//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab II

Definisi Wahyu

Al-Manawi dalam at-Ta’arif mendefinisikan kata al-Wahyu sebagai “pemberian pengertian (makna) kedalam hati dengan metode (penyampaian) secara rahasia”[1]. Ia juga menegaskan bahwa penggunaan istilah wahyu hanya untuk komunikasi antara seorang Nabi dengan Allah Swt. sementara yang lain menyatakan bahwa kata wahyu berarti: “isyarat (code) yang cepat”.

Ash-Shiddiqiey menyimpulkan berbagai interpretasi yang berkembang dari kata al-Wahyu dalam Al-Qur’an, sebagai; “sesuatu yang dibisikkan kedalam sukma, dengan isyarat cepat dan dirahasiakan”[2].

Dalam Al-Qur’an, kata al-Wahyu dan kata yang seakar dengannya disebutkan sebanyak 78 kali, 1 kali disebutkan berbentuk kata benda secara definited, pada;

Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan”[3]

dan disebutkan secara indefinited sebanyak 6 kali, antara lain pada;

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).[4]

Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.[5]

Klasifikasi Nuzul

Yang penulis maksud dalam kajian ini adalah Nuzul secara umum yang menunjuk pada arti pemberian pengertian, pengetahuan dan atau keahlian, dimana ash-Shiddiqiey menyebutkan tiga bentuk[6]:

  1. Wahyu itu sendiri
  2. Ilham, yaitu pemberian pengertian dengan menggunakan kode khusus yang nonvokal[7]. Pengertian ini menunjukkan bahwa ilham bukan merupakan komunikasi, karena menurut ash-Shiddiqiey sendiri, ilham didapat dengan tanpa sadar, seperti rasa lapar, haus, sakit dan bahkan ilham yang didapat oleh lebah.
  3. Ta’lim, yaitu proses transformasi pengetahuan dengan metodologi pengajaran, pendidikan dan penelitian. Walaupun bersifat komunikatif, Ta’lim tidak dapat disamakan dengan konsep wahyu, karena sulit untuk dilakukan secara rahasia.

Dari ketiga bentuk di atas, dapat disimpulkan bahwa ketiganya adalah pengertian Nuzul secara umum, dan bahwa nuzul Al-Qur’an adalah proses wahyu, yang kemudian menjadi salah satu sebutan bagi Al-Qur’an, pada QS. 21:45.

Metode Nuzul Al-Qur’an

Dalam QS. Asy-Syura ayat 51 yang sebelumnya telah penulis sebutkan dan perlu penulis cantumkan kembali disini, agar lebih mudah pengertian essensialnya;

Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.[8]

Ayat ini memuat tiga metode nuzul Al-Qur’an;

  1. Wahyu diturunkan dengan tanpa perantara dalam tempo yang sangat cepat dan dengan menggunakan kode nonvokal, inilah menurut Nasr Hamid yang termasuk konsep ilham[9]
  2. Wahyu diturunkan dengan komunikasi “dibalik tabir”, seperti dalam kasus Nabi Musa as.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”[10]

Jelas dalam ayat ini terjadi komunikasi langsung antara Nabi Musa as. Dengan Allah Swt. Yang digambarkan dengan penggunaan kata kerja “barkata (qala)” dari kedua pihak.

  1. Wahyu diturunkan dengan melalui utusan Malaikat yang “mewahyukan” kepada Rasulullah saw.

dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.[11]

metode ketiga adalah mekanisme Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah saw. Bila digambarkan skema metode ini adalah sebagai berikut:

Tahapan Nuzul Al-Qur’an

Selain tiga metode Nuzul Al-Qur’an dengan karakteristik masing-masing, Al-Qur’an ternyata diturunkan dalam tiga tahap[12]:

  1. Pertama kali Al-Qur’an diturunkan ke suatu tempat disebut al-Lauh al-Mahfudz,

Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.[13]

  1. Tahap kedua, Al-Qur’an diturunkan ke suatu tempat di langit bumi disebut baitu al-‘Izzah,

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.[14]

  1. Tahap ketiga, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada Rasulullah saw melalui perantra “pembawa wahyu” (Amin al-Wahyi) Jibril as. Selama  kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari (17 Ramadhan 13 SH / 6 agustus 610 M s/d 9 Dzulhijjah 10 H / Maret 632 M).

dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.[15]

Az-Zarqani menyebutkan tiga teori tentang cara Jibril as mendapatkan wahyu yang kemudian disampaikan kepada Rasulullah saw; pertama:       Jibril as. Langsung mengambil sendiri wahyu dari lauh al-mahfudz. Kedua: Jibril mendapatkan wahyu dari “penjaga” (al-muhafadzah) selama 20 malam yang kemudian disampaikan kepada Rasulullah saw selama 20 tahun. Ketiga: Interpretasi al-Baihaqi terhadap QS. 97:1 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan (lailatu al-Qadr)”. Bahwa Allah Swt. “memper-dengarkan” wahyu kepada Jibril as. Dan memberinya pengertian tentang wahyu itu, kemudian Jibril menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. [16]


[1] At-Ta’arif, juz 1, hlm 721

[2] as-Shiddieqy, hlm 12

[3] QS. 21 al-Anbiya’, 45

[4] QS. 53 an-Njm, 3-4

[5] QS. 42 asy-Syu’ara, 51

[6] Ash-Shiddiqiey, hlm 16-18

[7] Lihat Nasr Hamid; Tekstualitas Al-Qur’an, hlm 47

[8] QS. Asy-Syura. 51

[9] Nasir Hamid, hlm 42

[10] QS. 7 Al-A’raf, 143

[11] QS. 26 asy-Syu’ara, 193-194

[12] Lihat …….., Manahil al-‘Irfan, juz 1, hlm 32-35

[13] QS. 85 al-Buruj, 21-22

[14] QS. 97 al-Qadr, 1. ayat ini dan QS 44:3, 2:185 mengisayratkan bahwa dalam tahap ini Al-Qur’an diturunkan sekaligus dalam satu waktu, yaitu malam mubarakah disebut lailatu al-Qadr di bulan Ramadlan.

[15] QS. 26. asy-Syu’ara, 193-194

[16] Manahil al-‘Irfan, juz 1, hlm 35

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: