//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab IV

Definisi Rasm Al-Qur’an

Secara bahasa, rasm identik dengan kata thab’u (cetakan) atau kitabah (tulisan).[1] Dalam kajian historis Al-Qur’an, terutama sejarah kompilasinya, istilah rasm Al-Qur’an sebagai ungkapan metodologi ortografi (imla’, penulisan) dan pencetakan Al-Qur’an.

Al-A’zami membagi Rasm Al-Qur’an kepada Ejaan (ortografi) dan tulisan (palaeografi).[2] Ortografi adalah metode baca suatu teks, dengan mengesampingkan bentuk tulisannya. Sedangkan palaeografi adalah bentuk tulisan yang berpengaruh pada cara baca suatu teks.

Klasifikasi yang dilakukan Al-A’zami adalah jalan keluar bila kemudian ditemukan banyak “perbedaan” Rasm diantara Mushhaf para Sahabat. Ia mencontohkan;

Kalau seorang guru membaca قالوا  (baca dengan qalu, alif di akhir tidak dise­butkan karena ada peraturan grammar tertentu) dan murid itu menuliskannya قلو (mengikuti standarnya sendiri) tetapi membacakannya dengan betul seperti  قالوا, sehingga ejaan vokal yang janggal tidak berpengaruh negatif.

Ibn Abi Dawud meriwayatkan,

Yazid al-Farsi berkata, Abaidullah bin Ziyad telah menambahkan dua ribu huruf  dalam Mushaf. Dan ketika al-Hajjaj bin Yusuf datang dari Basrah dan dilaporkan tentang hal ini, dia meminta sumber informasi tentang perubahan yang dibuat `Ubaidullah itu. Mereka menunjuk Yazid al-Farsi. Oleh karena itu, al-Hajjaj memanggil saya; Lalu saya pergi menemuinya dan saya tidak ragu bahwa dia akan mem­bunuhku. Dia menanyakan mengapa ‘Ubaidullah menambah dua ribu huruf ini. Saya menjawab: Mudah-mudahan Allah memelihara anda ke jalan yang lurus; dia telah dibesarkan di Masyarakat tingkat bawah Basra (contohnya jauh dari lingkungan terpelajar, di suatu daerah di mana orang tidak merasakan citra kesusastraan dan keindahan). Ini yang saya sayangkan, karena al-Hajjaj berkata bahwa saya berbata benar dan silakan tinggalkan saya. Apa yang diinginkan oleh ‘Ubaidullah adalah hanyalah ingin meletakkan dasar ukuran ejaan dalam Mushafnya, menulis kembali kata-kata (قلو) menjadi (قالوا) dan (كنو) menjadi (كانوا)

Di Madinah Nabi Muhammad mempunyai penulis yang banyak ber­asal dari beberapa suku dan tempat, yang sudah terbiasa dengan dialek dan ejaan yang berbeda-beda menurut adat masing-masing. Contohnya, Yahya berkata bahwa dia melihat surat yang dibacakan oleh Nabi Muhammad saw kepada Khalid bin Sa’id bin al-‘As yang memuat beberapa kejanggalan: كان (kana) ditulis كون (kawana), dan حتى  (hatta) dieja حتا. Dokumentasi yang lain, yang diserahkan Nabi saw. kepada Razin bin Anas as-Sulami, juga dieja  حتى  dengan  حتا. Menggunakan dua y (ييـ) yang sudah lama berbeda dengan satu يـ, didapatkan dalam kata  بأييدdan  غيير (yang tentu saja kala itu tidak menggunakan titik) pada surat-surat Nabi saw. Satu dokumentasi abad 3 hijrah meng­gambarkan beberapa surat dalam banyak cara. Banyak sekali bukti-bukti mengenai perbedaan dalam gaya tulisan pada zaman permulaan Islam.

Sejarah dan perkembangan Rasm Al-Qur’an

Langkah penyeragaman teks Al-Qur’an yang dilakukan Utsman ra., adalah usaha pertama dari standarisasi bacaan dan teks Al-Qur’an. Alasan utama yang berada dibalik kodifikasi itu adalah perbedaan teks dan bacaan yang mengarah pada perpecahan politik ummat Islam. Namun karena ketidak sempurnaan aksara Arab yang ketika itu digunakan untuk menyalin Al-Qur’an, langkah itu belum dapat mencapai hasil yang diharapkan.

Bentuk ortografi lama (scriptio devectiva) yang digunakan masih membuka peluang bagi seseorang untuk membaca teks secara beragam. Ditambah saat domain politik Islam semakin meluas dan semakin banyak orang non-Arab memeluk Islam, berbagai kekeliruan dalam bacaan dengan menggunakan ortografi lama semakin merebak.[3]

Keputusan politik pertama yang mengarah pada penyempurnaan rasm Al-Qur’an muncul pada masa Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (661-680), disebutkan bahwa Ziyad ibn Samiyah (w. 673) gubenur daerah Basrah, meminta Abu al-Aswad ad-Du’ali (605-688) agar menciptakan tanda-tanda baca pada Al-Qur’an. Saat itu untuk pertama kali, ia masih ragu dengan permintaan itu karena khawatir akan bid’ah,  namun saat ia mendengar sendiri kesalahan pembacaan vokal pada QS. 9 at-Taubah, 3; dimana yang seharusnya dibaca “rasuluhu” dengan vokal dlommah, malah dibaca “rasulihi” dengan kasrah. Bacaan ini menyebabkan perubahan makna sangat substansial pada ayat tersebut.[4] Ia kemudian menciptakan harakat-harakat untuk tanda-tanda vokal. Tanda vokal ciptaan ad-Du’ali kemudian disempurnakan pada masa Abbasiyah oleh Khalil ibn Ahmad (718-786) pakar bahasa di daerah Basrah yang merupakan sarjana pertama yang menyusun kamus bahasa Arab, dengan tanda-tanda yang kemudian berkembang seperti yang kita kenal dewasa ini.[5]

Untuk tanda konsonan, dimulai pada masa Abd Malik ibn Marwan (685-705) dari Dinasti Umawiyah, dimana Gubenur Irak saat itu al-Hajjaj ibn Yusuf (w. 714) menugaskan dua murid ad-Du’ali untuk menciptakan tanda-tanda huruf konsonan, keduanya kemudian mengintroduksi titik-titik diaktritis untuk pembedaan konsonan itu.


[1] Muhammad ibn Mukram, Lisan al-Arab, juz 12, 223

[2] Lihat al-A’zami, 143-158

[3] Lihat Taufik Adnan Amal, 273-280

[4] Ibid, 281

[5] Ibid.

Diskusi

One thought on “Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab IV

  1. makasih buat ilmunya, lumayan buat nambah referensi, jazaakumullah…

    Posted by akhdan | 24 Oktober, 2008, 11:59 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: