//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XII

Definisi Nasikh dan Mansukh

Dua ayat sebagai bekal definisi naskh, ayat pertama;

Ayat mana saja yang kami nasakh-kan, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya[1].

Dan ayat kedua;

Dan apabila kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya[2].

Dalam kajian ini, yang menjadi entry poin dalam dua ayat di atas adalah kata ‡|¡YtR, kata  !$oYø9£‰t/ dan kata $ygÅ¡YçR. Pertama, kata ‡|¡YtR  diartikan sebagai proses @„‰<? (tabdil, penggantian) berdasarkan kata !$oYø9£‰t/ (kami ganti) dan kata (kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya), dan proses penggantian yang dimaksud dengan metode ‡|¡Y  (naskh, pemindahan) berdasarkan kata ‡|¡YtR . Dalam bagian lain al-Qur’an menyatakan;

“Inilah Kitab (catatan) kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya kami Telah menyuruh “mencatat” apa yang Telah kamu kerjakan”[3].

“Mencatat” maksudnya memindahkan atau menyalin.

Dalam pengertian ini, naskh adalah mengganti teks mansukh dengan teks nasikh dengan tetap mempertahankan kedua teks tersebut, karena hanya memindah “keberlakuan hukum” dari teks mansukh ke teks nasikh. Sebagai contoh, misalnya urutan-urutan fase penetapan hukum keharaman khamr. Dimana terdapat tiga ayat dalam Al-Qur’an yang menceritakan “kehaluasan” hukum haramnya, yaitu: 2:219, 4:43, 5:90-91. di sinilah peranan penting Asbab an-nuzul, dimana untuk menentukan ayat yang mansukh harus diketahui dengan jelas urutan turunnya ayat-ayat tersebut. Dari ketiga fase tahapan, tiga ayat tersebut tetap dipertahankan keberadaannya dalam al-Qur’an.

Teori seperti ini yang penulis kira sebagai penyabab az-Zarkasyi memilih membaca kata $ygÅ¡YçR dengan menambah hamzah; $yg¤Å¡YçR , yang berarti “menagguhkan”, sebagaimana perintah berperang bagi kelompok yang masih lemah[4]. Keberadaan teks mansukh dalam al-Qur’an, memunculkan teori “naskh temporal” bahwa teks itu hanya mansukh dalam jangka waktu tertentu, hingga pada saatnya bila kondisi “memungkinkan”, teks mansukh akan dipergunakan kembali, dengan mengesampingkan teks nasikh. Teori seperti ini sepertinya mulai marak dipergunakan. Hanya saja, penetapan hukum keharaman tersebut tidat dapat dipaksakan secara gegabah dengan pijakan umum al-lafadz saja, sebagaimana yang telah penulis kaji dalam bab sebelumnhya. Karena apabila itu tetap diterapkan, maka tidak menutup kemungkinan ada pihak yang dengan sengaja memegang ayat pertama atau kedua untuk suatu kepentingan, dan ini akan menhancurkan tujuan yang sebenarnya dari diturunkannya hukum pengharaman tersebut (hikmah at-tasyri’).

Namun pada bagian lain, al-Qur’an menyatakan;

Dan kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah “menghilangkan” apa yang dimasukkan oleh syetan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[5].

Kata ‡|¡Yu‹ pada ayat di atas , diartikan sebagai “menghilangkan”. Sebagai bentuk lain dari naskh, dimana teks mansukh “dihilangkan” dan diganti dengan teks nasikh, atau hanya kandungan hukumnya saja yang “dihilangkan”.

Pengertian yang dihasilkan dari menghilangkan kandungan hukum teks mansukh yang dipertahankan adalah hampir sama dengan pengertian teori perpindahan hukum dari teks mansukh kepada teks nasikh, hanya saja, teori menghilangkan kandungan hukum tidak memungkinkan adanya penggunaan kandungan teks mansukh itu selamanya, karena telah dihilangkan oleh teks nasikh. Karena itu, dalam kasus tiga fase penahapan status keharaman khamr, seseorang tidak dapat menggunakan kandungan hukum ayat fase pertama atau kedua dengan dalih umum al-lafadz, karena telah ada ayat fase katiga sebagai teks nasikh. Sedangkan kemungkinan yang terjadi dari menghilangkan teks mansukh adalah, pertama, teks mansukh hilang bersama kandungan hukumnya, atau kedua, kandungan teks mansukh tetap dipertahankan.

Klasifikasi Nasikh dan Mansukh

Dari analisa ini, ulama menyimpulkan tiga pola naskh:

1.                  ayat yang teksnya mansukh, namun hukum tetap

2.                  ayat yang hukumnya mansukh, dan teksnya tetap

3.                  ayat yang teks dan hukumnya mansukh sekaligus.

Pola pertama dan ketiga mengasumsikan adanya perubahan dalam teks; sebagian ayat dari teks tersebut “dibuang”, baik itu hukumnuya tetap berlaku sebagaimana pada pola pertama, atau hukumnya juga dihapus bersama teksnya sebagaimana pada pola ketiga. Asumsi seperti ini mengandung konotasi yang berbahaya[6].

Kalau mau, bisa saja mereka mencari ayat sebanyak-banyaknya yang termasuk pada pola pertama[7].

Contoh yang diajukan ulama pada pola pertama adalah riwayat bahwa;

Dalam surat an-Nur disebutkan;

الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما ألبته نكالا من الله

“Laki-laki tua dan wanita tua, bila berzina maka rajamlah, sebagai balasan siksa dari Allah.” Oleh karena itu, Umar mengatakan; “Seandainya tidak takut dinilai bahwa Umar telah menambah-nambah al-Qur’an, niscaya aku tulis dengan tanganku sendiri”. Diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahihnya[8].

Keengganan Umar ra. Untuk menulisnya pada mushhaf menurut as-Suyuthi berlasan, karena Umar pernah manyatakan bahwa;

“Pada saat ayat ini turun, aku menemui Rasul Saw dan menanyakan; apakah ayat tersebut saya tulis?, seolah-olah Rasulullah Saw enggan menulisnya”. Kemudian Umar mengatakan; “bukankah laki-laki tua yang belum menikah (tidak muhshan) ia dicambuk, dan pemuda yang sudah menikah (sudah muhshan) dirajam?”. Ibn Hajar dalam Syarah Minhaj menyatakan; “dari riwayat ini, dapat dipahami mengapa bacaannya mansukh, sebab aplikasinya didasarkan bukan pada lahiriyah dari keumuman ayat itu”[9].

Yang dimaksud bukan keumuman dari kata “laki-laki tua”, tetapi kerkhususannya dengan pengertian laki-laki yang sudah menikah (sudah muhshan). Penemuan hikmah naskh teks oleh Ibn Hajar adalah persoalan yang rumit, Karena itu Nasr Hamid membahasnya dalan sub bab yang cukup ekstrim “pemisahan antara hukum dan bacaan”. Dari penjelasan di atas, jelas bahwa contoh pola pertama sangat tergantung dengan riwayat-riwayat yang dinilai berasal dari Hadits Ahad yang tidak dapat dipergunakan untuk menetapkan al-Qur’an. Lebih lanjut, Nasr Hamid berpendapat bahwa riwayat-riwayat itu tidak menjadi legetimasi terjadinya ayat, sebab pertama, sunnah sebagai teks skunder berfungsi menafsirkan, menjelaskan dan mengungkap dengan jelas hal-hal yang samar pada teks utama[10]. Dan kedua, seperti yang diketengahkan oleh Ibn Hisar; “bagaimana mungkin bisa terjadi naskh tanpa ada gantinya”. Persoalan ini biasanya dijawab bahwa; seluruh kesatuan yang ada dalam al-Qur’an dan tidak mansukh, adalah pengganti dari teks yang mansukh[11].

Sementara contoh untuk pola ketiga, az-Zarkasyi meriwayatkan bahwa;

A’isyah mengatakan, “diantara yang diturunkan dari al-Qur’an adalah

sepuluh kali susuan yang diketahui (menyebabkan terjadinya hukum mahram), ayat ini kemudian mansukh dengan lima  susuan yang diketahui. Setelah Rasulullah Saw meninggal, hukum yang terakhir menjadi bagian dari al-Qur’an”. Diriwayatkan oleh Muslim. Ulama kemudian membahas pernyataan A’isyah bahwa “hukum yang terakhir tetap menjadi bagian al-Qur’an”, menurut lahiriyah pernyataan ini menunjukkan bahwa ayat itu tetap dibaca (ada dalam al-Qur’an), padahal ternyata tidak. Diantara mereka mengatakan bahwa maksudnya (adanya perubahan itu, terjadi) menjelang Rasulullah Saw meninggal. Yang jelas, bacaannya juga mansukh, yang hal itu baru diketahui masyarakat setelah Rasul Saw meninggal. Bahkan setelah Rasul Saw meninggalpun sebagian masyarakat tetap membacanya.”[12]

Dari riwayat di atas, memunculkan beberapa persoalan, antara lain pertama, bahwa ternyata dalam al-Qur’an tidak ada teks khusus mengenai ketentuan frekuensi susuan itu. Ini berarti teks yang mansukh dan sekaligus tidak ada teks yang menjadi nasikh. Teks itu hanya ada pada riwayat hadits, sehingga jika benar terjadi naskh, maka itu terjadi dalam hadits bukan pada al-Qur’an[13]. Kedua, sebagian Ulama menolak pola naskh seperti ini, sebab bersumber dari riwayat hadits ahad, yang tidak diperkenankan menetapkan turun ayat, atau terjadinya naskh dalam al-Qur’an dengan sumber model ini, yang memang tidak dapat dijadikan argumentasi[14].

Dari kedua contoh yang dikemukakan ulama untuk pola pertama dan pola ketiga, dapat disimpulkan bahwa masih terdapat polemik mengenai legitimasinya sebagai ayat yang mansukh dari al-Qur’an, baik mansukh bacannnya saja pada pola pertama, ataupun mansukh bacaan dan sekaligus kandungan hukumnya pada pola ketiga. Karena itu Nasr Hamid menyatakan, “bagaimanapun juga, sikap menerima total riwayat klasik yang menyebabkan timbulnya kedua pola ini”.[15]

Semestinya, para pakar masa lalu mempunyai keberanian yang sangat tinggi untuk menghadapi riwayat-riwayat seperti ini dari pada hanya berusaha mengkompromikannya dengan mengajukan asumsi yang memiliki konsekuensi yang jauh lebih buruk dan sulit dihindari[16].

Ia juga menyatakan;

Pola kedua cenderung kami katakan sebagai satu-satunya pola yang masuk dalam pengertian naskh, pola yang lain sebenarnya bukan[17].

Sebagai contoh dari pola yang kedua, antara lain ayat;

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[18]

Yang dinaskh oleh ayat;

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.[19]

Alasan Konsep Naskh dalam Al-Qur’an

Ketika doktrinitas keimanan mengharuskan bahwa ayat Allah tidak tergantikan dan tidak dapat direvisi (Laa mubaddila likalimaatihi), maka konsep Naskh bukanlah istilah lain dari revisi ayat al-Qur’an sebagai kalam Allah. Alasan terkuat, sebagaimana ia menjadi dasar utama adanya konsep Naskh dalam al-Qur’an adalah surat an-Nahl, ayat 98 s/d 103;

Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. Dan apabila kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. bahkan kebanyakan mereka tiada Mengetahui. Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang Telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Dan Sesungguhnya kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang[20].

Konteks ayat di atas adalah; pertama, membaca al-Qur’an dan mengawalinya dengan meminta perlindungan dari syetan, kedua, sanggahan terhadap tuduhan mengada-ada dengan penjelasan bahwa al-Qur’an berasal dari Allah yang dibawa turun oleh ar-ruh al-amin, ketiga, sanggahan terhadap tuduhan bahwa sebenarnya ada yang mendiktekan al-Qur’an kepada Nabi Saw.

Dan surat al-Baqarah, ayat 105 s/d 108;

Orang-orang kafir dari ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. Ayat mana saja yang kami nasakh-kan, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?. Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, Maka sungguh orang itu Telah sesat dari jalan yang lurus[21].

Konteks kelompok ayat kedua ini berbeda dengan yang sebelumnya yang menunjuk pada masyarakat berkitab (ahl kitab) yang merasa superiotas mereka atas masyarakat ummi digoncang dengan adanya al-Qur’an. Mereka sering mengeluarkan tuduhan bahwa ayat al-Qur’an kontradiktif.


[1] QS 2 al-Baqarah, 106

[2] QS 16 an-Nahl, 101

[3] QS 45 al-Jatsiyah, 29

[4] Az-Zarkasyi, juz 2, hlm 42

[5] QS 22 al-Hajj, 52

[6] Nasr Hamid, hlm 152

[7] Subhi Shalih, hlm 374

[8] Az-Zarkasyi, juz 2 hlm 35

[9] As-Suyuthi, juz 2 hlm 70

[10] Nasr Hamid, hlm 159

[11] Ibid, hlm 160

[12] Az-Zarkasyi, juz 2 hlm 39

[13] Nasr Hamid, hlm 156

[14] Az-Zarkasyi, juz 2 hlm 39-40

[15] Nasr Hamid, hlm 159

[16] ibid, hlm 157

[17] Ibid, hlm 152

[18] QS 2 al-Baqarah, 240

[19] QS 2 al-Baqarah, 234

[20] QS 16 an-Nahl, 98-103

[21] QS 2 al-Baqarah, 105-108

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: