//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab V

Pengertian “Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf”

Disebutkan bahwa Hadits tentang tujuh huruf diriwayatkan oleh 21 orang sahabat yang dinyatakan oleh Abu Ubaid bahwa dalam Ilmu Hadits mencapai derajat mutawatir.[1] Yang paling banyak disebutkan dalam kajian ini adalah Hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari bahwa;

Umar bin Khattab berkata: “Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-Furqan di masa hidupya Rasulullah saw , aku mendengar bacaannya, tiba-tiba ia membacanya dengan beberapa huruf yang belum pernah Rasulullah saw membacakannya kepadaku sehingga aku hampir beranjak dari shalat, kemudian aku menunggunya sampai salam. Setelah ia salam aku menarik sorbannya dan bertanya: “Siapa yang membacakan surat ini kepadamu?”. Ia menjawab: “Rasulullah Saw yang membacakannya kepadaku”, aku menyela: “Dusta kau, Demi Allah sesungguhnya Rasulullah saw telah membacakan surat (dengan huruf yang lain) yang telah kudengar dari yang kau baca ini”. Setelah itu aku pergi membawa dia menghadap Rasulullah saw lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah aku telah mendengar lelaki ini, ia membaca surat Al-Furqan dengan beberapa huruf yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, sedangkan engkau sendiri telah membacakan surat Al-Furqan ini kepadaku”. Rasulullah saw menjawab: “Hai Umar, lepaskan dia. “Bacalah Hisyam!”. Kemudian ia membacakan bacaan yang tadi aku dengar ketika ia membacanya. Rasulullah saw bersabda: “Begitulah surat itu diturunkan”, sambil menyambung sabdanya: “Bahwa Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf maka bacalah yang paling mudah”.[2]

Petikan Hadits di atas, yang perlu kita analisa adalah entry poin tentang Bahwa Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf (inna hadza Al-Qur’an unzila ‘ala sab’ati ahruf). Secara etimologi, kata “ahruf” adalah bentuk plural (jamak) yang berakar dari kata “harf”, ia termasuk kata majmuk (musytarak) yang memiliki beberapa makna harfiyah. Antara lain; ujung segala sesuatu, puncak gunung yang terbatas (hitungannya) dan metodologi (wajh). Dari berbagai makna tersebut, dalam kasus pernyataan Hadits di atas, kata “ahruf” menunjuk pada pengertian metodologi, dengan indikasi bahwa secara tekstual Rasulullah saw menggunakan kata “’ala” (atas) yang menunjuk pada pengertian bahwa kriteria ini untuk fleksibelitas (tawassu’ah) dan kemudahan (taysir). Seolah Rasulullah saw menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan atas kriteria ini, untuk memudahkan pembaca dengan membacanya atas tujuh metodologi. Beberapa interpretasi kemudian bermunculan mengenai “tujuh metodologi” itu, antara lain:

1.      Maksud “tujuh huruf” adalah perbedaan metodologi corak baca pada tujuh bahasa kaum Arab, dengan berbagai perbedaan pengertian sesuai dengan masing-masing bahasa. Ketujuh bahasa yang dimaksud adalah; bahasa Quraisy, Hudzail, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Yaman.

2.      Menurut al-Bayhaqi dan al-Abhari, maksudnya adalah; bahwa ungkapan yang ada dalam Al-Qur’an turun dengan metodologi corak ketujuh bahasa itu, dimana sebagian  besar turun dengan bahasa Quraisy, dan sebagian dengan bahasa Hudzail, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamim atau Yaman.

3.      Maksudnya; Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh “bentuk ungkapan”, namun sayang masih simpang siur pendapat tentang tujuh ungkapan itu. diantaranya menetapkan; bentuk perintah, larangan, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal. Yang lain menentukan; bentuk janji, ancaman, halal, haram, peringatan, simbolis dan sebagai hujjah. Yang lain lagi menentukan; bentuk muhkam, mutasyabih, nasikh, mansukh, khusus, umum dan kisah-kisah.

4.      Yang dimaksud adalah tujuh kata sinonim dalam Al-Qur’an, seperti kata; halumma, aqbala, ta’ala, ‘ajal, asra’a, qashdi dan nahwi, yang semuanya menunjuk pada satu pengertian, yaitu permintaan untuk menghadap.

5.      Pendapat ar-Razi, Ibn Qutaibah, Ibn al-Jauzi, Ibn Tayyib dan dikuatkan az-Zarqani dalam al-Manahil, Maksudnya; terdapat “tujuh perbedaan” dalam Al-Qur’an;

a.   Perbedaan kata benda dalam hal kata tunggal, kata mudzakkar dan yang lain. Misalnya; واللذين لأمنتهم وعهدهم راعون [3] dimana kata “amanat” dibaca tunggal dan plural

b.   Perbedaan morfologi kata kerja dalam bentuk madhi, mudhari’ dan amar. Seperti; ربنا بعد بين أسفارنا [4] dimana kata بعد dibaca sebagai bentuk madhi (ba’ada) dengan mendudukkan kata ربُنا sebagai mubtada’, atau dengan bentuk amar (ba’id) dengan mendudukkan kata ربَنا sebagai munada

c.   Perbedaan karena pergantian huruf dengan huruf atau kata dengan kata, misalnya; وطلح منضود [5] dimana huruf ح pada kata طلح diganti dengan huruf ع menjadi طلع. Dan ayat; كالعهن المنفوش [6] Ibn Mas’ud mengganti kata العهن dengan kata الصوف.

d.  Perbedaan karena mendahulukan atau mengakhirkan huruf atau kata, misalnya; أفلم ييأس [7] huruf hamzah dalam kata ييأس didahulukan menjadi يأيس. Dan ayat; وجاءت سكرت الموت بالحق [8] kata الحق didahulukan menjadi وجاءت سكرت الحق بالموت.

e.   Perbedaan kedudukan pramasastra, misalnya; ذو العرش المجيد [9] kata المجيد berkedudukan marfu’ sebabagi sifat dari kata ذو, atau majrur sebagai sifat dari kata العرش.

f.   Perbedaan karena tambahan atau pengurangan وما خلق الذكر والأنثى [10] dimana dalam suatu bacaan kata وما خلق tidak dibaca.

g.      Perbedaan dialek (lahjah) dalam hal pembacaan secara tebal (tafkhim), tipis (tarqiq), miring (imalah), jelas (idzhar) dan dengung (idzgham). Misalnya pada ayat; هل اتاك حديث موسى [11] yang dibaca imalah dan tidak. [12]

Diantara Hikmah yang dapat diambil Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf; pertama: Mempermudah ummat Islam khususnya bangsa Arab yang realitasnya memiliki beberapa dialek (lahjah). Dan kedua: Menyatukan ummat Islam dalam “satu bahasa” yaitu dengan bahasa Quraisy yang tersusun dari berbagai bahasa pilihan dikalangan suku-suku bangsa Arab yang berkunjung ke Makkah.[13]

Suatu ketika, Jibril datang kepada Rasulullah saw sambil berkata: “Bahwa Allah telah memerintahkan kamu untuk membacakan Al-Qur’an kepada ummatmu dengan satu huruf”. Kemudian Nabi SAW menjawab: “Saya akan minta ‘afiyah  dan pertolongan dulu (maksudnya tambahan) kepada Allah karena ummatku tidak mampu”. Beliau terus mengulang-ulang permohonan  sampai dengan tujuh huruf.[14]

Definisi dan Sejarah perkembangan Qira’ah

Al-Qira’at berakar dari qara’a – yaqra’u – qirâ’atan. Secara terminologis qira’at merupakan metode ucapan Al-Qur’an yang dipakai oleh salah seorang imam qura’ yang berbeda dengan lainnya dalam hal ucapan Al-Qur’an berdasarkan sanad-sanadnya kepada Rasulullah SAW.

Periode qurra’ adalah sejak zaman sahabat sampai dengan masa tabi’in. saat itu mushhaf yang tersebar tertulis dengan tidak bertitik dan berbaris, yang kemudian mengindikasikan bentuk kalimat di dalamnya mempunyai beberapa kemungkinan berbagai bacaan. Dikalangan  sahabat sendiri berbeda dalam mengambil bacaan dari Rasulullah saw, diantara mereka membaca dengan satu huruf, yang lain dengan dua huruf dan bahkan yang lain lebih dari itu[15].

Dalam perkembangannya qira’at dapat diklasifikasikan menjadi; mutawatir, masyhur, Syadz, ahad, maudhu’ dan mudarraj[16]. Yang mutawatir adalah qira’at sab’ah (bacaan tujuh) yang masyhur. Yang ahad adalah qira’at tsalatsa (bacaan tiga), sepuluh bacaan ini didasarkan pada qira’at para sahabat. Adapun qira’at yang syadz ialah qira’at para tabi’in seperti qira’at A’masy, Yahya ibnu Watsab, Ibnu Jubair dan lain-lain.

As-Suyuthi menyatakan bahwa tesis di atas perlu ditinjau kembali. Menurut pandapatnya yang ia nukil dari Penulis Ath-Thayyibah dan Syaikh Abu al-Khair ibnu al-Jazary dalam muqaddimah kitabnya An-Nasyr: ‘Semua qira’at yang memenuhi tiga kriteria berikut; pertama, Sesuai dengan kaedah grametika arab walau hanya satu segi saja. Kedua, Sesuai dengan salah satu mushhaf Utsmany walaupun hanya sekedar mendekati. Dan ketiga, Dapat dipertanggung jawabkan validitasi bacaannya. Maka qira’at tersebut adalah shahih, bahkan itu termasuk dalam bagian huruf yang tujuh dimana Al-Qur’an diturunkan. Wajib bagi semua orang untuk menerimanya baik timbulnya dari Imam yang tujuh maupun dari yang sepuluh atau lainnya yang bisa diterima. Kecuali bila salah satu persyaratan yang tiga tersebut tidak terpenuhi maka qira’at itu dikatakan qira’at yang syadz atau bathil, baik datangnya dari aliran yang tujuh maupun dari tokoh yang lebih ternama.[17].

Biografi Qira’ah Sab’ah

Qira’at sab’ah populer diseluruh negara Islam pada permulaan abad kedua hijriyah. Di Bashrah orang membaca menurut qira’at Abi Amr dan Ya’qub. Di Kufah menurut qira’at Hamzah dan Ashim, di Syam menurut qira’at Ibnu Amir, di Makkah menurut qira’at Ibnu Katsir dan di Madinah menurut qira’at Nafi’. Berikut adalah sekelumit biografi masing-masing Imam:[18]

1. Imam Nafi.

Nama lengkapnya adalah Abu Ruwaim Nafi’ ibnu Abdurrahman ibnu Abi Na’im al-Laitsy, asalnya dari Isfahan. Dengan kemangkatan Nafi’ berakhirlah kepemimpinan para qari di Madinah al-Munawwarah. Beliau wafat pada tahun 169 H. Perawinya adalah Qalun wafat pada tahun 12 H, dan Warasy wafat pada tahun 197 H.

2. ‘Ashim al-Kufy

Nama lengkapnya adalah ‘Ashim ibnu Abi an-Nujud al-Asady. Disebut juga dengan Ibnu Bahdalah. Panggilannya adalah Abu Bakar, ia adalah seorang tabi’in yang wafat pada sekitar tahun 127-128 H di Kufah. Kedua Perawinya adalah; Syu’bah wafat pada tahun 193 H dan Hafsah wafat pada tahun 180 H.

3. Hamzah al-Kufy

Nama lengkapnya adalah Hamzah Ibnu Habib Ibnu ‘Imarah az-Zayyat al-Fardhi ath-Thaimy seorang bekas hamba ‘Ikrimah ibnu Rabi’ at-Taimy, dipanggil dengan Ibnu ‘Imarh, wafat di Hawan pada masa Khalifah Abu Ja’far al-Manshur tahun 156 H. Kedua perawinya adalah Khalaf wafat tahun 229 H. Dan Khallad wafat tahun 220 H. dengan perantara Salim.

4. Ibnu ‘Amir

Nama lengkapnya adalah Abdullah al-Yahshshuby seorang qadhi di Damaskus pada masa pemerintahan Walid ibnu Abdul Malik. Pannggilannya adalah Abu Imran. Dia adalah seorang tabi’in, belajar qira’at dari Al-Mughirah ibnu Abi Syihab al-Mahzumy dari Utsman bin Affan dari Rasulullah SAW. Beliau Wafat di Damaskus pada tahun 118 H. Orang yang menjadi murid, dalam qira’atnya adalah Hisyam dan Ibnu Dzakwan.

5. Ibnu Katsir

Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abdullah Ibnu Katsir ad-Dary al-Makky, ia adalah imam dalam hal qira’at di Makkah, ia adalah seorang tabi’in yang pernah hidup bersama shahabat Abdullah ibnu Jubair. Abu Ayyub al-Anshari dan Anas ibnu Malik, dia wafat di Makkah pada tahun 120 H. Perawinya dan penerusnya adalah al-Bazy wafat pada tahun 250 H. dan Qunbul wafat pada tahun 291 H.

6. Abu Amr

Nama lengkapnya adalah Abu ‘Amr Zabban ibnul ‘Ala’ ibnu Ammar al-Bashry, sorang guru besar pada rawi. Disebut juga sebagai namanya dengan Yahya, menurut sebagian orang nama Abu Amr itu nama panggilannya. Beliau wafat di Kufah pada tahun 154 H. Kedua perawinya adalah ad-Dury wafat pada tahun 246 H. dan as-Susy wafat pada tahun 261 H.

7. Al-Kisaiy

Nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Hamzah, seorang imam nahwu golongan Kufah. Dipanggil dengan nama Abul Hasan, menurut sebagiam orang disebut dengan nama Kisaiy karena memakai kisa pada waktu ihram. Beliau wafat di Ranbawiyyah yaitu sebuah desa di Negeri Roy ketika ia dalam perjalanan ke Khurasan bersama ar-Rasyid pada tahun 189 H. Perawinya adalah Abul Harits wafat pada tahun 424 H, dan ad-Dury wafat tahun 246 H.


[1] Lihat as-Suyuthi, al-Ithqan, juz 1, hlm 129.

[2] Al-Bukhari, kitab Al-Khusumat, Hadits Nomor 2241.

[3] QS. Al-Mu’minun, 8

[4] QS. As-Saba’, 19

[5] QS. Al-Waqi’ah, 29

[6] QS. Al-Qari’ah, 5

[7] QS. Ar-Raad, 31

[8] QS. Qaff, 19

[9] QS. Al-Buruj, 15

[10] QS. Al-Lail, 3

[11] QS. An-Nazi’at, 15

[12] Lihat ash-Shobuni, hlm 219-220, lihat juga az-Zarqani, juz 1, hlm 112-118

[13] Lihat ash-Shobuni, hlm 218-219

[14] Lihat al-Bukhari, kitab Fadla’ilu Al-Qur’an, Hadits nomor 4607, dan Shahih Muslim, kitab Shalat al-Musafirin, Nomor 1355

[15] Manahilul ‘Irfan, juz I, hal: 407.

[16] As-Shuyuti, sedangkan Qadhi’ Jalaluddin al-Bulqiny membagi Qira’at pada mutawatir, ahad dan syadz.

[17]. ash-Shobuni, hlm 232

[18] Ibid, hlm 234-237

Diskusi

One thought on “Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab V

  1. Jazakallohu khoiran katsiro. Sebuah artikel yg bermanfaat. Ustadz, saya ijin copy.

    Posted by Ibadurrahman | 9 Desember, 2011, 2:49 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: