//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XV

Definisi Qishashu Al-Qur’an

Kata qashash berasal dari qashsha-yaqushshu yang berarti mengikuti jejak, dalam al-Qur’an sendiri disebutkan kata ini sebagai berikut:

Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.[1]

Qashash adalah kisah, cerita, berita, dan informasi terdahulu, dalam bagian lain dinyatakan:

Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar[2].

Dalam hal ini, al-Qur’an ternyata banyak membawakan cerita dan informasi tentang data-data terdahulu yang dinyatakan sebagai realitas yang terjadi sebagaimana diceritakan.

Disaat cerita itu adalah gambaran realitas kehidupan dalam bagian gerak kejadiannya, tujuan (hikmah) dibaliknya menjadi jelas, membuat jiwa tertarik untuk menyimaknya, tenggelam di dalamnya karena rindu, dan akhirnya terpengaruh oleh pesan-pesan yang disampaikan.[3]

Pola Qishashu Al-Qur’an

Ketika membahas tentang qashash dalam al-Qur’an, ulama ternyata tidak hanya terpaku pada informasi yang terdahulu. Qashash juga mencakup “kisah” yang sedang terjadi di masa teks al-Qur’an turun, yaitu masa kehidupan Rasulullah Saw. Al-Qatthan misalnya menyebutkan tiga pola, pertama, kisah para Nabi, proses dakwah, mukijzat, adanya pertentangan, dan “akibat” yang dituai di dunia bagi mereka yang beriman atau tidak. Kedua, kisah realitas terdahulu, kejadian-kejadian, dan tokoh-tokoh dunia yang bukan Nabi atau Rasul. Dan Ketiga, kisah yang terjadi di masa Rasulullah Saw.[4]

Ketiga pola tentu saja adalah realitas yang benar-benar terjadi. Gerak realitas yang sesungguhnya terkisahkan persis seperti yang tertulis secara “baku” di Lauh Mahfudz yang kemudian turun kepada kita dalam bentuk teks. Sebagai contoh pada pola pertama misalnya, al-Qur’an menceritakan kisah Nabi ‘Isa sebagai Nabi dengan misi yang sama dengan misi al-Qur’an. Isa menyatakan dengan tegas bahwa;

Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, Karena itu sembahlah Dia. inilah jalan yang lurus.[5]

“Cerita” ini tentu saja tidak dapat diterima sebagian kalangan, terutama pada saat itu kelompok nasrani najran, yang meyakini ke-“tuhan”-an Isa, kedudukannya sebagai anak Tuhan atau sebagai satu diantara tiga (tsalitsu tsalatsah, trinitas).[6] Al-Qur’an membantah tegas keyakinan ini;

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), Maka jadilah Dia. (apa yang Telah kami ceritakan itu), Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, Karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.[7]

Di sini, Penulis tidak perlu berpanjang lebar soal “kemiripan” penciptaan ‘Isa dan Adam. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa tidak ada keyakinan kelompok manapun, terutama nasrani najran, tentang kedudukan Adam sebagai Tuhan atau yang semisalnya. Sementara Isa dinyatakan “sama” seperti Adam yang tidak diyakini sebagai Tuhan. “Ceria kebenaran” realitas ini datang dari Tuhan yang sebenarnya, maka tidak ada alasan untuk ragu-ragu.

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; Kemudian marilah kita ber-mubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”. Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan Sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[8]

Mubahalah ialah bila masing-masing pihak diantara orang-orang yang berbeda pendapat memohon kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta. Nabi menantang utusan Nasrani Najran ber-mubahalah yang tentu saja tidak dapat disanggupi oleh mereka. Ini bukti nyata “dusta” yang mereka yakini, dan kebenaran hakiki cerita al-Qur’an.

Urgensi Qishashu Al-Qur’an

Ulama menetapkan beberapa tujuan eksistensi qashash dalam al-Qur’an yang dianggap penting, antara lain; pertama, sebagai penjelasan pokok penyelenggaraan syari’at yang sesungguhnya dimana seluruh Rasul diutus untuk keperluan yang sama.

Dan kami tidak mengutus seorang rasul-pun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.[9]

Kedua, bahwa segala cerita yang ada dalam al-Qur’an menetapkan kebenaran penyelenggaraan syari’at itu di bumi, sehingga Rasul dan yang percaya padanya tidak perlu khawatir akan “kemenangan” yang dijanjikan. Cerita yang disampaikan untuk menguatkan keyakinan ini.

Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat Ini Telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.[10]

Ketiga, jika cerita itu adalah realitas yang sebenarnya terjadi, maka cerita itu juga sebagai pembenaran, terutama terhadap risalah para Rasul. Sekaligus sebagai “cara” mengenang dan meneruskan jejak mereka. Keempat, cerita yang diyakini kebenarannya itu akan menunjukkan kebenaran Rasulullah Saw melalui cerita yang ia sampaikan. Kelima, menguak “misteri” yang dibuat oleh ahlu al-kitab tentang data dan informasi yang dengan sengaja mereka sembunyikan dari dunia.

Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan[11]. Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), Maka bawalah Taurat itu, lalu Bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”.[12]

Dan keenam, cerita adalah salah satu cara penyampaian pesan yang bernilai sastra, persuasive dan mengenai sasaran.[13]

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.[14]

Untuk poin yang terakhir ini, Al-Qur’an ternyata banyak mengulangi cerita satu realitas dalam berbagai bentuk ungkapan di berbagai tempat. Sebagai contoh, ketika menceritakan Musa as. sedang menghadapi tukang sihir, ia mengulangi cerita itu beberapa kali, ayat pertama;

Ahli-ahli sihir berkata: “Hai Musa, Kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?” Musa menjawab: “Lemparkanlah (lebih dahulu)!”. Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena’jubkan). [15]

Ayat kedua;

Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa Berkata kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan”. Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, Itulah yang sihir, Sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang membuat kerusakan. [16]

Ayat ketiga;

(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?”. Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: “Janganlah kamu takut, Sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang)”.[17]

Dan ayat keempat;

Berkatalah Musa kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan”. Lalu mereka melemparkan tali-temali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata: “Demi kekuasaan Fir’aun, Sesungguhnya kami benar-benar akan menang”.[18]

Para ulama menyimpulkan bahwa hikmah dibalik pengulangan ini adalah; pertama, menunjukkan tingkat sastra yang tinggi pada tekstual Al-Qur’an. Dimana salah satu karakteristik sastra adalah penyampaian pesan dengan berbagai ungkapan yang berbeda di tempat yang berbeda pula. Cerita yang dibawakan berulang kali dalam Al-Qur’an secara structural tekstualitasnya berbeda satu sama lain. Walau demikian, pembaca tidak akan merasa bosan dengan pengulangan itu, karena akan menemukan “pesan baru” pada setiap pengulangan, meskipun gambaran yang diberikan adalah kondisi yang sama. Kedua, menunjukkan kekuatan I’jaz dalam tataran tekstual. Dimana Al-Qur’an dapat menceritakan satu kondisi dalam beberapa ungkapan berbeda, sementara bangsa arab tidak dapat membuat “yang serupa”, meskipun hanya satu bentuk ungkapan. Ketiga, urgensi cerita yang diharapkan meresap dalam angan pembaca. Dan keempat, perbedaan pesan yang disampaikan pada setiap pengulangan sebegaimana yang diakibatkan oleh karakteristik nilai sastra pada teks Al-Qur’an.[19]

Ayat pertama pada kisah Nabi Musa di atas, mendeskripsikan bahwa obyek “sihir” yang sebenarnya adalah indra penglihatan dan sekaligus daya khayal mereka yang hadir pada saat itu sebagai sebab ketakutan yang mereka rasakan (saharuu a’yuna an-nasi wastarhabuu). Mereka dibuat tidak dapat melihat “hakekat” yang sebenarnya bahwa tongkat yang dilemparkan tetap pada bentuknya dan tidak berubah menjadi ular.[20] Yang kemudian pada ayat kedua, Musa dengan tegas menyatakan bahwa yang dirasakan saat itu adalah semata “sihir”, tidak benar-benar terjadi, dan pada akhirnya akan dipatahkan oleh kekuatan Allah Swt (maa ji’tum bihi as-sihru, inna Allaha sayubthiluh). Sementara pada ayat ketiga, digambarkan bahwa yang “terkena” sihir juga termasuk Nabi Musa as (yukhayyalu ilaihi min sihrihim) sehingga mengakibatkan batinnya merasa “khawatir” sihir itu dapat mempengaruhi hadirin yang lain (fa awjasa fi nafsihi khifatan musa), sebelum kemudian Allah menenangkannya, yang tentu saja dalam tempo yang cepat sebagaimana tergambar pada ayat kedua.[21] Dan pada ayat keempat, dideskripsikan bahwa para penyihir menetapkan bahwa kekuatan mereka berasal dari “kekuatan” fir’aun, mereka yakin bahwa dengan kekuatan itu kemenangan ada dipihak mereka (wa qaaluu bi ‘izzati fir’auna inna nahnu al-ghalibun). Yang kemudian realitanya terkalahkan oleh kekuatan Allah Swt.


[1] QS 18 al-Kahfi, 64

[2] QS 3 Ali Imran, 62

[3] Manna’u al-Qatthan, hlm 305

[4] ibid, hlm 306

[5] QS 3 Ali Imran, 51

[6] Simak cerita lengkap di Ibn Katsir, Tafsir, juz 1 hlm 489

[7] QS 3 Ali Imran, 59-60

[8] QS 3 Ali Imran, 61-62

[9] QS 21 al-Anbiya’, 25

[10] QS 11 Huud, 120

[11] sesudah Taurat diturunkan, ada beberapa makanan yang diharamkan bagi mereka sebagai hukuman. nama-nama makanan itu disebut di dalamnya. lihat selanjutnya surat An Nisa’ ayat 160 dan surat Al An’aam ayat 146

[12] QS 3 Ali Imran, 93

[13] Manna’u al-Qatthan, hlm 307

[14] QS 12 Yusuf, 111

[15] QS 7 al-A’raf, 115-116

[16] QS 10 Yunus, 80-81

[17] QS 20 Thaha, 65-68

[18] QS 26 asy-Syu’ara’, 43-44

[19] Manna’u al-Qatthan, hlm 307-308

[20] Ibn Katsir, tafsir, juz 2 hlm 316. lihat juga di At-Thabari, tafsir, juz 6 hlm 21

[21] Ibn Katsir, tafsir, juz 3 hlm 213

Diskusi

One thought on “Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XV

  1. kenapa harus berbentuk cerita ???

    Posted by ok | 12 Desember, 2008, 11:20 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: