//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XI

Definisi Asbabu an-Nuzul

Subhi ash-Shalih mendefinisikan Asbabu an-Nuzul sebagai;

Sesuatu yang menjadi sebab turun sebuah ayat atau beberapa ayat, berupa kejadian atau pertanyaan.[1]

Pengetahuan tentang Asbabu an-Nuzul menjadi penting karena dapat menyingkap hubungan dialektika antara teks dengan realitas, dimana dalam konsep Asbabu an-Nuzul, turunnya teks dinilai sebagai “respon” atas realitas, baik dengan cara menguatkan ataupun menolak, dan menegaskan hubungan “dialogis” dan “dialektik” antara teks dengan realitas.

Fakta-fakta empiris berkaitan dengan teks menegaskan bahwa teks ditirunkan secara berangsur-angsur selama lebih dari dua puluh tahun. Teks juga menegaskan bahwa setiap ayat atau sejumlah ayat diturunkan ketika ada satu sebab khusus yang mengharuskannya diturunkan, dan bahwa sangat sedikit ayat yang diturunkan tanpa ada sebab eksternal. Ulama al-Qur’an memandang bahwa bingkai realitas melalui mana ayat atau beberapa ayat dapat dipahami, ditentukan oleh sebab atau munasabah tertentu. Atau dengan kata lain, ulama menyadari bahwa kemampuan mufassir untuk memahami makna teks harus didahului dengan pengetahuan tentang realitas-realitas yang memproduksi teks-teks tersebut[2].

Diriwayatkan bahwa Utsman ibn Mahdzun dan ‘Amr ibn Ma’ad pernah menghalalkan khamar setelah turun ayat pengharaman khamar, dengan dasar ayat berikut:

Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh Karena memakan makanan yang Telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, Kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, Kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan [3].

Entry poin kata #þqßJÏèsÛ(yang telah mereka makan) dengan bentuk lampau, tidak dapat ditentukan waktu yang sebenarnya, apakah setelah turun ayat ketentuan haram khamr atau sebelumnya?, kecuali dengan kajian data kejadian yang sebenarnya berkenaan dengan ayat di atas. As-Suyuthi meriwayatkan sebab turun (asbab an-nuzul) ayat di atas bahwa;

Setelah turun ayat pengharaman  khamr, mereka (para sahabat) bertanya; “lantas bagaimanakah teman-teman kita yang telah mati dalam keadaan perutnya berisi khamr, sedang Allah Swt telah menjadikannya sebagai dosa sebagian perbuatan syetan?”[4].

Definisi yang diberikan Subhi Shalih bahwa asbab an-nuzul adalah sebab yang “mengakibatkan” turun suatu ayat atau beberapa ayat, menafikan relitas apapun yang tidak menjadi sebab dan tidak mengakibatkan turun suatu ayat atau beberapa ayat.

Oleh karena itu, As-Suyuthi menolak kesimpulan al-Wahidi yang menyebutkan bahwa surat al-Fil turun dengan sebab penyerbuan pasukan Habasyah, karena surat al-Fil adalah bentuk cerita persuasif terhadap kaum Quraisy saat itu[5].

Alasan Al-Qur’an turun secara bertahap

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar)[6].

Pertanyaan ini bergulir dari kaum musyrik karena mereka mempunyai konsep mengenai kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan secara lengkap dan terbukukan sebagaimana papan (lauh) milik Musa as.

Pertanyaan yang lain mengenai hal ini adalah; mengapa harus mempertimbangkan realitas dan sebab dalam menurunkan secara bertahap, padahal Allah Swt mengetahui seluruh realitas, global dan detilnya, sebelum realitas itu terjadi? Bila kemudian dinilai bahwa turun wahyu terikat dengan sebab, maka sama dengan menyatakan perbuatan Allah Swt terikat dengan ruang dan waktu. Kesimpulan ini mengandung semacam penghinaan terhadap “kekuasaan Tuhan” yang mutlak. Maka pertanyaan berikutnya; bukankah dalam jangkauan kekuasaan Allah Swt yang mutlak untuk menurunkan al-Qur’an sekaligus, bukankah Ia mampu untuk menjadikan Nabi Saw menghafal sekaligus? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini;

Tidak semua yang mungkin terjadi harus terjadi [7].

Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa yang menjadi alasan utama adalah pertimbangan kondisi Nabi Saw sebagai “penerima pertama” wahyu sebagai proses komunikasi yang berat (inna sanulqi ‘alaika qaulan tsaqila[8]).

Oleh karena Rasulullah Saw adalah seorang ummi, tidak dapat baca tulis, maka wahyu diturunkan secara bertahap kepadanya agar mudah baginya untuk menghafal. Ini berbeda dengan Nabi-Nabi lainnya, sebab mereka dapat menulis dan membaca sehingga dimungkinkan bagi mereka untuk menghafalkan semuanya apabila diturunkan sekaligus[9].

Dan tidak hanya alasan tradisi lisan yang dimasa itu berkembang, tapi juga alasan untuk “menguatkan hati” Rasul Saw.

Sebab, bila wahyu turun dalam setiap peristiwa, ini akan lebih memantapkan hati dan lebih memberikan perhatian terhadap Rasul Saw. Dan, ini mengharuskan Malaikat sering turun kepadanya dan memperbaharui pertemuan dengannya dengan membawa misi dari sisi Yang Mahamulia. Dari sinilah, muncul kegembiraan yang tidak terungkap dengan kata-kata[10].

Mengenai tudingan bahwa tindakan Allah Swt terikat dengan ruang dan waktu, sebagaimana yang dipertanyakan, yang ini dipertegas dengan pernyataan al-Qur’an sendiri bahwa;

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran[11].

Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[12].

Hal ini sangat berkaitan dengan konsep eternalitas teks di Lauh al-Mahfudz yang kemudian menjadi polemic antara kelompok Asy’ari dan kelompok mu’tazilah mengenai ke-qadim-an dan kebaruan kalam Allah. Yang menjadi etry poin adalah kata A̓Ré&dan m»oYø9t“Rr&. Apa yang dimaksud tindakan Allah “menurunkan” dan kenapa menggunakan ungkapan yang menunjuk bentuk lampau?. Dalam kajian ini, Nasr hamid dalam sub bab ‘model penurunan secara bertahap’, mengungkapkan beberapa kesimpulan; Pertama, al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam qadr, kemudian diturunkan secara bertahap dalam waktu 20, atau 23, atau 25 tahun. Kedua, bahwa al-Qur’an diturunkan ke langit dunia selama dua puluh kali malam qadr dalam  20 tahun, atau dua puluh tiga kali dalam 23 tahun, atau dua puluh lima kali dalam 25 tahun. Setiap malam qadr, Allah menetapkan jumlah yang akan diturunkan secara bertahap dalam satu tahun. Ketiga, bahwa al-Qur’an diturunkan pertama kali di malam qadr, kemudian secara bertahap dalam berbagai waktu . Menurut Nasr Hamid, kesimpulan pertama lebih disepakati[13].

Dalalah Khusus as-Sabab dan Umumu al-Lafadz

Mengetahui asbab an-nuzul bukan sekedar gemar mengamati fakta sejarah yang meliputi pembentukan teks, tapi lebih dari itu, asbab an-nuzul bertujuan memahami teks dan menghasilkan maknannya, karena pengetahuan tentang sebab menghasilkan pengetahuan mengenai akibat (musabbab).

Realitas tidak terhingga jumlahnya, ia senantiasa bergerak dan mengalir. Sementara itu di sisi lain, teks – secara tekstual – sangat terbatas, meskipun ia mampu menjangkau realitas dengan kemampuan generalisasi dan abstraksi yang didasarkan pada tanda-tanda (illat), mungkin dari struktur teks atau dari luar struktur.

Lebih jauh, ini dapat membantu dalam mentranformasikan teks dari realitas partikular (khusus as-sabab) dan mengeneralisasikannya ke realita yang menyerupainya melalui analogi (qiyas). Kajian seperti inilah yang membutuhkan keahlian khusus bagi mufassir untuk memahami secara benar karakteristik ujaran bahasa dalam teks yang mampu melampaui realitas particular (umumu al-lafadz), dan menangkap adanya “tanda-tanda” dibalik teks yang mengikat umumu al-lafadz pada khusus as-sabab lewat proses analogi[14]. Sebagai contoh, al-Bukhari meriwayatkan bahwa;

Seorang bernama Hilal ibn Umayyah di hadapan Rasulullah Saw menuduh isterinya berzina dengan lelaki lain lain bernama Syarik ibn Sahma’. Nabi berkata; “ajukan bukti, atau punggungmu akan didera”, hilal berkilah “wahai Rasul, jika ada seorang diantara kami memergoki isterinya sedang bersama lelaki lain, apakah masih diperlukan pembuktian?” [15].

Sebagai respon terhadap pertanyaan Hilal, turun ayat berikut;

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar [16].

Dualisme antara khusus as-sabab dan umum al-lafadz pada ayat di atas, para ulama lebih memilih aspek keumuman dari pada kekhususan [17], dimana setiap relitas dengan illat yang sama dengan kejadian yang menimpa Hilal, harus dihadapkan pada ketentuan ayat di atas.

Namun, tidak setiap ayat dalam al-Qur’an dapat disikapi dengan mengunggulkan keumuman teks dan mengabaikan kekhususan sebab, karena dalam beberapa kasus akan menghadapi konsekuensi yang sulit diterima oleh prinsip agama. Khususnya yang berkaitan dengan hukum, karena akan menghancurkan hukum itu sendiri[18]. Sebagai contoh, penahapan larangan khamr dalam tiga fase  yang diungkapkan oleh tiga ayat berikut;

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”[19].

Ayat ini merupakan jawaban dari pertanyaan sebagaimana terlihat jelas dari teks itu sendiri. Meskipun mengisyaratkan bahwa dampak negative lebih besar, namun masyarakat saat itu, lebih memilih untuk tetap mengambil dampak positifnya. Tekanan realitas budaya “kecanduan” yang mengakar, memaksa teks pada fase pertama ini hanya menyebutkan dampak negatifnya saja, tanpa ada larangan. Ayat kedua;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan[20].

Larangan pada fase kedua, sebagai terapi bertahap terhadap situasi social yang masih kecanduan. Larangan minum khamr sebelum shalat, tentu tidak memberatkan. Ditambah dengan alasan yang cukup rasional, dimana ayat ini turun disebabkan oleh peristiwa yang terjadi pada Ali ibn Abi Thalib ra. Yang dijamu oleh Abdurrahman ibn ‘Auf dengan khamr, dan kemudian memimpin shalat sebagai imam. Di dalam shalat itu Ali melakukan kesalahan dalam bacaan surat al-Kafirun karena masih mabuk[21]. Fase berikutnya adalah pengharaman total dengan Ayat ketiga;

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)[22].

Bila demikian, ayat pertama dan kedua, sama sekali tidak dapat dipegang keumumannya tanpa mempertimbangkan sebabnya yang khusus. Karena bukan tidak mungkin sebagian orang hanya akan menerapkan ayat pertama atau kedua saja.

Faedah Asbabu an-Nuzul

Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang Telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah[23].

“Sebab-akibat” sebagaimana yang ada pada konsep asbab an-nuzul adalah “hukum alam” yang tidak akan pernah berubah. Maka teks al-Qur’an sebagai respon realitas adalah “akibat” terjadinya “sebab”. Pemahaman seperti ini membawa kesimpulan tentang urgensi asbab an-nuzul sebagaimana Ibn Taimiyah menyatakan:

“Pengetahuan mengenai Asbabu an-Nuzul dapat membantu memahami ayat karena pengetahuan mengenai sebab dapat melahirkan pengetahuan mengenai akibat (musabab)” [24].

“Pengetahuan tentang musabab” berimplikasi pada banyak hal. Aspek apapun yang harus diketahui oleh mufassir dalam menghadapi suatu teks, mulai dari mekanisme teks itu sendiri, cara baca (qira’ah), makna harfiyah, aspek gramatika, sastra, sampai pada penentuan ‘am atau khass, nasikh atau mansukh, dan penentuan khusus as-sabab atau umum al-lafadz. Sebagai contoh, kasus pada ayat berikut;

Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya[25].

Abu Ubaidah membaca kata kerja $tRötBr&(kami perintahkan) menjadi $tRötBr dengan bentuk wazan @èù&(af’ala) yang berasal dari akar kata IÉ & (amira) dengan arti bertambah. Ini dilakukan untuk menghindari pengertian bahwa Allah memerintahkan perbuatan jahat, maksudnya untuk menghindari lahiriyah teks. Pengetahuan asbab an-nuzul akan menghindarkan kita dari cara baca semacam ini. Dari konteks ayat sangat jelas bahwa ayat tersebut muncul sebagai ancaman. Kata ptƒös%menunjuk pada ancaman terhadap penduduk Makkah. Semantara konteks ancaman mensyaratkan adanya penegasan kekuasaan, yang ditunjukkan dengan kata $tRötBr& [26].


[1] Subhi ash-Shalih, 173-174

[2] Nasr Hamid, hlm 115-116

[3] QS. 5 al-Ma’idah, 93

[4] As-Suyuthi, Asbab an-Nuzul, hlm 123

[5] As-Suyuthi, al-Ithqan, hlm 94

[6] QS. 25 al-Furqan, 32

[7] Az-Zarkasyi, hlm 231

[8] QS. 73 al-Muzammil, 5

[9] Az-Zarkasyi, hlm 231

[10] Ibid.

[11] QS. 2 al-Baqarah, 185

[12] QS. 97 al-Qadr, 1

[13] Nasr Hamid, hlm 120

[14] Abdurrahman, Korelasi Naskh dan asbab an-nuzul.

[15] Al-Bukhari, kitab as-syahadat nomor Hadits 2475

[16] QS 24 an-Nuur, 6

[17] As-Suyuthi, juz 1, hlm 89

[18] Nasr Hamid, hlm 124

[19] QS 2 al-Baqarah, 219

[20] QS 4 an-Nisa, 43

[21] Ibn Katsir, Tafsir, juz 1, hlm 665

[22] QS. 5 al-Ma’idah, 90-91

[23] QS 33 al-Ahzab, 62

[24] As-Suyuthi, juz 1, hlm 28, az-Zarkashi, juz 1, 23

[25] QS 17 al-Isra’, 16

[26] Nasr Hamid, hlm 131

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: