//
you're reading...
Uncategorized

Kurikulum Dasar Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin

Umum

Dasar awal terpenting dalam meniti kehidupan fana di dunia adalah memiliki suatu kemampuan untuk mengetahui dan mengerti essensi eksis kehidupan itu sendiri, sehingga siapapun yang diberikan kesempatan untuk menghirupnya harus dapat menyadari makna dibalik misteri “besar” keberadaannya saat ini. Apa, dimana, kemana, untuk apa, dari mana?. Semuanya memerlukan jawaban yang jelas dan dapat dimengerti, karena kehidupan tanpanya akan menjadi muram, gelap dan tidak dapat dimengerti.

Inilah yang kemudian menjadi “modal dasar terpenting” dalam membangun kehidupan, baik personal maupun komulatif. Tidak ada yang dapat melawan sengatan-sengatan listrik dalam otaknya yang kemudian mengsinergikan semua kemampuan indranya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi padanya, suatu kemampuan dasar yang dengan rahmat Allah, telah dimiliki manusia sadar dari sejak keberadaannya dalam dunia ini. Kesadaran inilah yang mungkin kemudian mendorong al-Ghazali mengawali karya besarnya Ihya’ Ulumuddin dengan pembahasan analisis manajement pendidikan.

Analisa pertama

Iqra’, adalah gambaran paling jelas tentang pentingnya mengasah kembali kemampuan itu. Wahyu pertama yang turun di masa kegelapan jahiliyyah itulah yang kemudian membangun manusia manjadi manusia. Ayat ini yang kemudian banyak diimpretasikan oleh as-Syari’ dalam berbagai bentuk.

Al-Ghazali hanya mampu mengungkapkan sebagian kecil dari bentuk-bentuk itu, namun bila dicermati, bagian kecil yang kemudian menjadi bahan analisanya itu harus dituangkan dalam tiga sub judul; fadhilah al-Ilmi, fadhilah at-Ta’allum dan fadhilah at-Ta’lim.

Analisa kedua

Dengan modal pertama yang berupa bahan dasar tentang pentingnya Ilmu, belajar dan mengamalkan, yang diambil dari dua sumber tasyri’ utama: Al-Qur’an dan Hadits. Akan dengan mudah muncul pertanyaan besar; Ilmu apa yang wajib ditekuni? Ilmu Agama? Apa itu? Yang mana Ilmu Agama dan yang mana yang bukan? harus ada pembatasan dari kata Ilmu yang begitu universal cakupannya. Namun pembatasan itu juga harus realistis tanpa melukai syara’.

Al-Ghazali, yang sudah malang melintang dalam lautan Ilmu, menekuni berbagai bidang Ilmu, jenis dan macamnya sudah ada dikepalanya saat menulis “Kitab” ini. Sastra lughah, Teologi, Hukum, Filsafat dan terakhir Tasawwuf, masing-masing bidang telah ditekuninya dari A sampai Z, tanpa berhenti sampai diakui sebagai Ahlinya. Kesimpulannya ia adalah seorang Teolog, Faqih, Filosof sekaligus Sufi yang kemudian dengan tegas memberikan pembatasan yang cukup “radikal” namun realistis tentang Ilmu.

Yaitu; tidak semua Ilmu –menurutnya- wajib dipelajari, bahkan tidak semuanya boleh ditekuni, ada beberapa disiplin Ilmu yang harus dibatasi untuk mempelajarinya, bahkan tidak boleh sama sekali. Ini berarti Ilmu terbagi menjadi dua kelompok besar; Ilmu baik (mahmudah) dan Ilmu tidak baik (mazmumah). Kelompok pertama; Ilmu baik, adalah Ilmu yang harus dipelajari (fardhu A’in), atau baik untuk dipelajari atau hanya boleh untuk dipelajari (fardhu kifayah). Tingkatan seperti ini yang kemudian dipaparkan Al-Ghazali, yang kesemuanya tergantung pada kebutuhan setiap person.

Kebutuhan pokok pertama dan utama setiap yang hidup adalah berkeyakinan atau berakidah, maka Ilmu pertama yang harus dipelajari adalah mempelajari dua kalimat Syahadah, mengerti essensinya secara utuh walaupun tanpa mengetahui bukti atau dalilnya. Ilmu ini akan membawa manusia pada mengenal siapa dirinya, dari mana, untuk apa dan akan kemana?. Meyakini diri sebagai makhluk yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta yang Satu, diciptakan untuk mengemban Amanat, yang dengannya akan membawa kebahagiaan atau kesengsaraan baginya, dan pasti kemudian ia akan kembali pada-Nya.

Setelah meyakini dan menyadari hal itu, maka kebutuhan pokok kedua adalah mengetahui apa sebenarnya Amanat yang sedang diembannya? Amanat itu adalah menjalankan Risalah. Yang isinya mencakup segala “Aturan” berkehidupan, individu atau kamunitas. Mengatur pelaksanaan segala “hak” berkehidupan, hak Tuhannya dan atau sesamanya.

Setelah kedua kebutuhan pokok terpenuhi, maka kebutuhan yang lainnya hanya sebatas boleh untuk dipelajari, bila ada keyakinan ada orang lain yang telah memenuhinya, dan tidak terlarang untuk mempelajarinya dimata syara’. Artinya; Ilmu yang terlarang (mazmumah) adalah Ilmu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebutuhan didalamnya untuk kemudian harus atau perlu dipelajari, atau bahkan merugikan, atau hanya karena adanya larangan semata dari Syara’.

Analisa ketiga

Dari paparan diatas, maka untuk sementara dapat disimpulkan bahwa kurikulum yang disusun Al-Ghazali tidak berbeda dengan “kurikulum” yang dibangun Nabi Muhammad Saw. dalam penyebaran Risalah. Mulai dari penanaman Aqidah pada awal-awal Bi’tsah, sampai pada era penyusunan hukum, dimana penetapan hukum selalu melalui adanya kebutuhan-kebutuhan baru (baca: sebab).

Urutan-urutan globalnya sebagai berikut:

  1. Teologi
  2. Hukum wajib dan haram
  3. Hukum lainnya
  4. Akhlak dan Tasawwuf
  5. Pengetahuan

Selain Teologi, tentunya harus dipelajari secara gradual menurut kebutuhan setiap person, hukum mana yang harus segera dilaksanakan dan mana yang berikutnya. Tidak semua hukum wajib kemudian harus dipelajari secara langsung. Al-Ghazali memberikan contoh; kewajiban zakat, akan menjadi wajib untuk dipelajari, bila telah berkewajiban untuk melaksanakan kewajiban itu. Artinya; hukum itu menjadi wajib untuk dipelajari, tergantung pada posisi setiap person akan kebutuhan atas pengetahuannya mengenai suatu hukum untuk kemudian dapat dilaksanakan. Ini berarti setiap spesifikasi suatu bidang ilmu akan menjadi terdepan dalam urutan Kurikulum Al-Ghazali, disesuaikan dengan mendesaknya kebutuhan akan Ilmu itu, yang muncul atas satu person tertentu. Wa-Llahu a’lam.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: