//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XIV

Definisi Qasam Al-Qur’an

Perbedaan kemampuan manusia dalam menangkap isyarat-isyarat hidayah sebagai petunjuk keabenaran, adalah kondisi realitas yang harus disikapi secara bijak oleh teks al-Qur’an. Kondisi pertama disebut “jiwa yang suci” dengan kemampuan menerima segala petunjuk walau hanya berbentuk isyarat sederhana. Dan kondisi kedua, disebut “jiwa yang tertutup awan kebodohan, dan terselubung gelapnya ke-bathil-an”, cenderung tidak dapat menangkap kode isyarat yang sederhana, sehingga perlu untuk disikapi dengan ungkapan-ungkapan yang lebih kuat[1].

Secara bahasa, al-Qasam adalah sumpah yang sinonim dengan kata al-Half dan al-Yamien.[2] Al-Qatthan mendefinisikan bahwa qasam adalah mengikat jiwa, untuk menetapkan atau tidak menetapkan sesuatu, yang besar artinya bagi pihak yang bersumpah secara essensial dan meyakinkan.[3]

Unsur dan pola Qasam Al-Qur’an

Ungkapan bahasa arab mempunyai keunggulan dalam kerumitan susunan dan variasi strukturnya yang digunakan untuk menyikapi kondisi realitas yang dihadapi, agar pesan yang ingin disampaikan dapat ditangkap sesuai dengan yang dimaksud.

Untuk membentuk ungkapan qasam, dibutuhkan tiga pilar pembentukan yang terdiri dari; pertama, kata kerja (fi’il) yang muta’addy dengan huruf ba’, kedua, sesuatu yang dibuat sebagai sumpah (muqsam bihi), dan ketiga, objek sumpah (muqsam ‘alaih).[4] Sebagai contoh, firman Allah Swt.

Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: “Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”. (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.[5]

Ungkapan وأقسموا بـ …  (mereka bersumpah dengan…), adalah pilar pertama. Dalam ayat ini mereka bersumpah menggunakan “nama Allah” yang menjadi pilar kedua. Dan pilar ketiga debagai objek sumpah mereka adalah ungkapan (Allah tidak akan membangkit-kan orang mati). Bentuk konkrit pilar pertama sebagai “media” sumpah dalam gramatika bahasa arab  termasuk dalam teks al-Qur’an, dalam banyak bagian tidak menggunakan kata kerja (fi’il) dan mengganti partikel ba’ dengan partikel wawu pada kata benda sebagai muqsam bihi yang berbentuk dhahir.

Urgensi penggunaan Qasam dalam Al-Qur’an

Dalam konsep ilmu al-ma’ani, hal ini disebut sebagai tiga variasi ungkapan informative (adhrubu al-khabar ats-tsalatsah). Yaitu, pertama, disebut variasi pemula (dharbu ibtida’i), dimana realitas yang dihadapi tidak memiliki data sedikitpun tentang informasi yang akan disampaikan, sehingga ia akan menerima data itu walau tanpa ada penguatan ungkapan. Kedua, disebut variasi tuntutan (dharbu thalabi), bila realitas dalam keadaan ragu terhadap data yang diinformasikan, sehingga ungkapan perlu untuk dikuatkan. Dan ketiga, disebut variasi penolakan (dharbu inkari), bila realitas cenderung menolak data yang disampaikan.[6]


[1] Manna’u al-Qatthan, hlm 290

[2] Ibid.

[3] Ibid, hlm 291

[4] Manna’u al-Qatthan, hlm 290

[5]

[6] Manna’u al-Qatthan, hlm 291

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: