Arsip untuk Logika

Nama bagi Ilmu Pengetahuan Dunia

Posted in artikel dengan kaitan (tags) , , , , on 15 Januari, 2009 by abdurrahmanbinsaid

imagesIlmu pengetahuan adalah secercah cahaya Tuhan yang diberikan kepada manusia untuk menjadi “petunjuk” akan sesuatu yang harus dinilahi baik atau buruk. Penilaian itu adalah nilai objektif dari ilmu Tuhan yang kita sebut dengan wahyu.

Sebagaimana yang digambarkan oleh Ibn Khaldun, seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi dalam karyanya yang terkenal Muqaddimah, bahwa:

“On man’s ability to think, which distinguishes human beings from animals and which enables them to obtain their livelihood, to co-operate to this end with their fellow men, and to study the MasterĀ  whom they worship, and the revelations that the Messengers transmitted from Him”.

Yang initinya bahwa kemampuan berfikir manusia sejak lahir adalah untuk membedapakn manusia dengan hewan. dimana manusia dapat mengenal Tuhan dan Risalah yang dibawa oleh utusan-Nya.

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XVI

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , , , on 18 Desember, 2008 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Jadal Al-Qur’an

Kata Jadal atau Jidal menunjuk pada pengertian perdebatan, yaitu; diskusi dengan cara saling menyalahkan pendapat lain dan membenarkan pendapat sendiri.[1] Dimana kedua pihak saling mempertahankan pendapat masing-masing.

Al-Qur’an dengan posisinya sebagai petunjuk pada kebenaran yang walaupun seandainya tanpa diperkuat dengan bukti apapun, kebenaran yang disampaikan oleh Al-Qur’an adalah kebenaran hakiki. Namun sebagai teks yang berinteraksi dengan realitas yang plural, Al-Qur’an adalah teks yang essensialnya bersifat informative (kalam khabar), bisa benar bisa juga salah. Doktrinitas keimanan yang mengharuskan kita untuk menilai Al-Qur’an sebagai kebenaran hakiki. Sehingga tidak semua “pembaca” Al-Qur’an menerima begitu saja informasi Al-Qur’an, realitanya ada saja yang membantah, menolak bahkan menyalahkannya. Al-Qur’an sendiri menetapkan sifat jadal itu sebagai “karakter manusiawi”;

Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.[2]

Baca selebihnya »