//
you're reading...
Ilmu Qur'an

Wahyu al-Qur’an (bagian 1)

Pada buku “Mangkaji Ilmu Al-Qur’an” Bab II, penulis tidak banyak menyinggung tentang wahyu. Dalam buku itu, penulis hanya berusaha menegaskan bahwa al-Qur’an sengaja diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui proses yang disebut “wahyu”, sebagaimana kitab-kitab yang lain.


إنا أوحينا إليك كما أوحينا إلى نوح والنبيين من بعده، وأوحينا إلى إبراهيم وإسماعيل وإسحاق ويعقوب والأسباط وعيسى وأيوب ويونس وهارون وسليمان وآتينا داود زبورا، ورسلا قد قصصناهم عليك من قبل ورسلا لم نقصصهم عليك وكلم الله موسى تكليما
Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (hai Muhammad) sebagaimana telah kami wahyukan kepada Nuh dan Para Nabi setelahnya. Dan Kami telah wahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, (yaitu) Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kepada Daud Kami berikan Zabur. (Kami telah pula mengutus) Rasul-rasul yang telah Kami kisahkan kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul (lainnya) yang tidak Kami kisahkan kepadamu. Dan (ketahuilah) Allah telah berbicara langsung dengan Musa (an-Nisa’, 163-164)
Ayat ini, menegaskan bahwa apa yang diturunkan kapada Nabi Muhammad Saw melalui proses yang sama dengan apa yang turun kepada Nabi dan Rasul yang lain. Teks meredaksikan kata aktif dari wahyu, yaitu “awha” (mewahyukan), betuk kata ini menunjuk pada pengertian sebuah proses, dan hanya dengan proses ini Allah menurunkan Kalam-Nya.
قل إنما أنذركم بالوحي
Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu” (al-Anbiya’, 45)
Dalam ayat lain:
وما كان لبشر أن يكلمه الله إلا وحيا أو من وراء حجاب أو يرسل رسولا فيوحي بإذنه ما يشاء إنه علي حكيم
Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana (asy-Syura, 51)
Ayat ini, menjelaskan proses yang disebut “wahyu” itu. Pertama, Allah menyampaikan kalam-Nya dengan tanpa perantara, atau kedua, dari dengan komunikasi “dari balik tabir” sebagaimana dalam kasus intraksi-komunikastif antara Allah dan Musa, atau ketiga, dengan keikut-sertaan “pambawa wahyu” yang kemudian menyampaikan kalam-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.
Pada hipotesa-definitif, wahyu sebagai proses nuzul al-Qur’an disimpulkan Ulama sebagai proses yang ketiga.
وإنه لتنزيل رب العالمين، نزل به روح الأمين، على قلبك لتكون من المنذرين، بلسان عربي مبين
Dan sesugguhnya al-Qur’an itu bernar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh malaikat jibril , kedalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi salah satu di antara mereka yang bertugas memberi peringatan, (diturunkan) dengan bahasa arab yang jelas (asy-Syu’ara, 192-194)
Partisipasi ruh al-amin dalam proses nuzul al-Qur’an adalah implementasi dari kehendak Allah yang menyatakan “awhayna” dengan menggunakan kata ganti jama’ “na” (Kami), inilah mayoritas pengertian kata ganti jama’ yang menunjuk pada Allah dalam redaksi al-Qur’an.
Mengenai ketiga proses yang disebut di atas, menurut Subhi Shalih, ketiga-tiganya adalah proses wahyu. Bentuk pertama adalah dengan cara menanamkan pengertian dalam hati. Proses ini disebut “ilham” dalam bahasa Nasr Hamid, atau “ilham ftriyah” menurut istilah Subhi Shalih. Sebagaimana wahyu Allah yang disampaikan kepada Ibu kandung Musa.
أوحينا إلى أم موسى أن أرضعيه
Dan Kami ilhamkan kepada Ibu Musa untuk menyusuinya (al-Qashash, 7)
Atau insting-hewani yang diberikan Allah kepada lebah
وأوحى ربك الى النحل أن اتخذي من الجبال بيوتا ومن الشجر ومما يعرشون
Dan Tuhanmu telah mengilhamkan kepada lebah; “buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon dan di rumah-rumah yang dibangun manusia” (an-Nahl, 68)
Sebagai hipotesa awal penulis dalam posting kali ini, bahwa dalam dua contoh ayat di atas, entry wahyu menunjuk pada pengertian ilham ketika disampaikan kepada obyek selain Nabi, Rasul atau Malaikat, atau tidak dimaksudkan untuk membentuknya sebagai Kitab Allah. sebagaimana ditunjukkan dalam ayat berikut, ketika wahyu disampaikan oleh selain Allah;
فخرج على قومه من المحراب فأوحى اليهم أن سبحوا بكرة وعشيا
Kemudian ia (Nabi Zakaria) keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kalian bertasbih pagi dan sore (Maryam, 11)
Kata wahyu menunjuk pada pengertian “isyarat”, karena sebelumnya Zakariya telah diperintahkan untuk tidak berbicara selama tiga hari, sebagai tanda realisasi janji Allah untuk memberinya seorang keturunan. Bandingkan pula dengan pengertian kata wahyu, ketika disampaikan oleh syetan, pada ayat berikut;
وإن الشياطين ليوحون الى أوليائهم ليجادلوكم
Sesungguhnya syetan-syetan itu membisikkan kepada kawan-kawannya supaya mereka membantah kalian (al-An’am, 121)
Dari analisa ini, mungkin dapat disimpulkan bahwa, kata wahyu tidak selalu berarti “wahyu”, tapi perlu analisis-interaktif hubungan antara kata ini dengan  subyek dan obyeknya. Namun dalam kasus proses tranformasi hikmah dari Allah kepada Rasul pilihannya, penulis kira tidak dapat dan jangan sekali-kali disamakan dengan pengertian-pengertian di atas. Lalu bagaimana sebenarnya bentuk dan aplikasi wahyu menurut bentuk yang pertama ketika disampaikan Allah kepada Rasul-Nya? Simak post “Wahyu al-Qur’an” (bagian 2) yang akan datang!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: