Arsip untuk tafsir

Rekonstruksi Metode Bayan

Posted in artikel dengan kaitan (tags) , on 3 Januari, 2009 by abdurrahmanbinsaid

tafsirnyaKehidupan adalah salah satu episode “penciptaan”, dari sekian episode yang sudah ada dalam Ilmu Allah Swt. Kehidupan yang sekarang kita jalani adalah mega sistem dengan keteraturan setiap gerak ruang-waktunya sesuai Taqdir Tuhan.

Episode kehidupan fana di dunia diciptakan sebagai “tes” untuk episode kehidupan berikutnya. Mekanisme tes tentu sangat sportif, Allah Swt. dengan segala kekuasaan-Nya sejak awal kehidupan telah memberikan “pesan-pesan” jelas pada semua peserta tes.

Ketika Allah Swt. berkehendak untuk memberikan petunjuk pesan-Nya, peserta tes harus dapat mengerti bahasa pesan-Nya itu. Teks merupakan “alat” terpilih untuk menyampaikannya, sebagaimana alat  lain dengan istilah serumpun, seperti al-Qolam, sebuah makhluk yang menurut data sebagai “the first being”, dan istilah lauh al-mahfudz, sebuah “buku tulis” sebagai media data base. Keduanya sangat identik dengan istilah “teks”.

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XIX

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , on 3 Januari, 2009 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Tafsir bi ar-Ra’yi

Tafsir bi-ra’yi adalah metodologi bayan al-Qur’an berdasarkan rasionalitas pikiran (ar-ra’yu), dan pengetahuan empirik (ad-dirayah). Tafsir jenis ini mengandalkan kemampuan “ijtihad” seorang mufassir, dan tidak berdasarkan pada kehadiran riwayat-riwayat (ar-riwayat). Disamping aspek itu, kemampuan tata bahasa, retorika, etimologi, konsep yurisprudensi, dan pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan wahyu dan aspek-aspek lainnya menjadi pertimbangan para mufassir.

Kata “ar-ra’yu” yang berarti “kebebasan pemikiran”, cenderung berkonotasi pada rasionalitas ijtihad terhadap bayan al-Qur’an. Ini berarti, al-Qur’an dianggap sebagai teks “fleksibel” yang memberi ruang gerak secara bebas bagi mufassir untuk menentukan dan memberi bayan sesuai dengan “kepentingannya”.  Sehingga perlu adanya syarat-syarat tertentu yang membatasi pengertian Tafsir bi ar-ra’yi terutama dalam aplikasinya. Sebagaimana yang diriwayatkan at-Turmudzi, bahwa;

Barang siapa menafsirkan al-Qur’an dengan tanpa berdasarkan “pengetahuan” (al-ilm), maka neraka adalah tempatnya”.[1]

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XVIII

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , on 3 Januari, 2009 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Tafsir bil Ma’tsur

Tafsir yang dipahami sebagai pemahaman teks melalui “riwayat-riwayat”, dan ta’wil berdasarkan nalar pemikiran. Adalah dualisme metodologi bayan al-Qur’an yang terpisah. Model pertama, disebut dengan tafsir bi al-ma’tsur yang bertujuan mencapai makna melalui sejumlah dalil historis dan kebahasaan, ini berarti pemahaman teks secara objektif. Yakni, pemahaman yang diusahakan seperti apa yang dipahami oleh generasi pertama pada zaman turun dan terbentuknya teks al-Qur’an itu, melalui berbagai gejala kebahasaan dan kandungannya. Sebaliknya pada model kedua pemahaman berdasarkan sikap asli sang mufassir, yang lalu mencoba menemukan sandaran dalam teks al-Qur’an. Sebuah pemahaman yang subjektif, disebut dengan tafsir bi ar-ra’yi.

Para pendukung kecendrungan model pertama disebut ahlussunnah atau salaf as-shalih, yang men-dapatkan pandangan keagungan dan penghargaan, sementara pendukung model kedua disebut filosof, mu’tazilah, syi’ah dan bahkan para sufi, dipandang secara negatif, bahkan sampai pada tingkat pengkafiran dan pembakaran buku-buku. Adalah suatu keniscayaan untuk menunjuk bahwa perbedaan dua kecendrungan ini – pada realitas praktisnya – tidaklah serta merta menjadi semudah seperti yang muncul dalam realitas teoritisnya.[1]

Terlepas dari keniscayaan yang ditulis Nasr Hamid, tafsir bi al-ma’tsur tidak akan pernah terlepas dari kritik, walupun secara historis, diakui kemenangannya atas model kedua.

Baca selebihnya »

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XVIII

Posted in Buku dengan kaitan (tags) , , on 27 Desember, 2008 by abdurrahmanbinsaid

Definisi Tafsir dan Ta’wil

Nasr Hamid Abu Zayd manganggap bahwa setiap tafsir adalah “ta’wil” yang kemudian dibaginya menjadi dua: pertama ta’wil resmi yang dianggap sebagai “tafsir” yang benar, dan yang kedua ta’wil oposisi yang kemudian disebut “ta’wil” atau paling banter disebut Tafsir bi ar-ra’yi.[1] Ini dikarenakan bahwa sebenarnya istilah ta’wil lebih populer dari pada istilah tafsir, dimana dalam al-Qur’an kata ta’wil muncul sebanyak 17 kali, sementara kata tafsir hanya sekali. Dan barangkali, rahasia dibalik ini bahwa ta’wil adalah konsep yang telah dikenal dalam kebudayaan pra-islam[2]. Ini berarti menurut Abu Zayd, istilah Tafsir bi ar-ra’yi adalah bentuk legitimasi dari kelompok oposisi dari tafsir resmi.

Ada perbedaan di antara ahli bahasa mengenai asal usul etimologis kata tafsir, apakah ia dari fasara atau dari safara. Kata fasara dalam lisan al-arab menunjuk pada pengertian “pengamatan dokter terhadap air”, dan kata tafsirah adalah “urine yang dipergunakan untuk menunjukkan adanya penyakit, dimana para dokter menelitinya berdasarkan warna urine untuk menunjukkan adanya penyakit begi seseorang”.[3] Dari pengertian ini, kita dihadapkan pada dua hal; pertama, materi yang diamati dokter untuk menyingkap adanya penyakit, yaitu tafsirah. Dan kedua, tindakan pengamatan itu sendiri dari pihak dokter. Ini berarti bahwa tafsir, yaitu menemukan penyakit, menuntut adanya materi (objek) dan pengamatan (subjek). Mufassir harus bertindak sebagai dokter, maksudnya, sebagai seseorang yang harus sudah memiliki pengetahuan terhadap penyakit dan gejala-gejalanya agar ia dapat melakukan proses penafsiran dan kemudian menemukan penyakit dari materi tersebut. Dokter sama sekali tidak berangkat dari kekosongan dalam diagnosa penyakit.[4]

Baca selebihnya »