//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu al-Qur’an: Bab III

Definisi Kodifikasi Al-Qur’an

Bila dalam kajian ini yang penulis maksudkan adalah kompilasi Al-Qur’an sejak priode Rasulullah saw sampai priode Utsman ra. Maka masing-masing priode yang penulis maksudkan mempunyai karakteristik tersendiri sesuai metode dan motif adanya usaha kodifikasi Al-Qur’an saat itu, dan perbedaan karakteristik inilah yang menurut penulis menjadikan definisi kodifikasi Al-Qur’an setiap priode perlu untuk dibedakan.

Pada priode Nabi, Al-Qur’an belum dapat sepenuhnya “terkompilasi” dan tidak dapat disebut sebagai proses kodifikasi, karena usaha yang dilakukan bukan atas motif “pembukuan menjadi satu mushhaf” namun hanya sekedar sebagai proses “pencatatan” wahyu yang turun secara bertahap (kitabatu Al-Qur’an)[1].

Di zaman Abu Bakar, motif kodifikasi Al-Qur’an berbeda dengan sebelumnya, dimana pada awalnya Abu Bakar ragu untuk melakukan hal yang “berbeda” itu, karena khawatir akan ancaman “perbuatan bid’ah”. Dibawah pimpinannya, Abu Bakar giat memerangi mereka yang murtad keluar dari Islam yang pada puncaknya dilaporkan sekitar 70 orang dari Sahabat yang hafal Al-Qur’an gugur dalam perang yamamah salah satu peperangannya terhadap kaum murtad pengikut Musailamah al-kaddzab[2]. Agar tidak “hilang” dan tidak terpencar pada pribadi-pribadi mereka yang memiliki mushhaf sendiri, kemudian Abu Bakar atas usulan Umar Ibn al-Khattab “mengumpulkan” Al-Qur’an dalam satu mushhaf sebanyak 6 eksemplar (tadwin Al-Qur’an atau jam’u Al-Qur’an).

Dari keenam mushhaf itu, kemudian terdapat indikasi akan adanya perbedaan salinan dan perbedaan corak qira’ah. Inilah salah satu yang memungkinkan adanya perbedaan “cara baca” dikalangan muslimin di zaman Utsman. Dimana pada puncaknya terjadi perang Armeniyah dan Adzribijan di Irak, Utsman mendapatkan laporan tentang “pertikaian” perbedaan corak qira’ah itu, ia kemudian “menyalin” mushaf yang ada pada Hafshah (naqlu Al-Qur’an atau naskh Al-Qur’an) sebagai usaha “penyeragaman” corak qira’ah yang berkembang, dan membentuk Tim yang terdiri dari: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam.

Kodifikasi dizaman Nabi Saw.

Meski Nabi Muhammad telah mencurahkan segala upaya yang mungkin dapat dilakukan dalam memelihara keutuhan Al-Qur’an, beliau tidak me­rangkum semua surat ke dalam satu jilid, sebagaimana ditegaskan oleh Zaid bin Thabit dalam pernyataannya,

Saat Nabi Muhammad wafat, Al-Qur’an masih belum dirangkum dalam satuan bentuk buku.[3]

Di sini kita perlu memperhatikan penggunaan kata “pengumpulan” (jam’u) bukan “penulisan”. Dalam komentarnya, al-Khattabi menyebut, “Catatan ini memberi isyarat akan kelangkaan buku tertentu yang memiliki ciri khas tersendiri. Sebenarnya, Kitab Al-Qur’an telah ditulis seutuhnya sejak zaman Nabi Muhammad. Hanya saja belum disatukan dan surat-surat yang ada juga masih belum tersusun”.[4]

Beberapa penyebab tidak adanya kodifikasi di masa Nabi dapat kita simpulkan sebagai berikut: Pertama: Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidak mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai. Kedua: Legalitas konsep Naskh dimana sebagian ayat “terhapus” dari Al-Qur’an bila turun ayat yang menyatakan naskh. Ketiga: Susunan ayat dan surat tidak berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat yang turunnya di akhir wahyu, tetapi kemudian ditetapkan urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan. Keempat: Jangka waktu antara turunnya ayat terakhir yang menunjuk pada telah sempurna seluruh ayat Al-Qur’an, dengan wafatnya Rasululah SAW yang relatif sangat pendek. Kelima: Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Belum ada “fitnah besar” yang menimpa kaum muslimin khususnya pada bidang kajian Al-Qur’an, ahli baca Al-Qur’an begitu banyak, walaupun ada fitnah-fitnah, tetap dapat diatasi. Berbeda pada masa Abu Bakar dimana “gejala-gejala” telah ada; banyaknya huffadz yang gugur, sehingga khawatir kalau Al-Qur’an akan lenyap[5].

Bila kita menyebut kompilasi Al-Qur’an dimasa ini dengan al-Jam’u (pengumpulan), maka yang dimaksud adalah penghimpunan ayat yang turun kedalam dalam dua bentuk: pertama: dalam bentuk hafalan, dan kedua: dengan bentuk catatan.[6]

Bentuk pertama, telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an;

Dia (Allah) yang mengutus Rasul kepada kaum Ummy”[7]

Dimana bangsa Arab saat itu lebih “bangga” dengan kekuatan daya ingat, yang berkembang adalah kultur-lisan yang kental. Seorang ummy hanya akan berpegang pada daya ingatnya, karena ia tidak dapat membaca dan menulis. Disamping bahwa Al-Qur’an adalah Teks yang “dipermudah” untuk di hafal;

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk “dingat”, maka adakah orang yang mau mengingat?[8]

Ayat ini diulang dalam satu Surat sebanyak 4 kali dengan bentuk yang sama, yaitu QS. 54 al-Qamar, 17, 22, 32 dan 40. kata “adz-Dzikir” menunjuk pada “untuk diingat”. Al-Baidlowi misalnya, menyimpulkan bahwa pengulangan keempat ayat ini mengindikasikan maksud agar penyimak kisah dalam surat al-Qamar dapat dengan gampang mengingatnya sebagai pelajaran.[9]

Diantara huffadz dari Sahabat yang kemudian ditugaskan untuk menyebarkan dan mengajarkan Al-Qur’an adalah; Mush’ib ibn Umar, Ibn Ummi Maktum dan Mu’adz ibn Jabal.[10]

Sementara bentuk yang kedua, dilakukan sebatas “pencatatan” ayat turun dengan tekhnis aturan mengenai susunan dan bentuk tekstualnya sepenuhnya dari Rasulullah saw secara dogmatis melalui “JukNis” wahyu (tauqify ‘ala al-wahyi)[11].

Kodifikasi dizaman Abu Bakar

Usaha kodifikasi Al-Qur’an dimasa ini, tidak menafikan adanya usaha-usaha mandiri yang serius dan sadar dari Sahabat untuk memelihara Al-Qur’an dalam bentuk teks, dimana dilaporkan terdabat beberapa mushhaf pada saat itu baik yang primer atau skunder;[12]

Dari data di atas, Adnan Amal, meyimpulkan bahwa motif kodifikasi Abu Bakar tidak hanya karena sejumlah Sahabat yang gugur dalam perang Yamamah, bahkan ia bukan merupakan motif utama, Adnan menyebutkan motif motif lain, yang dinilainya sebagai motif utama kodifikasi Abu Bakar kala itu, yaitu; belum adanya kodifikasi kedalam satu mushhaf.

Dalam hal ini, ia menyebutkan beberapa kritik terhadap teori wafatnya sejumlah Qurra’ dari Sahabat sebagai motif kodifikasi, yang  ia kutip dari pengamat barat. Bahwa dari penelusuran daftar orang yang gugur dalam perang itu, mereka berjumlah 500 bahkan sampai 1200, dan tidak semuanya menguasai Al-Qur’an. Disebutkan bahwa menurut L. Caetani; yang gugur saat itu hampir seluruhnya adalah “pengikut baru” Islam, dan menurut catatan Schwally bahwa dari yang gugur yang dapat dinilai menguasai Al-Qur’an secara meyakinkan hanya dua orang; Abdullah ibn Hafsh ibn Ganim dan Salim ibn Ma’qil, Salim, seperti terlihat pada tabel di atas, dilaporkan sempat memiliki mushhaf yang ia kumpulkan segera setelah Rasulullah saw wafat, ini mengindikasikan bahwa walaupun Salim gugur, tidak ada alasan untuk khawatir akan hilangnya Al-Qur’an, karena teks Al-Qur’an milik salim tidak akan hilang karena gugurnya sang penulis.[13]

Terlepas dari polemik tentang motif usaha kodifikasi pada priode ini, Dr. Muhammad Ali ash-Shobuni, menyimpulkan keistimewaan kodifikasi Al-Qur’an dizaman Abu Bakar sebagai karakteristik mushhaf-nya, antara lain;

1.      Diperoleh dari hasil penelitian yang sangat mendetail dan akurasi data yang sempurna.

2.      Yang tercatat dalam mushhaf hanyalah bacaan yang pasti (tidak manshukh bacaannya).

3.      Ijma’ mutawatir menyatakan bahwa yang tercatat dalam mushhaf adalah ayat-ayat Al-Qur’an.

4.      Mushhaf mencakup qira’at sab’ah yang dinukil berdasarkan riwayat yang benar-benar shahih.[14]

Ditambah dengan kompetensi yang dimiliki Zaid ibn Tsabit yang ditugaskan secara khusus oleh Abu Bakar dalam proyek ini. Sejak usianya di awal dua puluh-tahunan, ia diberi ke­istimewaan tinggal bertetangga dengan Nabi dan bertindak sebagai salah seorang penulis wahyu (kuttab al-wahyi). Al-A’zami mencatat kualifikasi Zaid sebagai berikut:

1.      Masa muda Zaid menunjukkan vitalitas dan kekuatan energinya.

2.      Akhlak yang tak pernah tercemar menyebabkan Abu Bakr memberi pengakuan secara khusus dengan kata-kata, “Kami tak pernah memiliki prasangka negatif pada anda”.

3.      Kecerdasannya menunjukkan pentingnya kompetensi dan kesadaran.

4.      Pengalamannya di masa lampau sebagai penulis wahyu.

5.      Ia salah satu yang bernasib mujur di antara beberapa orang sahabat yang sempat mendengar bacaan Al-Qur’an Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad di bulan Ramadan.[15]

Zaid membangun mushhaf pertama dengan metode yang luar biasa, seperti yang digambarkan Al-A’zami, dimana ia memeberikan beberapa ketentuan; pertama, Naskah awal sebagai naskah induk lebih terjamin. Kedua, Naskah berikutnya yang telah melalui verivikasi dengan naskah induk, juga dapat diterima. Dan ketiga, Naskah yang tidak atau belum melalui verivikasi, tidak dapat digunakan.

Kodifikasi dizaman Utsman

Semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam pada masa Utsman membuat perbedaan yang cukup mendasar dibandingkan dengan pada masa Abu Bakar, orang-orang Islam telah terpencar di berbagai daerah dan kota. Di setiap daerah telah populer bacaan sahabat yang mengajar mereka.

Penduduk Syam membaca Al-Qur’an mengikuti bacaan Ubay ibnu Ka’ab, penduduk Kufah mengikuti bacaan Abdullah Ibnu Mas’ud, dan sebagian yang lain mengikuti bacaan Abu Musa al-Asy’ari. Diantara mereka terdapat perbedaan tentang bunyi huruf, dan bentuk bacaan. Masalah ini membawa mereka kepada pintu pertikaian dan perpecahan sesamanya. Hampir satu sama lainnya saling kufur-mengkufurkan karena berbeda bacaan, bahkan sampai terjadi perpecahan dan peperangan antara mereka. Riwayat ini adalah versi mayoritas tentang motif dan metode kodifikasi di masa ini.

Al-Bukhari meriwayatkan;

Dari Anas Ibnu Malik bahwasanya ia berkata: “Sesungguhnya Hudzaifah Ibnu al-Yaman datang kepada Utsman, ketika itu, penduduk Syam bersama-sama dengan penduduk Irak sedang berperang menaklukkan daerah Armenia dan Adzerbaijan. Tiba-tiba Hudzaifah merasa tercengang karena penyebabnya adalah faktor perbedaan dalam bacaan. Hudzaifah berkata kepada Utsman: “Ya Amirul Mu’minin perhatikanlah umat ini sebelum mereka terlibat dalam perselisihan dalam masalah Kitab sebagaimana perselisihan diantara kaum Yahudi dan Nasrani”. Selanjutnya Utsman mengirim surat kepada Hafsah yang isinya: “Kirimlah kepada kami lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Qur’an kami akan menyalinnya (nansakhuha) dalam bentuk mushhaf dan setelah selesai akan kami kembalikan lagi kepada anda”. Kemudian Hafsah mengirimkannya kepada Utsman. Utsman kemudian membentuk Tim Kodifikasi yang terdiri Zaid ibnu Tsabit, Abdullah ibnu Zubair, Said ibnu al-‘Ash dan Abdurrahman ibnu al-Harits ibnu Hisyam lalu mereka menyalinnya dalam mushhaf. Utsman berpesan kepada ketiga kaum Quraisy: “Bila anda bertiga dan Zaid ibnu Tsabit berbeda pendapat tentang hal Al-Qur’an maka tulislah dengan ucapan/lisan Quraisy karena Al-Qur’an diturunkan dengan lisan Quraisy”. Setelah mereka selesai menyalin ke dalam beberapa mushhaf, Utsman mengembalikan mushhaf asli kepada Hafsah. Selanjutnya ia menyebarkan mushhaf yang baru tersebut ke seluruh daerah dan ia memerintahkan agar semua bentuk mushhaf yang lain dibakar.

Ibnu Syihab seorang Tabi’in meriwayatkan dari Kharijah ibnu Zaid bin Tsabit, ia mendengar Zaid bin Tsabit menyatakan “disaat kami menyalin mushhaf aku kehilangan satu ayat dari surat al-Ahzab yang pernah aku dengar dari Rasulullah saw, yaitu ayat mina al-mu’minina rijalu shadaqu ma ‘ahadu Allaha ‘alaihi (QS. Al-Ahzab; 23). Kami mencarinya ternyata berada pada Khuzaimah Ibn Tsabit al-Anshari. [16]

Kodifikasi Al-Qur’an pada masa ini dilatar belakangi motif untuk meredakan pertikaian, Utsman dan Sahabat yang lain sepakat untuk menyalin dan memperbanyak mushhaf kemudian mengirimkannya ke segenap daerah dan kota dan selanjutnya menginstruksikan agar orang-orang membakar mushhaf yang lainnya sehingga tidak ada lagi jalan yang membawa kepada pertikaian dan perselisihan dalam hal bacaan Al-Qur’an.

Gambaran “kanoninasi” Mushaf dimasa Utsman yang memperlihatkan “penyalinan” mushhaf yang sudah ada kepada beberapa mushhaf serupa, kesimpulan ini seperti yang telah kita kenal selama ini. Gambaran kanonisasi ini berdasarkan riwayat mayoritas tentang motif dan metodologi yang dipakai, dimana tim yang dibentuk oleh Utsman berjumlah empat orang;

1.      Zaid ibnu Tsabit

2.      Abdullah ibnu Zubair

3.      Said ibnu al-‘Ash dan

4.      Abdurrahman ibnu al-Harits ibnu Hisyam

Kemudian mereka menyalin begitu saja dari mushhaf yang tersimpan pada Hafsah sebagai basis kanonisasi dengan tetap berpegang pada patokan pemakaian dialek Quraisy.

Dua hal ini, pertama: mushhaf Hafsah yang menjadi basis, dan kedua: penegasan penyalinan dalam dialek Quraisy, menurut Adnan Amal, sebenarnya patut dipertanyakan. Menurutnya berdasarkan beberapa laporan bahwa pertama; mushhaf Hafsah tidak memadai sebagai basis teks resmi Al-Qur’an, Ia melaporkan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Khalifah Marwan sejak menjabat sebagai Gubenur Madinah, sangat menginginkan Mushhaf itu untuk dimusnahkan, karena dinilai di dalamnya terdapat bacaan-bacaan yang tidak lazim yang dikhawatirkan akan menimbulkan perselisihan dalam masyarakat.[17] dan kedua; tentang pemakaian dialek Quraisy, menurutnya bertentangan dengan penegasan Al-Qur’an dalam beberapa tempat yang menegaskan bahwa Al-Qur’an diwahyukan dengan “lisan Arab yang jelas”;

Sedang Al Quran ini adalah dalam bahasa Arab yang terang.[18]

Cara kedua, menurut penulis lebih pantas disebut “kodifikasi” dimana Ibn Sirin, (w. 110 H.) meriwayatkan,

Ketika ‘Utsman memutuskan untuk “mengumpulkan” (jam’) Al-Qur’an, dia mengumpulkan panitia yang terdiri dari dua belas orang dari kedua-dua suku Quraish dan Ansar. Di antara mereka adalah Ubayy bin Ka’b dan Zaid bin Thabit.

Identitas dua belas orang ini bisa dilacak melalui beberapa sumber. Al-­Mu’arrij as-Sadusi menyatakan, ‘Mushaf yang baru disiapkan diperlihatkan pada:

1.      Sa’id bin al-‘As bin Sa’id bin al-‘As untuk dibaca ulang;’ dia menambahkan

2.      Nafi’ bin Zubair bin `Amr bin Naufal. Yang lain termasuk

3.      Zaid bin Thabit,

4.      Ubayy bin Ka’b,

5.      ‘Abdullah bin az-Zubair,

6.      ‘Abrur-Rahman bin Hisham, dan

7.      Kathir bin Aflah. Ibn Hajar menyebutkan beberapa nama lain:

8.      Anas bin Malik,

9.      ‘ Abdullah bin ‘Abbas, dan

10.  Malik bin Abi ‘Amir. Dan al-Baqillani menyebutkan selebihnya

11.  ‘Abdullah bin `Umar, dan

12.  `Abdullah bin ‘Amr bin al-‘As.[19]

Distribusi Mushhaf Utsmani

Beberapa Pakar sejarah Al-Qur’an menyebutkan jumlah mushhaf yang dihasilkan oleh Tim bentukan Utsman, dalam enam versi;

1.      Versi mayoritas, berjumlah 4 mushhaf, satu mushhaf disimpan di Madinah, dan tiga lainnya dikirim ke Kufah, Bashrah dan Damaskus.

2.      Versi as-Suyuthi dalam al-Ithqan, berjumlah 5 mushhaf, dan menambahkan kota Makkah

3.      Versi az-Zarqani dalam al-Manahil, menyebutkan 6 eksemplar, satu diantaranya disimpan oleh Utsman sabagai mushhaf induk (mushhaf al-imam).

4.      Versi Abu Hatim as-Sijistani, berjumlah 7 eksemplar, dan menambahkan Yaman dan Bahrain.[20]

5.      Versi Profesor Shauqi Daif, menyebutkan 8 naskah telah dibuat, karena Utsman mengambil satu untuk pribadi

6.      Versi Al-­Ya’qubi, seorang sejarawan Syi’ah, menyebutkan 9 mushhaf, seluruhnya dikirim ke Kufah, Basra, Madinah, Mekah, Mesir, Suriah, Bahrain, Yaman, dan al-Jazirah[21]

Dari keenam versi tersebut, Adnan Amal, memilih versi pertama, berdasarkan latar belakang yang menjadi motif pengerjaan kodifikasi, dimana dari 4 eksemplar yang dihasilkan, 3 diantaranya dikirim ke daerah-daerah dimana konflik yang disebabkan perbedaan bacaan sedang berkecamuk.[22] Penulis sependapat dengan kesimpulan ini. Namun, penulis kurang sependapat bila ia kemudian menafikan versi yang lain dengan menilainya sebagai “isapan jempol” belaka.[23] Menurut penulis, dalam menyikapi kontradiksi yang menurut survei tingkat validitas datanya sama, dan didalamnya disebutkan eksistensi suatu hal, sementara yang lain tidak, maka sebaiknya kita memilih versi yang menegaskan eksistensi. Karena, ada kemungkinan versi yang menyebutkan jumlah eksemplar yang lebih sedikit, telah “melewatkan” eksistensi jumlah mushhaf yang sebenarnya. Dan bila hipotesa penulis benar tentang validitas seluruh versi itu, maka kita dapat menkompromikan keenamnya dengan kesimpulan; bahwa jumlah mushhaf yang dihasilkan berjumlah 10 eksemplar. Dua mushhaf yang salah satunya dipegang secara pribadi oleh Utsman sebagai mushhaf al-Imam, dan yang lain disimpan dalam arsip pemerintah di Madinah sebagai dokumen negara, 8 eksemplar yang lain didistribusikan kedelapan kota; ke Kufah, Bashrah, Damaskus, Makkah, Mesir, al-Jazirah, Yaman dan Bahrain. Karena itu, sebelum gegabah untuk memasukkan hipotesis penulis ini kedalam urutan versi yang ketujuh, maka akan lebih arif, bila diadakan usaha penelusuran akurasi data seluruh versi di atas.

Sementara itu, sebelum mushhaf-mushhaf itu didistribusikan, terlebih dahulu diharuskan melalui prosedur verifikasi oleh Tim kodifikasi kepada Utsman. Al-A’zami menggambarkan dalam uraiannya tentang prosedur ini, bila gambarkan dengan skema sebagai berikut;[24]

Prosedur pertama, mushhaf yang telah selesai ditulis kemudian dibacakan kepada para Sahabat dihadapan Utsman, guna melalui proses verifikasi dan perbandingan dengan Mushhaf yang ada pada Hafsah. Dalam proses ini, Adnan Amal menyebutkan sejumlah laporan bahwa Utsman cenderung membiarkan perbedaan yang ada pada mushhaf, dengan keyakinan bahwa orang Arab – dengan lisan mereka – akan dapat membetulkannya sendiri. Adnan sendiri menyatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian terhadap laporan-laporan seperti itu sejak abad ke-III H. menyatakan bahwa validitas datanya tidak dapat dipertanggung jawabkan.[25] Terlepas dari segala tuduhan atas proses prosedur pertama, kita harus menilai positif usaha luar biasa dari Utsman dan Tim Kodifikasinya.

Prosedur berikutnya, adalah distribusi kebeberapa kota metropolitan Islam saat itu, yang dilengkapi dengan pembaca (qari’) yang dapat menjelaskan urgensi salinan mushhaf yang ia bawa dari Ibu Kota, baik teks ataupun bacaannya. Al-A’zami menyebutkan bahwa para Qari’ itu membawa dua perintah Utsman terkait pengiriman salinan Mushhaf itu; pertama: Mushhaf dan fragmen non-utsmani harus dimusnahkan guna menghindari perselisihan, dan kedua: Mushhaf Utsmani sebagi standar resmi dalam teks sekaligus bacaan al-Qur’an.[26]

Usaha pemerataan edisi kanonik resmi Utsmani sebenarnya tidak dapat tercapai dalam waktu singkat. Ketika itu, Al-Qur’an banyak tersimpan dalam hafalan dengan corak bacaan tertentu, tidak banyak yang dalam bentuk tulisan. Sangat sulit rasanya hafalan yang sudah mapan kemudian harus menyesesuikan dengan mushhaf yang diterbitkan Utsman. Karena itu, poin perintah kedua sangat menentukan tujuan ini. Dimana seluruh generasi baru Islam yang akan mempelajari Al-Qur’an, diharuskan mengikuti standar mushhaf Utsmani. Dengan begitu, maka kodeks-kodeks pra-Utsmani secara alami akan menghilang dengan sendirinya.

Adnan Amal menyebutkan selain faktor ini, faktor lain yang menyebabkan lambannya penyebaran kanonik resmi itu, bahwa sebagian Sahabat semisal Ibn Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari tidak menerima adanya standar ala-Utsman ini. Kesimpulan yang Adnan ambil ini, menurut perkiraan penulis, mungkin karena terpengaruh oleh Athur Jeffry seorang orientalis yang banyak mengkritisi autensitas Mushhaf Utsmani. Pendapat ini tidak dapat dibenarkan, dimana terbukti semua pihak menerima kanonik Utsman, termasuk Ibn Mas’ud yang pada akhirnya menarik pernyataan keberatannya.[27]


[1] Pada priode ini, terdapat beberapa Sahabat yang bertugas “mencatat” bila wahyu Al-Qur’an turun, diantaranya; Ali ibn Abi Thalib, Mu’awiyah, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit. Mereka bahkan kemudian mempunyai mushhaf tersendiri sebagai milik pribadi mereka (Mushhaf al-fardiyah)

[2] Muhammad Ali ash-Shobuni, at-Tibyan, hlm 54

[3] Lihat al-Bukhari, kitab Jam’u Al-Qur’an, Hadits nomor 4986

[4] Al-A’zami, The History of The Qur’anic Text – From Revelation to Compilation – Sejarah Teks Al-Quran – Dari Wahyu Sampai Kompilasinya, hlm 83

[5] Muhammad Ali ash-Shobuni, hlm 58-59

[6] ibid, hlm 49

[7] QS. 62 al-Jum’ah, 2

[8] QS. 54 al-Qamar, 17, 22, 32 dan 40

[9] Lihat Tafsir al-Baidlowi, hlm 269

[10] Muhammad Ali ash-Shobuni, hlm 51

[11] Dalam satu catatan, Jibril menyampaikan “Juknis” itu; “Muhammad, Allah Swt. memerintahmu untuk kau letakkan Ayat ini pada permulaan ini dan Surah ini”. Lihat at-Tibyan, hlm 53

[12] Mushhaf Primer adalah mushhaf independen yang dikumpulkan secara individual oleh sejumlah Sahabat, sedangkan Mushhaf skunder adalah mushhaf generasi berikutnya yang sangat bergantung atau didasarkan pada mushhaf primer dan mencerminkan tradisi bacaan kota-kota besar Islam. Lihat Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, hlm 158

[13] Ibid, hlm 147-148

[14] Muhammad Ali ash-Shobuni, hlm 57

[15] Al-A’zami, hlm 84

[16] Lihat Shahih al-Bukahri, nomor Hadits 4604.

[17] Lihat Taufik Adnan Amal, hlm 201

[18] QS. 16 an-Nahl, 103

[19] Al-A’zami, hlm 99

[20] Taufik Adnan Amal, hlm 202

[21] Al-A’zami, hlm 105

[22] Taufik Adnan Amal, hlm 202

[23] Lihat hipotesanya tentang versi-versi itu, ibid, hlm 202-203

[24] Lihat Al-A’zami, hlm 105-110

[25] Lihat Taufik Adnan Amal, hlm 204

[26] Lihat Al-A’zami, hlm 108-110

[27] Lihat Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qur’an, Bab II, Studi Orientalis terhadap Sejarah Teks Al-Qur’an.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: