//
you're reading...
Ilmu Qur'an

Korelasi Nask dengan Asbabu an-Nuzul

A. Eksistensi Fenomena Naskh

Dalam materi Sejarah Kodifikasi Al-Qur’an yang pernah didiskusikan dalam Mata Kuliah ini, pernah disinggung tentang autensitas Mushhaf Utsmani yang penuh background perdebatan sejarah yang ruwet, khususnya tentang spekulasi adanya ayat-ayat yang hilang atau tidak terjamah oleh Tim Perumus Mushhaf saat itu. Aspek ini menjadi salah satu “batu sandung” untuk eksistensi Naskh. Selain bila kemudian disepakati bahwa Mushhaf Utsmani adalah the legitimated version. Konsekuensi yang ditimbulkan hilangnya beberapa ayat yang mansukh at-tilawah baik bersamaan dengan hukumnya atau tidak, bila dilihat dari eternalitas (ke-azali-an) eksistensi tulisan Teks di Lauh Mahfudz juga menjadi pertanyaan besar, dimana As-Suyuthi telah banyak meriwayatkan ayat-ayat yang lenyap itu dalam Bukunya al-Ithqan (lihat al-Ithqan, Juz II, hlm. 25-26)

Ironisnya masalah ini terlewatkan dari kajian Ulama’, atau mungkin mereka enggan mendiskusikannya karena berdampak pada konsekuensi konsepsi eternalitas teks yang diyakini sebagai konsep umum, menjadi totally dissolved. Hal ini tentunya memerlukan diskusi lebih lanjut yang mungkin dapat dimulai dari analisa “kebenaran” riwayat-riwayat yang diungkap As-Suyuthi. Seng jelas fenomena Naskh bukan “khayalan” para Ahli Al-Qur’an belaka untuk meredam difference of the text.

Dalam Al-Qur’an sendiri sebenarnya ada tiga ayat yang mengindikasikan sebagai bukti adanya Naskh, yaitu: 2:106, 13:39, 16:101. Terdapat juga 18 ayat yang mansukh al-hukum duna al-tilawah (2:180, 2:184, 2:219, 2:240, 2:284, 4:8, 4:15, 4:16, 4:33, 4:43, 4:90, 4:91, 5:13, 5:42, 8:65, 8:72, 33:52, 58:12), dan 13 ayat yang menjadi Nasikh (2:187, 2:191, 2:234, 2:286, 5:90, 8:66, 8:75, 9:5, 22:39, 33:6, 33:51, 58:13, 66:9).

B. Autensitas Konsep Asbab an-Nuzul

Asbab an-nuzul menjadi penting karena ia menjadi petunjuk dalam menyingkap hubungan dialektika antara teks dengan realitas. Ini sangat membantu terutama bagi mereka yang bergelut dalam kajian hukum, hal ini karena pengetahuan tentang asbab an-nuzul mengantarkan mereka (Ulama’) kepada pemahaman mengenai hikmah at-tasyri’ khususnya berkaitan dengan ayat-ayat hukum, ini dapat membantu mereka dalam mentranformasikan hukum dari realitas partikular (khusus as-sabab) dan mengeneralisasikannya ke realita yang menyerupainya melalui analogi (qiyas). Kajian seperti inilah yang membutuhkan keahlian khusus bagi mufassir untuk memahami secara benar karakteristik ujaran bahasa dalam teks yang mampu melampaui realitas particular (umumu al-lafadz), dan menangkap adanya “tanda-tanda” dibalik teks yang mengikat umumu al-lafadz pada khusus as-sabab lewat proses analogi.

C. Korelasi Keduanya

Selain pertimbangan umum al-lafadz lewat proses analogi, Asbab an-nuzul juga menunjukkan pada pertimbangan khusus as-sabab, karena tidak semua teks dapat dihadapi dengan pertimbangan “keumuman teks dan mengabaikan kekhususan sebab”. Dan bila ini dipaksakan, maka akan berakibat fatal pada pengakuan umum tentang hikmah at-tasyri’.

Di sisi inilah, korelasi yang sebenarnya antara fenomena Naskh dan konsep Asbab an-nuzul, sebagi perwujudan dari dialektika antara teks dan realita. Dimana ayat-ayat yang telah di-mansukh hukumnya tidak dapat lagi dipakai keumuman ungkapannya untuk kemudian digeneralisasikan dengan realita yang serupa dengannya. Dengan kata lain Ayat yang mansukh al-hukum itu tidak lagi “berfungsi” kecuali sebagai informasi Al-Qur’an tentang The history of the Law.

Sebagai contoh, misalnya urutan-urutan fase penetapan hukum keharaman khamr. Dimana terdapat tiga ayat dalam Al-Qur’an yang menceritakan “kehaluasan” hukum haramnya, yaitu: 2:219, 4:43, 5:90-91. di sinilah peranan penting Asbab an-nuzul, dimana untuk menentukan ayat yang mansukh harus diketahui dengan jelas urutan turunnya ayat-ayat tersebut (lihat al-Ithqan, juz: I, hlm. 27).

Dengan demikian, penetapan hukum keharaman tersebut tidat dapat dipaksakan secara gegabah dengan pijakan umum al-lafadz saja, karena apabila itu tetap diterapkan, maka tidak menutup kemungkinan ada pihak yang dengan sengaja memegang ayat pertama atau kedua untuk suatu kepentingan, dan ini akan menhancurkan tujuan yang sebenarnya dari diturunkannya hukum pengharaman tersebut (hikmah at-tasyri’).

Memang tidak dapat dipungkiri lagi adanya dualisme umumu al-lafadz dan khusus as-sabab dalam menyikapi teks yang ada dalam Al-Qur’an. Dan keadaan seperti ini akan menuntut suatu “kemampuan” yang luar biasa bagi seorang Penetap hukum (Mujtahid), ia haruslah seorang yang berilmu tinggi, mempunyai daya logika, daya tangkap, penalaran, ketelitian, kesabaran, kebijakan, dan sa’ teruse.

Allahumma ij’alna mitslahum, Amin. Wallahu a’lam bis sh-shawab.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: