//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab X

Definisi Ayat Muhkam dan Mutasyabih

Menurut termonologi “muhkam” dipahami sebagai ayat yang jelas dan nyata, sementara “mutasyabih” dipahami sebagai yang ambigu dan membutuhkan “ta’wil”. Aturan yang disepakati Ulama adalah bahwa yang mutasyabih harus dikembalikan ke yang muhkam. Maksudnya, interpretasi atas “yang ambigu” didasarkan pada “yang distingsi”. Ini berarti yang menjadi kriteria adalah teks Al-Qur’an itu sendiri, dimana yang muhkam menjadi panduan untuk menelusuri yang mutasyabih, bagian-bagian teks Al-Qur’an itu saling “melengkapi” satu sama lain.[1]

Disebutkan dalam Al-Qur’an;

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.[2]

As-Suyuthi menyebutkan bahwa;

Ibn Abbas mengklasifikasikan “ayat muhkam” sebagai ayat nasikh, yang menerangkan hukum (halal haram), kriteria hukum, kewajiban-kewajiban, sesuatu yang harus dipercaya dan dilaksanakan. Sementara “ayat mutasyabih” adalah ayat yang mansukh, didahulukan (muqaddam) atau diundurkan (muakhkhar), ayat perumpamaan (amtsal), ayat sumpah (aqsam), sesuatu yang dipercaya tapi tidak dilaksanakan.[3]

Mekanisme Ayat Muhkam dan Mutasyabih

Ulama membagi struktur bahasa menjadi empat pola sesuai dengan mekanisme hubungan antara ayat yang tersurat dan yang tersirat: [4]

Nash, sebagai ayat yang menunjuk pada makna tanpa mengandung makna lain,

maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna.[5]

Dzahir, sebagai ayat yang mengunggulkan makna “yang lebih jelas” dari dua makna,

dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.[6]

Kata suci (yathhurna) dapat berarti berhenti haid atau mandi besar. Makna yang kedua lebih tepat.

Ta’wil, sebagai ayat yang mengunggulkan makna “yang tidak jelas” dari dua makna,

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.[7]

Kata kebersamaan (ma’a) tidak mungkin diartikan dengan arti dekat secara fisik, tapi kata itu harus dibelokkan (ta’wil) kepada arti kekuasaan, pengetahuan, penjagaan dan perhatian.

Mujmal, dimana ayat tidak dapat dipastikan menunjuk pada salah satu daru dua makna, baik secara hakiki atau metaforis (majaz).

dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan.[8]

Ayat ini dapat diartikan dengan; “hendaklah penulis dan saksi tidak menyulitkan orang yang benar, dengan berbuat curang dalam menulis dan memberikan kesaksian”, yaitu dengan menentukan kata yudharra sebagai bentuk aktif (yudharriru), atau diartikan dengan; “keduanya tidak akan dibuat sulit oleh orang yang benar dengan membebani keduanya dengan sesuatu yang bukan tugasnya” dengan mengikuti bentuk pasif (yudharraru).

Ulama menyebutkan bentuk-bentuk ijmal yang melahirkan ambiguitas, seperti isytirak (kata bermakna lebih dari satu), hadf (penghilangan kata) ikhtilaf maji’I ad-Dlamir (perbedaan acuan kata ganti), kemungkinan athaf dan isti’naf (kata sambung atau bukan), gharabah (kata asing), nudhratu al-isti’mal (kata yang jarang digunakan dalam struktur bahasa), at-taqdim wa at-ta’khir (mendahulukan dan mengakhirkan), qalb al-manqul (mengganti kata yang sudah umum), dan at-takrir al-qathi’u li wasli al-kalam (pengulangan yang menjadikan hubungan kalimat terputus). Bentuk-bentuk ini merupakan gejala bahasa dan stilistika yang ada dalam teks Al-Qur’an.[9] Dan untuk menyikapinya, para Ulama memberikan ketentuan;

Siapa saja yang ingin menfsirkan Al-Qur’an maka pertama kali ia harus mencarinya dalam Al-Qur’an.  Apa yang mujmal dalam satu tempat, penafsirannya ada ditempa lain,  dan apa yang disingkat di satu tempat, di tempat lain diperluas.[10]

Urgensi Muhkam dan Mutasyabih

Al-Qur’an mendeklarasikan dirinya sebagai “kitab suci” yang autensitas dan relevansinya dengan realitas apapun telah dapat dipastikan terjamin.

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.[11]

Dan disebutkan;

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab.[12]

Identitas kitab suci yang seperti ini, mengharuskannya sebagai teks yang tidak hanya memiliki fungsi informatif murni, yang fungsinya sebatas menguraikan kode pesan, dan mengantarkan penerima pesan pada isi dan kandungannya secara lengkap dan final, sebagaimana yang tergambar dalam bentuk “ayat muhkam”. Namun juga harus memiliki bentuk-bentuk teks yang mutasyabih sehingga terbuka untuk multi tafsir dan multi ta’wil, walaupun tetap berpedoman pada ketentuan-ketentuan pokok yang ada pada yang muhkam.

Andaikata seluruh Al-Qur’an itu muhkam, niscaya ia hanya cocok bagi satu golongan saja, dengan jelas ia tidak akan mengakui semua hal kecuali yang berasal dari golongan tersebut, dan ini tidak dapat diterima oleh golongan yang lain. Akan tetapi, bila Al-Qur’an juga memuat yang mutasyabih, maka masing-masing golongan akan berusaha untuk mendapatkan di dalamnya sesuatu yang dapat menguatkan golongannya dan mendukung pendapatnya, masing-masing akan meneliti dan memikirkannya. Dan, apabila mereka bersikap berlebihan dalam hal ini, maka yang muhkam akan menjadi panduan untuk yang mutasyabih.[13]


[1] Nasr Hamid, hlm 221

[2] QS. 3 Ali Imran, 7

[3] as-Suyuthi, juz 2, hlm 6

[4] Ibid , juz 2, hlm 84

[5] QS. 2 al-Baqarah, 196

[6] QS. 2 al-Baqarah, 222

[7] QS. 57 al-Hadid, 4

[8] QS. 2 al-Baqarah, 282

[9] As-Suyuthi, juz 2, hlm 49-50

[10] Ibid, juz 2, hlm 467

[11] QS. 15 al-Hijr, 9

[12] QS 6 al-An’am, 38

[13] As-Suyuthi, juz 2, hlm 31

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: