//
you're reading...
Ilmu Hadits

Puasa bukan Tirakat?

Dalam beberapa kasus, puasa sering identik atau tepatnya disamakan dengan “tirakat”, dan tirakat identik dengan riyadlah badaniyah, mutih, poso, topo atau yang lain dalam bahasa jawa. Istilah tirakat mungkin berakar dari kata “taraka” dalam bahasa arab, yang menunjuk pengertian meninggalkan, maksudnya meninggalkan keduniaan dunia. Tirakat itu adalah berlapar-lapar ria, berhaus-haus ria, dan bersusah-susah ria, yang semuanya bertujuan untuk melatih tubuh, jasad atau badan agar kebal dengan keadaan lapar, haus atau susah sengsara.

Memang dalam beberapa kasus, tirakat bertujuan lebih jauh dari riyadlah badaniyah. Menurut si pelaku, tirakat justru bertujuan riyadlah nafsiyah, sama dengan puasa. Ketika seseorang berpuasa, maka sesungguhnya ia telah bertirakat, meninggalkan segala yang membatalkan puasa dan pahala puasa. Puasa tidak hanya imsak dari makan, minum dan bersetubuh, tapi juga meninggalkan maksiat indra agar tidak membatalkan pahala puasa. Puasa tidak hanya sekedar berlapar-lapar ria atau berhaus-haus ria, namun hal itu untuk mengingatkan akan keadaan si miskin dan si fakir yang kelaparan sepanjang tahun. Puasa tidak hanya bersusah-susah ria, namun lebih dari itu, puasa adalah ajang latihan untuk mensucikan hati dan menghantarkan pada ketakwaan hati. Jadi puasa adalah riyadlah nafsiyah, sama dengan tirakat.

Nah, bagaimana sebenarnya al-Qur’an dan Hadits mengajarkan puasa dalam Islam? Apakah sama dengan tirakat? Apakah kesimpulan puasa sama dengan tirakat adalah hipotesis berdasarkan kajian atau tidak? Inilah polemik yang perlu kita bahas bersama.

Melalui beberapa analisis, mungkin akan membawa kita pada diskusi yang lebih mengarah. Analisa pertama, puasa adalah latihan.

ياآيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون، أياما معدودات

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu puasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, yaitu pada hari-hari yang ditentukan.

Puasa adalah kewajiban bagi kita orang-orang yang percaya dan beriman yang wajib dilaksanakan pada hari-hari tertentu di bulan ramadhan yang di bulan ini diturunkan al-Qur’an.

شهر رمضان الذى أنزل فيه القرآن

Jadi puasa itu wajib hanya di satu bulan, bulan puasa, tidak selamanya, tidak satu tahun penuh, bahkan ada beberapa hari dimana puasa menjadi haram, sepertia hari lebaran. Fenomena apa ini?

Empat entry poin dalam ayat itu, pertama, puasa yang wajib, kedua, kewajiban puasa di bulan Ramadhan, ketiga, puasa tradisi agama sejak sebelum Nabi Muhammad Saw. dan keempat, tujuan puasa agar kita bertaqwa. Bila kita gabungkan, maka yang terlihat adalah bentuk tradisi latihan batiniyah atau riyadlah nafsiyah.

Puasa adalah imsak secara etimologi, imsak dari segala yang membatalkan puasa. Kegiatan imsak ini tidak harus dilakukan seorang mukmin sepanjang hidupnya, namun tertentu pada waktu yang ditentukan. Artinya, pada masa normal, seorang mukmin tidak diharuskan melakukan kegiatan imsak. Kegiatan imsak yang harus dilakukannya pada waktu tertentu itu, adalah sebagai “latihan” untuk menghadapi masa-masa normal berikutnya. Dan ketika bekal hidup terbaik adalah taqwa, maka taqwa adalah tujuan yang akan dicapai oleh orang yang melakukan imsak.

Jika memang puasa adalah latihan atau riyadlah, maka puasa adalah tirakat. Karena seorang atlit angkat besi pada masa latihan, ia akan bersusah-susah ria dalam latihannya agar dapat menunjukkan kemampuannya pada saat perlombaan. Latihan si atlit harus lebih berat dari beban yang akan dihadapinya disaat lomba berlangsung, bila si atlit mengikuti kejuaraan pada nomor 70 kg maka pada latihan ia harus mampu mengangkat beban 80 kg, dengan pertimbangan, bahwa si atlit pada saat perlombaan, tidak hanya menghadapi beban besi yang akan ia angkat, namun juga beban mental di hadapan para penonton dan juri.

Namun, berbeda dengan tirakat, puasa ternyata mempunyai sisi lain. Rasul pernah mendeskripsikan puasa sebagai aktifitas yang menyehatkan. Deskripsi sehat tentu kontras dengan susah yang ada dalam tirakat, kecuali kalau sehat yang dimaksudkan oleh Nabi adalah tujuan dari puasa itu, sebagaimana slogan “berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian”. Pada saat seseorang berpuasa, tentu ia susah, namun ia akan mendapatkan kesehatan setelah ia merampungkan pauasanya sesuai ketentuan. Sepintas, menurut deskripsi ini, puasa adalah riyadlah badaniyah, sama dengan tirakat.

Bingung?, menurut anda tulisan ini berputar-putar?, sebenarnya sama atau tidak, puasa dengan tirakat? Pembahasan menjadi ruwet karena dua kesalahan; pertama, analisa mengambang dari penulis tentang tirakat, apakah ia riyadlah nafsiyah atau sebatas badaniyah? Dan kedua, dualisme tujuan dari puasa, di satu sisi ia riyadlah nafsiyah dan di sisi lain ia sebatas riyadlah badaniyah.

Sebenarnya, rumusan dua kesalahan inilah yang menampakkan gambaran dari posisi tirakat terhadap puasa, yaitu; hubungan umum-khusus. Tirakat adalah kegiatan imsak secara umum dengan bentuk, pola yang beragam sesuai dengan metodologi si pelaku dalam rangka mencapai tujuan tirakatnya. Sedangkan puasa adalah bentuk imsak yang khusus dengan bentuk, pola dan syarat-syarat yang tertentu dalam syari’at islam. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa setiap puasa adalah tirakat, namun tidak setiap tirakat adalah puasa. Namun menurut rumusan di atas, tidak sesederhana ini, karena bentuk riyadlah dari tirakat tidak sama dengan puasa, baik badaniyah ataupun nafsiyah-nya, karena tujuan lahiriyah tirakat bersifat umum pula daripada tujuan lahiriyah puasa, demikian juga tujuan batiniyahnya.

Analisa kedua; pada klasifikasi puasa. Dalam sebuah riwayat, dilaporkan bahwa Nabi membagi puasa pada tiga kelas; pertama, puasa orang awam, dimana puasa dilakukan hanya untuk menggugurkan kewajiban, seseorang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apapun dari aktifitas puasanya, kecuali lapar dan haus. Kedua, puasa golongan khusus, yaitu puasa yang dilaksanakan dengan dua tujuan sekaligus, lahiriyah dan batiniyah. Dan ketiga, puasa lebih khusus dari golongan khusus, yaitu puasa yang dilakukan tidak dengan tujuan apapun, kecuali lillahi ta’ala.

Dari laporan ini, kesamaan puasa dengan tirakat ada pada kelas pertama, jika tirakat ditujukan hanya sekedar untuk mencapai tujuan lahiriyah saja, yaitu puasa orang awam. Dan ada pada kelas kedua, jika memang tirakat dimaksudkan untuk mencapai tujuan batiniyah yang sama dengan puasa. Namun tirakat tidak dapat disamakan dengan puasa pada kelas ketiga, karena tirakat, walau bagaimana, adalah kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan “tertentu”, selain mungkin lillahi ta’ala.

Klasifikasi puasa pada kelas-kelas itu dimaksudkan oleh Nabi Saw untuk mengakomodir secara hukum syar’i keafsahan setiap kelas puasa. Artinya puasa kelas pertama yang hanya bertujuan menggugurkan kewajiban dapat dinilai sah dan legal secara syara’. Namun sesungguhnya, setiap muslim seyogyanya mengejar puasa kelas ketiga, dimana “puasa sama sekali bukan tirakat”.

Wallahu a’lam bisshawab.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: