//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XIII

Definisi I’jazu Al-Qur’an

Kajian mengenai I’jazu al-Qur’an pada dasarnya adalah kajian tentang karakteristik teks al-Qur’an yang membedakan dan menjadikannya lebih unggul dari teks-teks lain. Teks al-Qur’an dinilai sebagai sebuah “mukjizat” di luar kebiasaan, sama halnya dengan mukjizat yang di miliki para Nabi sebelumnya, seperti menghidupkan orang yang sudah meninggal atau yang lain. Bahkan al-Qur’an adalah “mukjizat tertinggi”.

Mukjizat sendiri secara bahasa adalah menetapkan “ketidakmampuan” kepada orang lain. Seseorang dianggap meng-I’jaz saudaranya, bila ia menetapkan ketidakmampuan saudaranya itu terhadap suatu hal. Dan al-Qur’an meng-I’jaz manusia, dimana ia menetapkan ketidakmampuan manusia untuk membuat sesuatu serupa al-Qur’an.[1]

Sesuatu dapat dinilai sebagai mukjizat bila memiliki tiga aspek;

1.      tantangan, untuk mengungguli atau setidaknya menyamai kemampuan yang dimilkinya

2.      kepastian tidak adanya orang lain yang mampu mengungguli atau menyamainya

3.      kesempatan bagi orang lain untuk mengungguli atau menyamainya.

Pada aspek pertama, al-Qur’an menantang bangsa Arab saat itu untuk menyamainya;

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.[2]

Pada aspek kedua, al-Qur’an menyatakan;

Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.[3]

Pada bagian lain dinyatakan;

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.[4]

Sementara pada aspek ketiga, al-Qur’an menyatakan bahwa;

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.[5]

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, huruf-huruf hijaiyah dan dengan struktur kalimat arab. Sementara mereka adalah bangsa arab dengan kultur-lisan yang kental, dengan kompetisi-kompetisi bahasa dan sastra ditengah-tengah mereka. Kompetensi kultur-sosial saat itu adalah penghargaan pada bahasa arab, sebagai bahasa mereka sehari-hari. Ini secara tekstual. Sementara secara kontekstual, mereka diberi peluang seluas-luasnya untuk “meminta bantuan” siapapun selain Allah Swt. Dan dari segi waktu, mereka diberi kesempatan yang luas selama lebih dari 20 tahun, karena al-Qur’an tidak turun sekaligus.

Maka dari tiga aspek mukjizat al-Qur’an tersebut di atas, Tidak diragukan bahwa Allah Swt melalui bahasa Rasul-Nya dalam berbagai ayat, menantang manusia untuk membuat serupa al-Qur’an. Dan mereka dengan kesungguhan usaha untuk menyamainya dimana mereka berkesempatan untuk itu, tetap mereka tidak dapat membuat yang serupa dengannya. Padahal seandainya mereka berhasil menyamai al-Qur’an dan menentangnya, niscaya mereka dapat “menyelamatkan” tuhan-tuhan mereka dan membatalkan segala hujjah Rasul, sehingga tidak perlu lagi cara kekerasan dan peperangan selama sekian tahun. Karena itu, realitas yang menunjukkan bahwa mereka lebih memilih untuk menggunakan kekerasan dari pada berusaha untuk menyamai al-Qur’an adalah sebuah “pengakuan” yang nyata bahwa mereka tidak mampu untuk menyamainya, mereka sebenarnya menyadari bahwa al-Qur’an diluar kemampuan manusia, yang berarti bahwa al-Qur’an hanya dari Allah Swt.[6]

Konsensus yang ada tentang konsep I’jaz, adalah bahwa kemukjizatan al-Qur’an tidak hanya pada satu atau beberapa aspek keunggulan yang dimiliki al-Qur’an, namun dalam banyak hal yang  menuntut adanya usaha pelesuruan lebih lanjut keberadaan mukjizat itu pada hal-hal yang tidak atau belum kita ketahui. Keunggulan yang berhasil diungkap para ulama terangkum dalam empat aspek:

1.      signifikansi struktur kalimat dan kandungannya

2.      relevansi satuan ayat terhadap penemuan-penemuan ilmiyah

3.      informasi dan data tentang hal ghaib

4.      nilai sastra yang tinggi dengan pengaruh yang luar biasa.

