrungan ini – pada realitas praktisnya – tidaklah serta merta menjadi semudah seperti yang muncul dalam realitas teoritisnya.[1]

Terlepas dari keniscayaan yang ditulis Nasr Hamid, tafsir bi al-ma’tsur tidak akan pernah terlepas dari kritik, walupun secara historis, diakui kemenangannya atas model kedua.

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XVIII

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , , on 27 Desember, 2008 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Tafsir dan Ta’wil

Nasr Hamid Abu Zayd manganggap bahwa setiap tafsir adalah “ta’wil” yang kemudian dibaginya menjadi dua: pertama ta’wil resmi yang dianggap sebagai “tafsir” yang benar, dan yang kedua ta’wil oposisi yang kemudian disebut “ta’wil” atau paling banter disebut Tafsir bi ar-ra’yi.[1] Ini dikarenakan bahwa sebenarnya istilah ta’wil lebih populer dari pada istilah tafsir, dimana dalam al-Qur’an kata ta’wil muncul sebanyak 17 kali, sementara kata tafsir hanya sekali. Dan barangkali, rahasia dibalik ini bahwa ta’wil adalah konsep yang telah dikenal dalam kebudayaan pra-islam[2]. Ini berarti menurut Abu Zayd, istilah Tafsir bi ar-ra’yi adalah bentuk legitimasi dari kelompok oposisi dari tafsir resmi.

Ada perbedaan di antara ahli bahasa mengenai asal usul etimologis kata tafsir, apakah ia dari fasara atau dari safara. Kata fasara dalam lisan al-arab menunjuk pada pengertian “pengamatan dokter terhadap air”, dan kata tafsirah adalah “urine yang dipergunakan untuk menunjukkan adanya penyakit, dimana para dokter menelitinya berdasarkan warna urine untuk menunjukkan adanya penyakit begi seseorang”.[3] Dari pengertian ini, kita dihadapkan pada dua hal; pertama, materi yang diamati dokter untuk menyingkap adanya penyakit, yaitu tafsirah. Dan kedua, tindakan pengamatan itu sendiri dari pihak dokter. Ini berarti bahwa tafsir, yaitu menemukan penyakit, menuntut adanya materi (objek) dan pengamatan (subjek). Mufassir harus bertindak sebagai dokter, maksudnya, sebagai seseorang yang harus sudah memiliki pengetahuan terhadap penyakit dan gejala-gejalanya agar ia dapat melakukan proses penafsiran dan kemudian menemukan penyakit dari materi tersebut. Dokter sama sekali tidak berangkat dari kekosongan dalam diagnosa penyakit.[4]

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XVII

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , , on 18 Desember, 2008 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Amtsal Al-Qur’an

Arti kata amtsal yang barasal dari kata matsal, mitsl dan matsil sama dengan arti kata syabah, syibh dan syabih[1], yaitu menyerupai. Kata ini secara umum menunjuk pada pengertian kondisi atau cerita yang menakjubkan. Pangertian ini banyak diberlakukan dalam Al-Qur’an, seperti ayat berikut, yang memperkihatkan kondisi dan sifat surga;

(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?.[2]

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XVI

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , , , on 18 Desember, 2008 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Jadal Al-Qur’an

Kata Jadal atau Jidal menunjuk pada pengertian perdebatan, yaitu; diskusi dengan cara saling menyalahkan pendapat lain dan membenarkan pendapat sendiri.[1] Dimana kedua pihak saling mempertahankan pendapat masing-masing.

Al-Qur’an dengan posisinya sebagai petunjuk pada kebenaran yang walaupun seandainya tanpa diperkuat dengan bukti apapun, kebenaran yang disampaikan oleh Al-Qur’an adalah kebenaran hakiki. Namun sebagai teks yang berinteraksi dengan realitas yang plural, Al-Qur’an adalah teks yang essensialnya bersifat informative (kalam khabar), bisa benar bisa juga salah. Doktrinitas keimanan yang mengharuskan kita untuk menilai Al-Qur’an sebagai kebenaran hakiki. Sehingga tidak semua “pembaca” Al-Qur’an menerima begitu saja informasi Al-Qur’an, realitanya ada saja yang membantah, menolak bahkan menyalahkannya. Al-Qur’an sendiri menetapkan sifat jadal itu sebagai “karakter manusiawi”;

Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.[2]

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XV

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , , on 11 Desember, 2008 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Qishashu Al-Qur’an

Kata qashash berasal dari qashsha-yaqushshu yang berarti mengikuti jejak, dalam al-Qur’an sendiri disebutkan kata ini sebagai berikut:

Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.[1]

Qashash adalah kisah, cerita, berita, dan informasi terdahulu, dalam bagian lain dinyatakan:

Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar[2].

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XIV

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , on 11 Desember, 2008 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Qasam Al-Qur’an

Perbedaan kemampuan manusia dalam menangkap isyarat-isyarat hidayah sebagai petunjuk keabenaran, adalah kondisi realitas yang harus disikapi secara bijak oleh teks al-Qur’an. Kondisi pertama disebut “jiwa yang suci” dengan kemampuan menerima segala petunjuk walau hanya berbentuk isyarat sederhana. Dan kondisi kedua, disebut “jiwa yang tertutup awan kebodohan, dan terselubung gelapnya ke-bathil-an”, cenderung tidak dapat menangkap kode isyarat yang sederhana, sehingga perlu untuk disikapi dengan ungkapan-ungkapan yang lebih kuat[1].

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XIII

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , on 10 Desember, 2008 by abdurrahmanbinsaid

Definisi I’jazu Al-Qur’an

Kajian mengenai I’jazu al-Qur’an pada dasarnya adalah kajian tentang karakteristik teks al-Qur’an yang membedakan dan menjadikannya lebih unggul dari teks-teks lain. Teks al-Qur’an dinilai sebagai sebuah “mukjizat” di luar kebiasaan, sama halnya dengan mukjizat yang di miliki para Nabi sebelumnya, seperti menghidupkan orang yang sudah meninggal atau yang lain. Bahkan al-Qur’an adalah “mukjizat tertinggi”.

Mukjizat sendiri secara bahasa adalah menetapkan “ketidakmampuan” kepada orang lain. Seseorang dianggap meng-I’jaz saudaranya, bila ia menetapkan ketidakmampuan saudaranya itu terhadap suatu hal. Dan al-Qur’an meng-I’jaz manusia, dimana ia menetapkan ketidakmampuan manusia untuk membuat sesuatu serupa al-Qur’an.[1]

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XII

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , on 10 Desember, 2008 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Nasikh dan Mansukh

Dua ayat sebagai bekal definisi naskh, ayat pertama;

Ayat mana saja yang kami nasakh-kan, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya[1].

Dan ayat kedua;

Dan apabila kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya[2].

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XI

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , , , on 5 Desember, 2008 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Asbabu an-Nuzul

Subhi ash-Shalih mendefinisikan Asbabu an-Nuzul sebagai;

Sesuatu yang menjadi sebab turun sebuah ayat atau beberapa ayat, berupa kejadian atau pertanyaan.[1]

Pengetahuan tentang Asbabu an-Nuzul menjadi penting karena dapat menyingkap hubungan dialektika antara teks dengan realitas, dimana dalam konsep Asbabu an-Nuzul, turunnya teks dinilai sebagai “respon” atas realitas, baik dengan cara menguatkan ataupun menolak, dan menegaskan hubungan “dialogis” dan “dialektik” antara teks dengan realitas.

Baca selebihnya »