Arsip untuk hadits

Hadits yang bukan Hadits

Posted in Ilmu Hadits, artikel dengan kaitan (tags) , , , on 4 Mei, 2009 by abdurrahmanbinsaid

Secara definitif lughawi, kata Hadits memang dapat menunjuk arti yang cukup luas. Hadits adalah informasi yang disampaikan, dari siapapun, tentang apapun, kapanpun, dimanapun dan dengan tujuan apapun. Hadits merupakan data tekstual dan verbal yang sengaja disampaikan atau tersampaikan tanpa sengaja. Dengan pengertian ini, Hadits sinonim dengan kata Khabar, Atsar dan Naba’, yang berarti informasi, data atau berita.

Ini juga menunjukkan bahwa Hadits atau khabar itu secara Dzati dapat dipertanyakan kebenaran dan kebohongan datanya, artinya dalam Hadits memiliki dualisme dzati, Khabar yang benar dan Khabar yang bohong. Namun tetap saja keduanya adalah Khabar atau Hadits.

Jika melihat beberapa refrensi buku karya para Ahli, tetang Ilmu Hadits, kita akan menemukan beberapa indikasi bahwa pembahasan tentang Hadits itu didasarkan pada definisi umum seperti di atas. Indikasi petama terlihat ketika pembahasan gineral pada seluruh data dan informasi yang berkaitan dengan Wujud Nabi, Tradisinya dan Ajarannya. Artinya, walaupun Ilmu Hadits adalah spesifikasi kajian Agama tetang “Hadits Nabawi”, namiun tetap saja Ulama harus mengikut-sertakan “Hadits yang ternyata bukan Hadits”.

Indikasi Kedua, bahwa motivasi generalisasi pembahasan Hadits itu diakibatkan oleh sejarah perjalanan Hadits itu sendiri yang sarat “kajian”. Sebagaimana kode etik Kajian Agama:

“Undzuru an Man ta’khudun Dinakum” (telitilah dari siapa kamu mendapatkan -ajaran- Agamamu).

bersambung lagi …

Kebenaran yang sebenarnya

Posted in Ilmu Hadits dengan kaitan (tags) , , , on 18 Maret, 2009 by abdurrahmanbinsaid

Didasarkan pada dua hal:
Pertama: Ketika manusia diciptakan sebagai “Khlaifah fi al-Ardh”, maka sebenarnya Allah menciptakan spesies dengan satu program: yaitu bersikap sebagai makhluk ciptaan Tuhan di dunia dan pada akhirnya Tuhan adalah tujuannya.
Dalam segala sikap, prilaku, tindakan, manusia akan selalu berusaha untuk meraih “yang benar” atau kebanaran. Kebenaran menjadi tujuan sikap hidupnya. Setiap manusia waras akan menyadari bahwa kesalahan atau “yang salah” akan membawa sesuatu yang negatif, sekecil apapun kesalahan itu. Kebenaran merupakan prioritas sejauh kemampuan manusia untuk mencapainya.

Baca selebihnya »