Untuk menterjemahkan keempat aspek I’jaz al-Qur’an tersebut, penulis memilih untuk membaginya kedalam dua kelompok besar, pertama; I’jazu al-Qur’an di dalam teks, dan kedua; di luar teks.

I’jazu Al-Qur’an di luar Teks

Relevansi al-Qur’an terhadap segala penemuan ilmiyah adalah bukti keunggulan al-Qur’an dibanding teks-teks yang lain. Kaitannya dengan firman Allah bahwa;

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab.[7]

Dan, dalam bagian lain;

Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu.[8]

Bahwa setiap gerak realitas yang telah, sedang dan akan terjadi, disebutkan secara meyakinkan dalam al-Qur’an. Baik dalam bentuk distingsi (mubayyanah, muhkam) atau dalam bentuk ambigu (mujmalah, mutsyabih) yang harus ditelusuri lebih lanjut dari sumber lain.[9] Bentuk ayat yang ambigu menjadi alasan universalitas cakupan satuan ayat dalam al-Qur’an.

Setiap ayat, bahkan jumlah ayat atau kata, dan nama surat merupakan “kebijakan abadi”. Ia mempunyai beberapa lapisan pengertian, sesuai dengan tingkat ilmu pengetahuan manusia yang membacanya.[10]

Kita lihat, misalnya, salah satu ayat dari Surat ar-Rahman, yang membahas tentang air;

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya Kemudian bertemu, Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.[11]

Di antara ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa kata la yabghiyan maksudnya masing-masingnya tidak menghendaki. dengan demikian maksud ayat 19-20 ialah bahwa ada dua laut yang keduanya tercerai Karena dibatasi oleh “tanah genting”, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (Tidak diperlukan) Maka pada akhirnya, tanah genting itu dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas), Maka bertemulah dua lautan itu. seperti terusan Suez dan terusan Panama.

Sedikit penafsir yang mengartikan ini adalah tanah genting yang “tidak terlihat”. Penafsir lainnya menyebutkan bahwa air tawar di sungai dan air asin di lautan bertemu namun tidak saling melampaui karena perbedaan kepekatannya. Sampai di sini terjemahan belum bermasalah. Keterangan lebih lanjut: Fenomena menarik adalah apa yang diungkapkan oleh seorang ilmuwan Prancis Jacques Yves Cousteau yang meneliti berbagai lautan di dekat Selat Jibraltar, ditemukan bahwa pertemuan antara air dari Laut Mediteranian (Laut Tengah) dengan air dari Lautan Atlantik tidak bercampur, walaupun keduanya air asin. Salinitas yang berbeda menghasilkan “dam” yang tidak terlihat. Air Laut Tengah dengan salinitas di atas 36,5% dan temperatur sekitar 11,5 derajat Celsius, terisolasi di kedalaman 900 sampai 1100 meter. Sedangkan air yang berasal dari Lautan Atlantik mempunyai salinitas di bawah 35%, membungkus air Laut Tengah dengan temperatur di bawah 10 derajat Celsius.[12]

Pada bagian lain Arifin Muftie menulis;

Mufasir modern sepakat bahwa al-Qur’an dalam peng­gambarannya sangat istimewa, karena struktur sistematikanya matematis. Al-Qur’an menggunakan kodetifikasi bilangan pri­ma secara bertingkat: surat, ayat, kata, dan huruf. Dua dekade yang lalu, pembahasan masalah seperti ini merupakan hal yang sensitif, karena bisa dipandang “memperkosa” ayat-ayat al­Qur’an. Di satu sisi, tingkat penemuan yang membahas angka-­angka masih “dangkal” — sehingga kurang menarik. Namun kini, dengan banyaknya alat bantu seperti komputer dan ke­majuan di bidang sains yang berhubungan satu sama lain, studi mengenai “kodetifikasi” al-Qur’an makin menampakkan hasil­nya yang luar biasa. Tentu saja, walaupun isinya sama. Hanya al-Qur’an mushaf Ustmani saja yang dipakai, dan hanya versi itulah yang memenuhi kriteria kodetifikasi al-Qur’an, sebagaimana bahasa aslinya pada saat wahyu diturunkan.

Penomoran surat dan penempatan ayat disusun berdasar­kan petunjuk Nabi, tidak sama dengan urutan turunnya wahyu. Hal ini membingungkan para mufasir klasik selama berabad­-abad dan menjadi sasaran kritik para Orientalis. Sekarang telah diketahui, karena di samping susunan isinya yang serasi dan harmonis, pembaca yang serius akan menemukan contoh­-contoh struktur bilangan prima dari ratusan struktur yang ada. Istimewa sekali karena struktur tersebut menggunakan bilang­an prima kembar, di samping ujicoba dengan menggunakan Hukum Benford untuk melihat “keaslian” al-Qur’an.[13]

Unsur matematis al-Qur’an yang kemukakan Arifin Muftie dapat ditelusuri lebih lanjut dalam bukunya Matematika Alam Semesta. penulis hanya ingin menekankan urgensi matematis al-Qur’an sebagai salah mukjizat yang luar biasa.

Arifin mencontohkan bahwa kata-kata dalam al-Qur’an mempunyai “makna yang bertingkat”. Beberapa kata mempunyai arti langsung, tetapi yang lain tidak, atau belum tentu. Misalnya saja, kata yang berarti bulan adalah syahr, dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 12 kali. Ini sesuai dengan 12 bulan dalam 1 tahun. Sedangkan kata yang berarti hari adalah yaum, yang disebutkan 365 kali dalam al-Qui an. Ini juga sesuai bahwa 1 tahun rata-rata sama dengan 365 hari. Tetapi kata yang berarti tahun, yaitu sanah disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 19 kali! Bagaimana kita memahaminya?

Penemuan astronomi menyatakan bahwa; ang­ka 19 atau 19 tahun adalah satu periode di mana posisi relatif bumi dan bulan kembali ke posisi semula secara berulang sete­lah 19 tahun kemudian. Siklus ini ditemukan oleh Meton orang Yunani dan disebut Metonic cycle. Jika sekarang tanggal 20 Maret tahun 2000, dan bulan purnama terlihat pada posisi dekat bintang Virgo, kapan kita dapat melihat bulan purnama pada posisi yang sama?. Jawabnya bukan bulan depan atau tahun depan, tetapi tanggal 20 Maret tahun 2019, 19 tahun kemudian. Ini dikarenaka fase Tahun Matahari dan Tahun Bulan akan bertemu tepat pada siklus yang ke-19, di mana 235 bulan Kalender Bulan tepat sama dengan siklus 19 tahun berdasarkan Kalender Matahari. (29,53 hari x 235 kira-kira sama dengan 365,24 hari x 19). Meton dari Athena pada tahun 440 SM mengetahui bahwa 235 bulan berdasarkan Kalender Bulan sama dengan 19 tahun Kalender Matahari. Oleh karena itu, siklus ini dikenal dengan siklus Meton, dan merupakan basis perhitungan kalender di Yunani sampai Kalender Julius Caesar diperkenalkan pada tahun 46 SM. Bagi kaum Muslim, menggunakan Kalender Bulan karena sesuai dengan kebutuhan untuk perhitungan bulan Ramadhan, bulan Haji, dan peristiwa-peristiwa Islam lainnya. Namun sebelumnya, Kalender Bulan ini dipergunakan juga oleh kaum Yahudi, bangsa Babilonia, dan Cina.[14]

Banyak kalangan yang salah interpretasi dari apa yang dimaksud dengan relevansi seluruh satuan ayat al-Qur’an pada setiap penemuan-penemuan ilmiyah. Setiap terjadi penemuan ilmiyah terbaru, mereka selalu berusaha mancari dan menetapkan suatu bagian ayat al-Qur’an tertentu yang bersifat ambigu sebagai penetapan ta’wil relevansinya terhadap penemuan tersebut[15]. Kerangka pemikiran seperti ini tidak dapat dibenarkan, karena tidak dapat dipastikan bahwa setiap teori yang dihasilkan penemuan ilmiyah adalah kebenaran hakiki, sesuai yang diketahui oleh Allah dalam ilmu-Nya. Penemuan demi penemuan akan selalu berkembang dinamis sejalan dengan usahan penelitian, observasi, dan eksplorasi yang terus dilakukan. Tidak jarang suatu teori yang telah disepekati hancur berantakan karena teori baru dengan hasil penemuan berbeda. Bila kemudian kita menetapkan dan meyakini bahwa teori lama telah menunjukkan relevansi al-Qur’an, maka dengan alasan apa kita dapat menjawab teori yang baru?.

Sebagai contoh, Arifin Muftie menyebutkan  ayat al-Qur’an yang pembahasannya me­merlukan pengetahuan astrofisika, gabungan astronomi, fisika dan matematika, yaitu Surat an-Nur atau yang berarti cahaya.

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.[16]

Esensi ayat ini adalah bahwa Tuhan adalah (satu-satunya) pemberi cahaya di alam semesta tanpa sentuhan api. Namun menyangkut perumpamaan, mufasir klasik menghadapi kesulitan untuk menjelaskan lebih rinci.

Dengan beberapa pengecualian mereka akan menjelaskan bahwa misykat , atau suatu lubang yang tidak dapat ditembus, adalah lubang di rumah-rumah untuk tempat lampu obor, yang ada di dinding rumah. Sedangkan pohon (zaitun) yang dimaksud adalah pohon (zaitun) yang tumbuh di bukit-bukit, sehingga sinar matahari dapat menyinari, baik pada saat matahari terbit maupun matahari terbenam. Sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.

Mufasir modern, seperti Malik Ibn Nabi, menjelaskan bahwa misykat adalah lampu bohlam: Pohon yang dimaksud adalah kawat wolfram yang berpijar karena efek listrik tanpa disentuh api, dibungkus gelas kaca, untuk memantulkan seluruh sinarnya ke segala arah sehingga dapat menerangi seluruh ruangan. Lampu bohlam adalah sekat yang tak dapat ditembus, karena hampa udara, tidak ada oksigen di sana.

Tetapi, dalam studi yang lebih mendalam tentang cahaya di langit oleh para astrofisikawan, misalnya Mohamed Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything, perum­pamaan ayat tersebut lebih mendekati kepada fenomena quasar dan gravitasi efek lensa yang menghasilkan cahaya di atas cahaya. Quasar atau Quasi Stellar adalah objek di langit yang ditemukan pertama kalinya pada tahun 1963. Mereka mewakili objek yang paling terang di alam semesta, jauh lebih terang dari cahaya matahari atau bintang. Para astronom menemukan bahwa objek seperti bintang ini terletak miliaran tahun cahaya dari bumi. Objek ini tentunya mempunyai energi yang besarnya sangat luar biasa supaya tetap terlihat dari sini. Energi mereka berasal dari “pusat lubang hitam yang sangat masif”. Karakter pertama dari ayat ini yaitu misykat adalah “lubang hitam”, sedangkan karakter kedua yaitu “pelita dalam kaca” adalah galaksi yang menghasilkan efek gravitasi lensa seperti quasar (pelita) yang terbungkus oleh kaca (gelas). Coba simak keterangan quasar oleh astronom NASA.

Efek gravitasi pada galaksi, quasar yang jauh, serupa dengan efek lensa sebuah gelas minum yang memantulkan sinar lampu jalan yang menciptakan berbagai image  (lapisan cahaya atas cahaya).

Energi quasar yang berasal (dicatu) dari lubang hitam, terjadi ketika “bintang-bintang dan gas” dari galaksi terhisap di dalamnya. Karakter lainnya yang disebut “pohon” oleh al-Qur’an adalah sebutan yang tidak lazim oleh para astronom yang menggambarkan galaksi sebagai “pohon-pohon” yang terdiri dari bintang-bintang. Lihat saja istilah diagram Hertzprung­ Russel, dalam buku Timothy Ferris, The Whole Shebang, 1997.

Barangkali, karakter lainnya yang menarik dari ayat di atas adalah pernyataan “diterangi tanpa tersentuh oleh api”, suatu fenomena fusi nuklir yang menghasilkan cahaya yang sangat terang, di mana di ruang angkasa nyaris tidak ada ok­sigen untuk pembakaran. Bintang-bintang memulai hidupnya dengan unsur kimia yang paling ringan, yakni hidrogen. Gas berkontraksi, karena gravitasi, memanas; atom hidrogen ber­tumbukan dan membentuk helium, unsur yang lebih berat, ketika mengeluarkan energinya. Energi inilah yang membuat objek “bintang- bintang” bersinar tanpa “disentuh api”, energi ini juga yang memelihara keseimbangan posisi bintang-bintang di alam semesta. Sepanjang pengetahuan manusia yang ada sekarang, fenomena quasar inilah yang paling tepat untuk meng­gambarkan ayat di atas. Terlebih lagi perumpamaan dalam ayat tersebut: “seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara”. Bahkan aslinya lebih terang dari sinar bintang, dan memang seperti “mutiara” bila kita lihat dari foto-foto NASA yang ada, gemerlapan, sangat menawan.

Dengan demikian, terjemahan bebas ayat 35 Surat an-Nur dari sisi sains adalah:

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang (hitam, black hole) yang tak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar (quasar). Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca (efek gravitasi lensa dari galaksi) itu seakan­-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan pohon (galaksi yang dicatu oleh lubang hitam) yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon (galaksi) yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (fusi nuklir) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (efek gravitasi lensa), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia,dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.[17]

Dari berbagai penafsiran ini, sebenarnya tidak dapat ditentukan yang “paling tepat” dengan kandungan sebenarnya ayat di atas. Karena tidak menutup kemungkinan akan muncul penafsiran terbaru setelah yang baru, dan penafsiran paling baru dari yang terbaru, begitu seterusnya. Yang jelas, penemuan demi penemuan akan terus berkembang, dan al-Qur’an akan tetap relevan selamanya. Ini bila yang menjadi objek adalah realitas yang sedang “terjadi”. Bagaimana dengan ketentuan yang sudah terjadi?. Misalnya, kapan sebenarnya bumi ini diciptakan? Atau dengan bahasa lain, berapa sebenarnya umur bumi?.

Sekali lagi, dari berbagai sumber, Arifin Muftie menyebutkan beberapa penemuan tentang hal ini, terutama yang menunjuk pada relevansi al-Qur’an. Secara ringkas, umur elemen kimia dapat diperkirakan berdasarkan uji radio aktif terhadap atom tersebut. Dan umum­nya dapat ditentukan dengan menggunakan uji contoh batu­-batuan, yaitu dengan mengukur perubahan elemen berat seperti Rubidium Rb-87. Bila uji Rubidium ini diterapkan atas batuan yang tertua di bumi akan didapatkan bahwa batuan tertua ber­umur 3,8 miliar tahun. Jika diterapkan atas batuan tertua dari meteor akan didapatkan angka 4,56 miliar tahun. Kesimpulan ini membuktikan bahwa tata surya kita berumur sekitar 4,6 miliar tahun, dengan tingkat kesalahan 100 juta tahun. Sedikit berbeda, bila metode ini digunakan untuk mengukur gas di alam semesta maka akan menyebabkan tingkat variasi yang lebih lebar. Ilmuwan cukup puas mengetahui umur alam se­mesta sejak Dentuman Besar (big bang) dengan perhitungan elemen kimia yaitu antara 11-18 miliar tahun.

Mohamed Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything menyatakan bahwa umur alam semesta, berdasarkan penyelidikannya terhadap bintang-bintang tertua, adalah antara 17 sampai 20 miliar tahun. Sedangkan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France menyatakan bahwa umur alam semesta kira-kira 18 miliar tahun.

Sementara Dalam al-Qur’an ada dua ayat yang mengindikasikan perhitungan alam semesta selain makna relativitas waktu, yaitu

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, Kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.[18]

Dan,

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.[19]

Kita dapat mencatat bahwa al-Qur’an tidak mengatakan “50.000 tahun” waktu bumi. Karena waktu ini adalah waktu relatif di suatu tempat di langit, di mana satu hari sama dengan 1000 tahun waktu bumi. Hari relatif tersebut merupakan umur alam semesta di mana sistem tata surya manusia (kita) berada.

Bila kita konversikan waktu relatif alam semesta: 50.000 x 365,2422 = 18.262.110. Satu hari relatif di “satu tempat” di alam semesta, di tempat malaikat melaporkan urusannya, sama dengan 1000 tahun di bumi: 18.262.110 x 1000 = 18.262.211.000 tahun atau 18,26 miliar tahun.

Dengan demikian, umur alam semesta relatif adalah 18,26 miliar tahun. Hasilnya hampir sama dengan perhitungan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France tersebut di atas.

NASA memperkirakan umur alam semesta antara 12-18 miliar tahun berdasarkan pengukuran seberapa cepat alam semesta kita ini ekspansi setelah terjadinya big bang.

Sementara Dr. Marshall Joy dan Dr. John Carlstrom dari Universitas Chicago (tim NASA) telah mampu mengatasi masalah pengukuran kecepatan ekspansi alam semesta dengan teknik terbaru, yaitu menggunakan radio interferometer untuk menyelidiki dan mengukur fluktuasi Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR). Dengan demikian, umur alam semesta dapat diperkirakan. Sedangkan tim NASA lainnya memperkirakan umur alam semesta antara 8-12 miliar tahun berdasarkan pengukuran jarak galaksi “M100” dengan teleskop ruang angkasa Hubble. Galaksi tersebut diperkirakan berjarak 56 juta tahun cahaya dari bumi. Namun demikian, pengukuran umur alam semesta ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana mungkin alam semesta umurnya lebih muda, padahal salah satu bintang di Bima Sakti mungkin umurnya jauh lebih tua dari perkiraan tersebut?.[20]

Lebih jauh, bila kita menghadapi informasi-data dalam al-Qur’an tentang realitas yang sebenarnya sebelum dunia ini diciptakan. Informasi seperti ini tidak mungkin berasal dari gerak pemikiran manusia, karena doktrinitas keimanan meyakinkan kita bahwa segala informasi itu bukan hanya sekedar “dongeng” belaka.

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa.[21]

Atau relaitas yang belum terjadi dan pasti akan terjadi.

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalas, kecuali dengan apa yang Telah kamu kerjakan. Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di syurga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai Ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang.[22]

Untuk fenomena seperti ini, muncul teori syirfah yang dicetuskan oleh Abu Ishaq Ibrahim an-Nazzam seorang tokoh mu’tazilah. Konsep i’jazu al-Qur’an adalah karena intervensi Allah dengan “kekuasaan” dan “pengetahuan”-Nya. Dimana “ketidakmampuan” manusia disebabkan oleh kekuasaan Allah yang mencabut kemampuan manusia untuk memenuhi tantangan al-Qur’an, dan penggetahuan-Nya tentang hal-hal ghaib masa lalu dan masa mendatang yang tidak diberikan kepada manusia. Ini berarti manusia memang dibuat tidak mampu  oleh kekuasaan Allah, padahal mereka sebenarnya mampu. Dan menurut al-Murtadla seorang syi’ah yang mendukung teori ini menyatakan bahwa; yang menjadi mukjizat bukan al-Qur’an, tapi mukjizat sebenarnya adalah “kekuasaan” Allah yang ada dibalik itu.[23]

I’jazu Al-Qur’an di dalam Teks

Berbeda dengan an-Nazzam yang mu’tazilah dan al-Murtadla yang syi’ah, kelompok al-Baqillani yang Asy’ari menegaskan bahwa i’jaz berasal dari dalam al-Qur’an, ia tidak hanya berasal dari intervensi eksternal yang menutup kemungkinan bangsa arab untuk membuat semisal dengan al-Qur’an. Al-Baqillani mengakui bahwa informasi tentang hal-hal ghaib dan masalah masa lalu atau masa mendatang merupakan salah satu aspek kemukjizatan teks, namun ia tidak menilai fenomena i’jaz hanya atas dasar itu saja. Indaikata demikian, niscaya al-Qur’an akan sama saja dengan teks-teks yang diturunkan sebelumnya, seperti Taurat dan Injil.[24]

Nasr Hamid menyimpulkan dari konsep al-Baqillani, bahwa i’jaz al-Qur’an, pertama, terletak pada perbedaannya dengan teks-teks lain dalam genre atau tipe-nya, sebab ia tidak termasuk dalam kategori puisi, prosa, sajak, khotbah, atau surat-menyurat. Dan Kedua, terletak pada pola susunan dan penyusunannya, dimana kita tidak menemukan perbedaan taraf susunan dan penyusunannya meskipun panjang dan bervariasi temanya.[25] Al-Baqillani menyatakan; bahwa susunan al-Qur’an merupakan “jenis yang istimewa, uslub yang khas, dan spesies murni tiada duanya”, ”dan akal pikiran menjadi tidak berdaya dihadapannya, bingung dalam lautan, dan tersesat tanpa dapat melukiskannya”[26].

Sebagai bukti, Husen Aziz mencontohkan sebagaimana yang terjadi pada Walid ibn al-Mughirah yang terpesona dengan keindahan ayat dalam surat al-Mudatsir, yang di dalamnya tidak ditemukan aspek hukum, ilmu pengetahuan alam kacuali sedikit, dan tidak ada informasi hal ghaib. Namun ternyata, surat al-Mudatsir telah membuat Walid yang seorang sastrawan di zamannya tergoncang sedemikian rupa.[27]

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami Ini orang Nasrani”. yang demikian itu disebabkan Karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) Karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang Telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah beriman, Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.)”.[28]

Dalam kajiannya tentang deskripsi[29] al-Qur’an, Husen Aziz menekankan pada; pertama, kajian ketepatan dalam memilih kata, kedua, unsur musikal pada struktur teks al-Qur’an, dan ketiga, kemungkinan multi interpretabel pada suatu ayat.

Untuk aspek yang pertama, Husen menegaskan bahwa deskripsi al-Qur’an bersifat konotatif. Dimana pendayagunaan kata bertumpu pada dua hal; pertama, ketepatan memilih kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan atau pemikiran, dan kedua, kesesuaian dalam mempergunakan kata itu. Ketepatan memilih kata mempersoalkan kemampuan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat, sementara kesesuaian dalam mempergunakan kata mempersoalkan apakah pilihan kata itu dan gaya bahasa yang digunakan tidak merusak suasana atau menyinggung perasaan.[30]

Husen mencontohkan ketepatan al-Qur’an dalam memilih kata akmal dan atmam dan kesesuaian penggunaannya dalam pernyataan, yang keduanya secara konotatif (majasi) tidak bersinonim meskipun secara denotatif (hakiki) sama, yaitu sempurna:

Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.[31]

Kata akmal dipilih dan dipergunakan untuk menggambarkan kesempurnaan agama dalam kualitas, sedang kata atmam dipilih dan dipergunakan untuk menyatakan kesempurnaan pemberian kenikmatan secara kuantitas.

Contoh lain, sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Aisyah Abdurrahman Ibn as-Syathi tentang perbedaan spesifik kata ahlam dan ru’ya dalam al-Qur’an. Kata ahlam disebutkan tiga kali dalam bentuk plural (jama’) dan selalu didahului dengan kata adhghats (kabur, tidak jelas) antara lain:

Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu.”[32]

Dalam kasus ini, kata ahlam dipilih karena mereka sama sekali tidak dapat menta’wil mimpi sang Raja, walaupun sang Raja menganggapnya sebagai mimpi yang jelas yang ia nyatakan dengan pilihan kata ru’ya pada ayat sebelumnya:

Raja Berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya Aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.” Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi.”[33]

Kata ru’ya sendiri disebutkan sebanyak tujuh kali dalam bentuk tunggal (singular), yang kesemuanya merujuk pada arti mimpi yang jelas. Dua diantaranya adalah mimpi Raja al-Aziz sebagaimana dalam ayat di atas, dan sisanya menunjuk mimpi para Nabi, termasuk mimpi Yusuf berikut:

(Ingatlah), ketika Yusuf Berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, Sesungguhnya Aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”[34]

Aspek kedua dalam deskripsi al-Qur’an adalah unsur musikal pada struktur teks al-Qur’an terdapat pada; pertama, pembentukan kata, kedua, pola kalimat yang berimbang, ketiga, persajakan, keempat, perualangan bunyi-bunyi, dan kelima, pergantian nada.

Deskripsi yang baik adalah bila teks tidak hanya bisa diterima oleh akal pemikiran karena isinya yang rasional dan logis, namun juga harus dapat diterima baik oleh pendengaran karena adanya ketertataan nada atau efek musikal.[35]

Setiap kata dalam al-Qur’an dibentuk oleh huruf-huruf yang didominasi oleh huruf dzilaqah yang makhrajnya berada diujung lisan, yaitu; huruf mim, ba’, ra’, nun, fa’, lam, ‘ain, qaf, sin, dan dal. Dengan komposisi dominasi sepuluh huruf ini, setiap kata terbentuk indah dan menimbulkan efek merdu. Selain itu, setiap kata mewakili makna kata yang dimaksud, makna gagah tergambar pada kata yang terdengar gagah, makna lembut terbayang pada kata yang lembut. Sebab kata menurut penilaian telinga sama dengan figur seseorang menurut penilaian penglihatan mata. Sebagai contoh;

Dan Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: “Sesungguhnya Tuhan Telah menganugerahkan nikmat kepada saya Karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.[36]

Kata layubatthianna yang berarti sangat berlambat-lambat, terasa mulut nyaris kesulitan, sehingga lambat untuk mencapai akhir huruf kata itu. Contoh lain;

Berkata Nuh: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika Aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya Aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?”[37]

Kata anulzimukumuha melukiskan suasana keterpaksaan dengan memasukkan semua kata ganti dalam pengucapan yang saling berkaitan erat, sebagaimana sekelompok orang yang digabung dengan sesuatu yang tidak disukai.

Lebih jauh, efek musikalitas teks al-Qur’an juga sesuai dengan suasana, fenomena, gagasan dan pemikiran yang disampaikan. Musikalitas bernada cepat bila menggambarkan suasana dan fenomena yang terjadi dengan cepat;

Apabila langit terbelah, Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, Dan apabila lautan menjadikan meluap, Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang Telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.[38]

Huruf ta’-sakinah pada akhir ayat-ayat ini memberikan sugesti kecepatan dan kedahsyatan. Sebaliknya jika menggambarkan suasana ketenangan, maka musikalitas akan bernada lambat dan sama sekali tidak dapat dipercepat;

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku.[39]

Huruf ta’-marbuthah pada akhir ayat-ayat di atas memberikan sugesti ketenangan. Dan jika melukiskan suasana sesak disaat menusia berdesakan dihari kiamat;

Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan), Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.[40]

Dimana huruf qaf pada ayat-ayat ini, memberikan sugesti rasa sesak.

Dengan adanya musikalitas pada deskripsi teks al-Qur’an, maka akan ada pergantian nada jika ide, pemikiran, suasana dan fenomena yang disampaikan berganti;

Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, Maka ia menerbangkan debu, Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.

Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, Dan Sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, Dan Sesungguhnya dia sangat bakhil Karena cintanya kepada harta.

Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka.[41]

Dalam ayat di atas, terdapat tiga nada, nada pertama dimulai dari ayat pertama sampai kelima yang menceritakan kecepatan kuda perang, nada kedua yang dimulai dari ayat keenam sampai kedelapan mendeskripsikan manusia yang membangkang terhadap Tuhannya, dan nada ketiga yang dimulai dari ayat kesembilan sampai kesebelas menggambarkan hari kebangkitan dari kubur.


[1] Khalaf, hlm 25

[2] QS 2 al-Baqarah, 23

[3] QS 2 al-Baqarah, 24

[4] QS 17 al-Isra’, 88

[6] Khalaf, hlm 27

[7] QS 6 al-An’am, 38

[8] QS 16 an-Nahl, 89

[9] Al-Qurtubi, tafsir, juz 6 hlm 384

[10] Arifin Muftie, Matematika Alam Semesta, Al-Qur’an adalah kebijakan abadi, html / chm : pakdenono – 2005 –

[11] QS 55 ar-Rahman, 19-20

[12] Arifin Muftie, Al-Qur’an adalah kebijakan abadi, html / chm : pakdenono – 2005

[13] Ibid, kodetifikasi bilangan prima

[14] Ibid, Al-Qur’an adalah kebijakan abadi

[15] Manna’u al-Qatthan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an, hlm 270

[16] QS 24 an-Nur, 35

[17] Arifin Muftie, Al-Qur’an adalah kebijakan abadi

[18] QS 32 as-Sajadah, 5

[19] QS 70 al-Ma’arij, 4

[20] Arifin Muftie, Al-Qur’an adalah kebijakan abadi

[21] QS 25 al-Furqan, 59

[22] QS 36 Yasin, 54-59

[23] Manna’u al-Qatthan, hlm 261

[24] Nasr Hamid, hlm 183

[25] Ibid, hlm 185-186

[26] Ibid, hlm 187

[27] Husen Aziz, Sastra Al-Qur’an, hlm 18

[28] QS 5 al-Maidah, 82-83

[29] Deskripsi adalah melukiskan sesuatu atau keadaan dengan kata-kata, sehingga pembaca atau pendengar seolah melihat, mendengar, atau merasakannya sendiri. Lihat Husen Aziz, hlm 36

[30] Husen Aziz, hlm 37-38

[31] QS 5 al-Maidah, 3

[32] QS 12 Yusuf, 44

[33] QS 12 Yusuf, 43

[34] QS 12 Yusuf, 4-5

[35] Husen Aziz, hlm. 56

[36] QS 4 an-Nisa, 72

[37] QS 11 Huud, 28

[38] QS 82 al-Infithar, 1-5

[39] QS 89 al-Fajr, 27-30

[40] QS 75 al-Qiyamah, 29-30

[41] QS 100 al-Adiyat, 1-11

Diskusi

2 thoughts on “Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XIII

  1. subhanallah……………………….

    Posted by in4n | 13 Maret, 2009, 1:21 am
  2. I should email u about this.

    Posted by Drettysot | 23 Mei, 2009, 4:10 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: