//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab VII

Definisi Munasabah Ayat dan Surat Al-Qur’an

Secara etimologi, munasabah adalah persamaan (musyakalah)  atau kemiripan (muqarabah).[1] Kaitannya dengan Ayat dan surat Al-Qur’an secara terminologi mempunyai pengertian; “keterkaitan” (rabith) antara ayat atau antara surat, seperti “sebab akibat”.[2]

Ilmu munasabah sebenarnya sangat terkait dengan doktrinitas I’jaz Al-Qur’an, dimana ia mengungkap keterkaitan antara Ayat dan atau Surat yang ada dalam Al-Qur’an dengan “urutan baca” sebagai bentuk lain dari “urutan turun”. Az-zarkasyi misalnya menyimpulkan bahwa:

Yang pertama kali pantas untuk diteliti dalam setiap ayat adalah apakah ayat terkait dengan ayat sebelumnya atau ia berdiri sendiri, jika berdiri sendiri, pada sisi apa kesesuaiannya dengan yang sebelumnya. Dalam hal ini, terdapat banyak metode. Demikian pula dalam surat, sisi keterkaitannya dengan yang sebelumnya dan konteksnya perlu dicari.[3]

Pernyataan ini tidak berlebihan, karena konsep munasabah sangat menetukan terhadap konsep tentang eksistensi teks azali yang ada di lauh al-mahfudz yang sejalan dengan pandangan Ulama bahwa “urutan baca” Al-Qur’an adalah dogmatis (tauqifi) baik ayat maupun suratnya.

Mengenai apakah keseluruhan “urutan baca” Al-Qur’an dapat diteliti keterkaitannya, Az-Zarkasyi mengutip konsep munasabah dari Izzuddin Ibn Abd as-Salam; bahwa:

Munasabah adalah pengetahuan yang baik (untuk memahami Al-Qur’an), namun dengan syarat; harus terdapat “satu kesatuan” yang mengikat awal dan akhirnya. Sehingga, bila karena “sebab yang berbeda” maka tidak akan ada ikatan, Dan siapapun yang berusaha untuk mengaitkannya, ia hanya memaksakan diri dengan sesuatu yang tidak mungkin kecuali hanya dengan “ikatan yang rapuh” (rabth rakiyk) yang tidak mungkin terjadi pada “ungkapan baik” (husnu al-hadits) lebih-lebih pada “ungkapan terbaik” (maksudnya al-Qur’an). Sebab al-Qur’an diturunkan pada kurun dua puluh sekian tahun, dengan kandungan hukum yang berbeda, ditetapkan hukum itu karena sebab yang juga berbeda, dan yang seperti itu tidak mungkin untuk terikat satu sama lain.[4]

Az-Zarkasyi sebenarnya tidak sepenuhnya mengikuti “pembatasan” konsep munasabah seperti yang dinyatakan Izzuddin, dalam bagian lain, seperti yang penulis sebutkan, ia menyatakan; “bila tidak ada keterkaitan, maka kita tetap harus menelusuri pada sisi apa “kesesuaian” dengan yang sebelumnya”, bahkan ia menegaskan; “dalam hal ini, banyak metode (untuk mencari kesesuaian itu)”.

 

Bukti adanya Munasabah Ayat dan Surat Al-Qur’an

Dari penjelasan sebelumnya, konsep munasabah berangkat dari pertanyaan tentang tujuan “urutan baca” yang tauqifi dan menyalahi “urutan turun”, dengan keyakinan bahwa tidak ada “pertentangan” sedikitpun dalam Al-Qur’an dengan bentuknya yang sekarang.

Tidakkah  mereka memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, mereka pasti akan mendapat banyak pertentangan di dalamnya.[5]

Dan, seperti yang telah penulis singgung sebelumnya, konsep munasabah tidak terbatas pada ayat yang hanya mengandung satu kesatuan yang mengikat satu sama lain. Berikut ini adalah bukti, dimana dua ayat berdampingan, masing-masing memiliki sebab sebab turunnya sendiri, bahkan dikatakan keduanya tersusun atas dasar hubungan munasabah bukan karena sebab turunnya.[6]

Sebab turun ayat pertama adalah bahwa ketika Ka’ab ibn Asyraf tiba di Makkah dan melihat korban perang Badar,  ia mendorong orang-orang kafir untuk membalas dendam kepada Rasulullah saw, saat itu mereka bertanya kepadanya; ‘siapakah yang lebih benar, Nabi atau mereka’, ia menegaskan bahwa mereka lebih benar. Berbeda dengan sebab turun ayat kedua; yang berkenaan dengan kunci-kunci Ka’bah ketika peristiwa penaklukan Makkah. Dan antara keduanya terpaut enam tahun.

Keterkaitan antara keduanya adalah bahwa; ayat kedua yang memerintahkan untuk melaksanakan amanah secara umum, merupakan peringatan bagi orang semacam Ka’ab yang telah diberi amanat berupa al-Kitab yang didalamnya terdapat berita tentang Nabi yang akan diutus, dan sifat-sifatnya, sedangkan mereka telah berjanji untuk tidak menyimpan masalah itu dan berjanji membantu Nabi itu.[7]

 

Munasabah antara ayat

Munasabah anatara ayat dalam Al-Qur’an menggiring kita kepada kajian kebahasaan, teks dalam hal ini merupakan objek dan bukti adanya keterkaitan antara ayat satu sama lain, walupun pada saat tertentu, kita diharuskan untuk menelusuri aspek lain diluar teks seperti misalnya aspek asbabu an-Nuzul guna mengungkap kekhususan arti harfiah teks itu.

Aspek keterkaitan yang penulis maksud adalah dalam bentuk penegasan, penafsiran, atau bantahan dan tekanan. Seperti dua hal yang sama atau serupa, hubungan antara keduanya terkadang “berlawanan”, seperti keterkaitan antara rahmat yang disebut setelah siksa, senang setelah takut, merupakan kebiasaan Al-Qur’an setelah menyebut hukum, disusul dengan janji dan ancaman, sebagai motifasi pelaksanaan hukum itu, kemudian setelah itu diikuti dengan ungkapan tauhid dan penyucian Allah, agar diketahui keagungan Zat yang menentukan hukum.[8]

Sebagai gambaran, dimana dalam munasabah antara ayat difokuskan pada aspek kebahasaan dan teks itu sendiri sebagai objek penelitian, baik “keumuman” dari arti harfiah-nya atau “kekhususan” sebab turunnya. Berikut penulis angkat sebagai contoh QS. 2 al-Baqarah ayat 189:

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.[9]

Tampak pada ayat diatas terdapat kerancuan, walaupun dalam satu ayat, tampak ada dua topik yang diungkapkan. Potongan ayat yang pertama; adalah tanya jawab tentang fenomena bulan sabit, dan yang kedua; cara dan hukum memasuki rumah, pertanyaannya; hubungan apa yang terdapat antara keduanya.

Dalam usaha pencarian munasabah pada dua topik ini, Ulama memakai dua cara, cara pertama dengan kajian kebahasaan dari keumuman arti harfiah-nya dengan penafsiran simbolik-representatif; dimana hukum mendatangi rumah merupakan tamsil simbolik dari “cara” pertanyaan mereka mengenai bulan sabit yang dinilai sebenarnya tidak perlu jawaban, karena mereka bertanya dengan tujuan mengejek Rasulullah saw. Cara bertanya seperti ini diumpamakan seperti orang yang memasuki rumah dari belakang dan tidak dari pintu depan, maksudnya; seharusnya mereka tidak membalik pertanyaan, dan seharusnya mereka hadapi masalah dari sisi yang semestinya, bukan malah membaliknya.[10]

Cara kedua adalah dengan penelusuran data empiris asbabu an-Nuzul ayat itu. dimana dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa sekelompok orang dari Sahabat Ansor saat melakukan ihram untuk haji tidak seorangpun diantara mereka yang memasuki pagar, rumah atau tenda melalui pintunya. Jika ia orang kota, maka ia akan membuat lubang atau tangga untuk masuk dan keluar, dan jika ia orang badui, maka ia akan keluar tenda dari belakang. Dikatakan kepada mereka; bahwa hal itu tidak dapat dibenarkan. Menurut az-Zarkasyi; mestinya hal ini yang mereka pertanyakan dan tidak menanyakan perihal bulan sabit. Karena itu potongan ayat kedua ini merupakan sisipan (istithrad) ketika disebutkan bahwa bulan sabit itu adalah waktu-waktu untuk haji.[11]

 

Munasabah antara Surat

Munasabah antara surat dalam Al-Qur’an mayoritas berbeda dengan corak hubungan antara ayat, hubungan antara surat lebih bercorak “interpretatif” atas kandungan keseluruhan atau mayoritas sebuah surat.

Sebagai permulaan, surat al-fatihah sebagai induk Al-Qur’an (ummu al-Kitab) mengandung tiga aspek yang dikatakan sebagai kandungan keseluruhan Al-Qur’an, yaitu; tauhid, hukum dan peringatan. Aspek pertama, tauhid, terdapat pada ayat pertama sampai dengan keempat. Aspek kedua, hukum, pada ayat kelima. Dan aspek ketiga, peringatan, tersirat pada ayat keenam dan ketujuh.[12]

Sementara, aspek munasabah antara surat al-Fatihah dengan surat berikutnya  al-Baqarah tercermin dalam hubungan silistika-kebahasaan, dimana aspek ketiga, peringatan, dalam surat al-fatihah berbentuk do’a permohonan “

Tunjukkan kepada kami jalan lurus, (yaitu) Jalan mereka yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[13]

Do’a ini seakan terjawab oleh ayat pertama dalam surat berikutnya al-Baqarah, seolah ketika mereka memohon hidayah kejalan yang lurus, dikatakan kepada mereka; petunjuk jalan lurus yang engkau minta adalah al-Kitab.[14]

Alif laam miin. Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.[15]

Demikianlah, urutan dalam mushhaf didasarkan pada asas mendahulukan yang universal dalam surat al-Fatihah, kemudian surat al-Baqarah bertugas menjelaskan hukum-hukum, diikuti surat Ali-Imran yang memuat “jawaban” atas keraguan musuh, disusul dengan surat an-Nisa’ dan surat al-Ma’idah, yang berfungsi sebagai rincian hukum, dan dua surat berikutnya al-An’am dan al-A’raf yang menjelaskan tujuan dan sasaran hukum itu.[16]

            Keseluruhan hubungan antara surat dalam Al-Qur’an dari sisi kandungan seperti ini tidak menafikan adanya keterkaitan dari sisi lain, misalnya hubungan yang bersifat kebahasaan-silistika.[17]


[1] Kata muqarabah berasal dari qaraba yaitu dekat atau kerabat (qarabah), seperti dua saudara, atau saudara sepupu. Lihat az-Zarkasyi, hlm 35

[2] Prof Dr. Muhammad Alwi Maliki, Zubdah al-Ithqan, hlm 116

[3] Az-Zarkasyi, al-Burhan fi Ilm Al-Qur’an, Juz 1, hlm 37

[4] ibid, Juz 1, hlm 37

[5] QS. 4. An-Nisa’, 82. Bila disebutkan bahwa dalam Al-Qur’an tidak mungkin terdapat banyak “pertentangan”, tidak mengindikasikan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat “sedikit pertentangan”.

[6] Lihat QS. 4 an-Nisa, 51 dan 58

[7] az-Zarkasyi, juz 1, hlm 26

[8] Ibid, hlm 40

[9] QS. 2 al-baqarah, 189

[10] az-Zarkasyi, juz 1, hlm 41

[11] Ibid

[12] Lihat Ibid, juz 1, hlm 17

[13] QS. 1 al-Fatihah, 6-7

[14] Az-Zarkasyi, juz 1, hlm 38

[15] QS. 2. al-Baqarah, 1-2

[16] Lihat az-Zarkasyi, juz 1, hlm 38, 260-262

[17] Lihat misalnya penjelasan hubungan kebahasaan-silistika ini oleh Nasr Hamis Abu Zayid dalam Tekstualitas Al-Qur’an, hlm 205-208

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: