//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab VIII

Definisi Makki dan Madani

Makki adalah ayat atau surat yang diturunkan sebelum hijrah, dan Madani adalah yang diturunkan sesudah hijrah, baik turun di Makkah, di Madinah atau di tempat lain.[1]

Definisi yang penulis pilih ini, menghilangkan anggapan sementara kalangan bahwa penyebutan istilah Makki dan Madani tidak menunjuk pada tempat, tetapi lebih dari itu, sebutan ini menunjuk pada dua fase besar masa turunnya Al-Qur’an, yaitu fase Makkah sebelum hijrah dan fase Madinah setelah hijrah. Ini berarti bahwa klasifikasi ayat pada Makki dan Madani didasarkan gerak teks dalam realitas.

Apabila kita memperhatikan gerak reslitas maka kita harus menyadari bahwa peristiwa hijrah dari Makukah ke Madinah bukan sekedar pindah tempat. Apabila fase dakwah di Makkah nyaris terbatas pada “tugas memberi peringatan” (indzar) dan belum menyentuh batas-batas “risalah” kacuali hanya sedikit, maka perpindahan ke Madinah mengubah wahyu menjadi “risalah”.[2]

Hanya saja, kita tidak mungkin bertumpu pada kriteria gerak realitas ini saja, sebab data-data sejarah yang melimpah ditangan kita berupa keterangan Sahabat atau Tabi’in, tidak mungkin cukup dan tidak final. Karena itu diperlukan kriteria lain secara “ijtihadiyah” yang dapat membedakan Makki dan Madani menurut definisi diatas.

 

Kriteria pembeda

Kriteria “ijtihadiyah” yang penulis maksud telah diupayakan oleh Ulama dalam bentuk pembedaan karakteristik yang berkaitan dengan kandungan teks masing-masing Makki dan Madani, walaupun tidak lengkap dan sempurna (exhaustis) sehingga hanya berupa karakteristik yang menonjol saja, namun criteria karakteristik ini relevan untuk dijadikan patokan umum.

Surat Makki mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Surat yang di dalamnya terdapat ayat sajdah
  2. Surat yang di dalamnya terdapat kata “kalla” yang terdapat pada pertengahan sampai akhir Al-Qur’an
  3. Surat yang di dalamnya terdapat seruan kepada seluruh manusia ”ya ayyuha an-nas”, dan tidak terdapat seruan khusus kepada orang mukmin “ya ayyuha al-ladzina amanu”. Mengenai kasus dalam surat al-Hajj mesih dalam perdebatan
  4. Surat yang di dalamnya terdapat kisah para Nabi dan ummat terdahulu, kecuali surat al-baqarah
  5. Surat yang di dalamnya terdapat kisah Nabi Adam as dan Iblis, kecuali al-Baqarah
  6. Surat yang diawali dengan potongan-potongan huruf, kecuali al-Baqarah dan Ali Imran. Mengenai surat ar-Ra’ad masih diperdebatkan.[3]

Beberapa kriteria di atas mencerminkan gerak teks Al-Qur’an pada fase Makkah sebagai fase indzar yang fokus pada pokok-pokok Keimanan, gambaran Hari Akhir, Surga, Neraka, rincian pembinaan budi pekerti, amal kebajikan dan sanggahan terhadap kaum musyrik. Fase ini mengandalkan sebuah upaya persuasif yang berarti bertumpu pada penggunaan bahasa dengan gaya bahasa memesona dan mengesankan. Gaya bahasa yang seperti ini membangun ayat dan surat yang pendek.

Sementara fase Risalah dalam kriteria Madani, membawa muatan yang lebih luas dari pada sekedar persuasif, oleh karena itu, diperlukan gaya bahasa yang berbeda pada tataran struktur. Dalam risalah, aspek transformasi “informasi-informasi” lebih dominan dari pada aspek persuasi, meskipun aspek ini sama sekali tidak dibuang. Kriteria seperti ini membangun ayat dan surat Madani lebih panjang dari pada Makki. Ciri-ciri surat Madani dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Surat yang di dalamnya terdapat izin berperang, atau menyebut soal peperangan dan menjelaskan hukumnya
  2. Surat yang di dalamnya terdapat rincian hukum hadd, pembagian harta pusaka (fara’idh), hukum sipil, hukum sosial dan hukum antar negara
  3. Surat yang di dalamnya terdapat uraian tentang orang munafik, kecuali surat al-Ankabut, 11 ayat pendahuluannya Madaniyah, dan sisanya Makkiyah
  4. Surat yang di dalamnya terdapat bantuan terhadap Ahlu al-Kitab dan seruan agar mereka mau meninggalkan sikap berlebihan dalam mempertahankan agamanya.[4]

 

Pembagian Makki dan Madani

Sesuai dengan definisi yang kita sepekati, dimana klasifikasi Makki dan Madani mengikuti gerak teks Al-Qur’an dalam realitas, yang kemudian memunculkan berbagai kriteria yang dihimpun sebagian Ulama Al-Qur’an. Konsep utamannya adalah data empiris asbabu an-nuzul dari setiap ayat dan surat. Oleh karena itu, dalam pembagiannya, Makki dan Madani kita dasarkan pada urutan surat menurut urutan turunnya.

Fase Makkah dalam kurun waktu 12 tahun 5 bulan 13 hari, yaitu dari tanggal 17 Ramadhan 41 tahun setelah kelahiran Rasulullah saw, hingga awal Rabi’ul awal 54 setelah kelahiran. Selama kurun waktu itu jumlah surat Makki  yang turun menurut kesepakatan dalam mushhaf sebanyak 86 surat.

 

Sementara fase Madinah dimulai sejak awal Rabi’ul awal 1 Hijriyah sampai dengan 9 Dzulhijjah 10 Hijriyah, yaitu selama 9 tahun, 9 bulan dan 9 hari. Selama kurun waktu ini.


[1] As-Suyuthi, hlm

[2] Nasr Hamid, hlm 90

[3] Subhi Shalih, Membahas Ilmu Al-Qur’an, hlm 250-251. lihat juga az-Zarkashi, juz 1, hlm 188

[4] Subhi Shalih, hlm 252

Diskusi

One thought on “Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab VIII

  1. syukron gus… bisa buat refrensi kuliah…

    Posted by iidnabila | 2 Oktober, 2011, 1:53 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: