//
you're reading...
Ilmu Qur'an

Wahyu al-Qur’an (bagian 2)

Dalam posting yang lalu disimpulkan bahwa, pertama,  kata wahyu tidak dapat selalu berarti “wahyu”, namun sangat tergantung dengan obyek dan subyek-nya, dan kedua, wahyu disampaikan oleh Allah dengan tiga model, wahyu yang tanpa perantara, wahyu yang disampaikan dari balik tabir, dan wahyu yang disampaikan dengan keiukut-sertaan “penyampai wahyu”. Yang menjadi pertanyaan adalah; sebenarnya dalam bentuk apa, Allah menyampaikan wahyu pada model pertama?

Pertanyaan ini menjadi urgen, karena model kedua dan ketiga secara hipotesa-definitif dinilai tertentu dan terbatas. Model kedua adalah model penyampaian wahyu dalam kasus musa.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman (al-A’raf, 143).

Ayat di atas, menggambarkan komunikasi langsung dengan redaksi wakallamahu rabbuhu (dan Tuhannya telah berfirman langsung kepadanya). Sebagaimana spesifikasi redaksi ini pada ayat berikut:

إنا أوحينا إليك كما أوحينا إلى نوح والنبيين من بعده، وأوحينا إلى إبراهيم وإسماعيل وإسحاق ويعقوب والأسباط وعيسى وأيوب ويونس وهارون وسليمان وآتينا داود زبورا، ورسلا قد قصصناهم عليك من قبل ورسلا لم نقصصهم عليك وكلم الله موسى تكليما

Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (hai Muhammad) sebagaimana telah kami wahyukan kepada Nuh dan Para Nabi setelahnya. Dan Kami telah wahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, (yaitu) Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kepada Daud Kami berikan Zabur. (Kami telah pula mengutus) Rasul-rasul yang telah Kami kisahkan kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul (lainnya) yang tidak Kami kisahkan kepadamu. Dan (ketahuilah) Allah telah berbicara langsung dengan Musa (an-Nisa’, 163-164)

Jika diperhatikan, dalam ayat ini, al-Qur’an menggunakan redaksi khusus untuk sebutan wahyu model kedua pada kasus musa (wakallama Allahu musa taklima), berbeda dengan redaksi pada model wahyu yang disampaikan pada Nabi dan Rasul yang lain.

Gambaran komunikasi langsung juga tampak ketika al-Qur’an mencerikatakan proses wahyu itu dengan redaksi kata kerja “qala” (berkata). Bentuk kata ini, adalah permintaan, pertanyaan, dan mungkin pernyataan pada pertama kali. Dan pada setelahnya adalah respon, jawaban dan mungkin tanggapan.

Redaksi khusus yang digambarkan al-Qur’an pada kasus musa dengan analisa ini, menjadi justifikasi bahwa model kedua adalah spesifikasi wahyu untuk musa seorang. Kecuali kemudian teori ini dimentahkan dengan model wahyu yang pertama, dimana wahyu disampaikan sama sekali tanpa perantara, yang juga berarti bahwa Allah berkomunikasi langsung dengan Rasulnya.

Sedangkan wahyu model ketiga, adalah spesifikasi model wahyu yang digunakan untuk membentuk “kitab suci”. Sebagaimana al-Qur’an yang ditegaskan diturunkan dengan keikut-sertaan Jibril sebagai pembawa wahyu dalam proses tanzil-nya.

وإنه لتنزيل رب العالمين، نزل به روح الأمين، على قلبك لتكون من المنذرين، بلسان عربي مبين

Dan sesugguhnya al-Qur’an itu bernar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh malaikat jibril , kedalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi salah satu di antara mereka yang bertugas memberi peringatan, (diturunkan) dengan bahasa arab yang jelas (asy-Syu’ara, 192-194)

Ayat di atas adalah definisi utuh al-Qur’an tentang dirinya sebagai Kitab yang sengaja diturunkan Allah Swt, kepada Nabi Muhammad Saw, dengan perantara Jibril Sang Pembawa wahyu, dengan memakai bahasa Arab yang jelas, untuk kemudian menjadi sumber primer dalam tugas kerasulan. Artinya sekali lagi secara hipotesa-definitif, al-Qur’an disampaikan hanya dengan model wahyu yang ketiga ini.

Keterbatasan wahyu model ketiga, dapat terlihat dalam kasus haditsu al-ifki (berita bohong), disaat orang-orang munafik menyebarkan desas-desus tuduhan perbuatan tidak senonoh kepada Aisyah binti Abu Bakar ra, istri Rasul Saw. Dalam keadaan itu, wahyu justru tidak kunjung turun selama satu bulan.

Hal yang sama, terjadi disaat Nabi merindukan perintah untuk mengganti kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitu Allah Ka’bah. Al-Qur’an menceritakan;

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.

Taqallubu al-wajhi yang dilakukan Nabi menunjukkan betapa ia menantikan turunnya wahyu itu. Dan menurut laporan, wahyu itu turun setelah masa penantian selama kurang-lebih satu setengah tahun.

Bandingkan juga dengan tertundanya wahyu dimasa-masa pertama turun wahyu. Setelah Jibril menyampaikan ayat pertama di Gua Hira’, wahyu kemudian putus selama tiga tahun.

Selain tiga realita di atas, sebagai justifikasi bahwa al-Qur’an ternyata adalah wahyu yang sama sekali bukan otoritas Nabi Muhammad Saw, sebagai penerima wahyu. Namun sepenuhnya wewenang tak terbatas Allah Tuhan semesta alam. Juga dapat dibuktikan dengan redaksi yang menunjuk pada pengertian perintah, larangan dan teguran kepada diri Nabi.

Sebagai respon dari realitas yang sedang bergerak saat proses turunnya, sebagaimana dalam kajian asbabu an-nuzul, wahyu banyak menggunakan redaksi perintah kepada Nabi, untuk menyampaikan wahyu Allah sebagai respon realitas itu. Sebagai contoh dalam kasus ini;

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir (al-Baqarah, 219).

Bandingkan juga dengan kasus yang diceritakan ayat berikut;

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. (‘abasa, 1-11)

Dalam analisa bahwa Rasul tidak bertindak apapun kecuali atas ketentuan wahyu yang turun kepadanya, sebagai kesimpulan dari ayat; wa maa yantiqu anil hawaa, in huwa illa wahyun yuwha “dan tidalah yang diucapkannya bersumner dari hawa nafsu, ucapan itu tida lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (an-najm, 3-4), bahwa Rasul tidak mempunyai otoritas untuk berijtihad dalam segala tindakannya. Yang menjadi pertanyaan adalah dualisme wahyu dalam kasus teguran di atas. Disaat yang sama dan dalam kondisi yang sama pula, turun kepada Rasul dua wahyu sekaligus yang sama sekali kontradiktif. Wahyu pertama membuat Rasul berkeinginan untuk tidak mempedulikan Abdullah ibn Ummi Maktum yang datang kepadanya untuk meminta pengajaran Agama, dengan tetap mengedepankan komunikasinya dengan para Pembesar Quraisy, dengan harapan agar mereka mau mengikuti dan menguatkan bangunan Islam yang sedang ia bangun. Tindakan ini diambil tentu berdasarkan wahyu yang turun kepadanya, walaupun tidak diabadikan dalam al-Qur’an (dengan model wahyu yang pertama yang tanpa perantara). Sedangkan wahyu yang kedua, yang kemudian diabadikan dalam al-Qur’an, adalah teguran yang malah “menyalahkan” tindakan Rasul itu.

Lalu di manakah letak kompromi urgensi antara keduanya?. Secara teoritik, sebenarnya dapat disimpulkan bahwa wahyu pertama terpisah dengan wahyu yang kedua, artinya ketiga model wahyu di atas terpisah satu sama lain. Sebagaimana dalam peristiwa Bani Ubairiq yang menyampaikan laporan palsu kepada Nabi mengenai kasus pencurian. Mereka menuduh seseorang di luar golongan Bani Ubairiq untuk melindungi pencuri sebenarnya yang dari golongan mereka. Dengan kredibelitas sebagai keluarga yang dikenal keislaman dan kebaikannya, Bani Ubairq mendapatkan kepercayaan Rasul dalam kasus ini. Sehingga kemudian turun ayat

…, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (an-Nisa’, 105)

Subhi Shalih menyimpulkan bahwa Rasul memisahkan pengalaman pribadi yang hanya berupa dugaan-dugaan dengan masalah Agama yang ma’lum bi dharurah, qat’i dan tidak dapat duganggu-gugat. Sebagaimana dalam kasus “mengawinkan pohon kurma” (talqih an-nakhl) yang dilakukan sahabat agar dapat berbuah baik. Pada awalnya Rasul menggap itu tidak perlu dilakukan, sehingga sahabat menghentikan kegiatannya, namun hal itu membuat buah kurma menjadi tidak baik. Mengetahui hal tersebut Rasul menegaskan;

Jika itu adalah urusan dunia kalian, maka terserah kalian. Namun jika mengenai agama kalian maka konsultasikan padaku (ibn majah, no hadits; 2462).

Karena itu, ulama merumuskan bahwa antara wahyu model pertama dengan model ketiga sama sekali terpisah. Karena Rasul hanyalah manusia dengan spesifikasi sebagai penerima wahyu. Apa yang disampaikan kepadanya, itulah yang ia lakukan. Dengan tidak menafikan sifat basyariyahnya sebagai manusia yang dapat lupa atau salah. Tindakan Rasul secara dzahir tidak dapat dibenarkan seluruhnya bila bertentangan dengan doktrin yang qat’i. Sebagaimana Hadits Dzi al-yadain; bahwa Rasul pernah shalat ‘ashar bersama para sahabat, kemudia ia salam setelah rakaat kedua. Dzu al-yadain bertanya; “apakah anda menqashar shalat atau lupa?”, Rasul menjawab “aku tidak mengqashar shalat dan tidak lupa”, dzu al-yadain menyahut kembali; “anda telah lupa”, Rasul bertanya kepada para sahabat “benarkah yang dikatakan dzu al-yadain?”, mereka menjawab “ya!”, kemudian Rasul meneruskan dua rakaat sisanya bersama sahabat dengan dilanjutkan dengan sujud sahwi.

Hanya saja, memang Rasul adalah manusia yang kesalahannya akan diluruskan dengan sebuah mekanisme luar biasa, sehingga pada akhirnya akan membentuk Agama yang sempurna (al-yauma akmaltu lakum diynakum). Artinya walaupun terlihat kontradiktif, namun sebenarnya tiga model wahyu itu adalah mekanisme pembentukan Agama yang setiap detail peristiwanya adalah ajaran dan tuntunan yang sempurna. Kasus teguran atas kesalahan yang dilakukan Rasul, adalah bentuk realitas seorang utusan Allah dengan sejuta hikmah. Inilah posisi yang sebenarnya dari wahyu model pertama itu.

Wallahu a’lam bis-ashawab

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: