//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XVI

Definisi Jadal Al-Qur’an

Kata Jadal atau Jidal menunjuk pada pengertian perdebatan, yaitu; diskusi dengan cara saling menyalahkan pendapat lain dan membenarkan pendapat sendiri.[1] Dimana kedua pihak saling mempertahankan pendapat masing-masing.

Al-Qur’an dengan posisinya sebagai petunjuk pada kebenaran yang walaupun seandainya tanpa diperkuat dengan bukti apapun, kebenaran yang disampaikan oleh Al-Qur’an adalah kebenaran hakiki. Namun sebagai teks yang berinteraksi dengan realitas yang plural, Al-Qur’an adalah teks yang essensialnya bersifat informative (kalam khabar), bisa benar bisa juga salah. Doktrinitas keimanan yang mengharuskan kita untuk menilai Al-Qur’an sebagai kebenaran hakiki. Sehingga tidak semua “pembaca” Al-Qur’an menerima begitu saja informasi Al-Qur’an, realitanya ada saja yang membantah, menolak bahkan menyalahkannya. Al-Qur’an sendiri menetapkan sifat jadal itu sebagai “karakter manusiawi”;

Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.[2]

Sehingga untuk menyikapi kondisi realitas yang demikian, mengharuskan Al-Qur’an sebagai “media dakwah” untuk mempertahankan kebenaran yang ada padanya dengan bukti-bukti rasional sehingga dapat diterima sebagaimana tujuan dakwah yang diembannya.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[3] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.[4]

Pola Jadal  Al-Qur’an

Al-Qur’an dengan tujuan mematahkan segala bantahan terhadap informasi yang disampaikannya, sebagai antisipasi tanpa prediksi yang dimiliki ilmu Allah Swt. Rasionalisasi pesan yang disajikan, menurut ulama; tidak dapat disamakan dengan konsep “istilah” logika, yang cenderung memakai bukti berbentuk plural dan universal (kulli) terhadap kasus parsial (juz’i), atau sebaliknya.

Hal ini disebabkan, pertama, karena bukti yang ada dalam al-Qur’an disajikan dengan sesuatu yang “diketahui” bangsa arab. Kedua, bukti yang diungkap Al-Qur’an adalah sesuatu yang dapat disaksikan, dirasakan dan tidak perlu memeras pikiran untuk menangkapnya. Pembuktian seperti ini lebih kuat dan tepat. Dan ketiga, bila rasionalisasi disajikan dengan bukti yang rumit dan samar, maka akan membentuk teka-teki yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang tertentu. Hal seperti ini tidak diterapkan dalam rasionalisasi bukti Al-Qur’an.[5] Ibn Taimiyah menyatakan sebagai penolakannya terhadap konsep logika;

Apa yang disebut sebagai “bukti” oleh pakar logika (mantic), dalam usaha menjelaskan adanya Tuhan. Sebenarnya tidak dapat membuktikan hal itu secara meyakinkan, namun malah menunjuk pada sesuatu yang universal, bisa apa saja sehingga tidak menetapkan keesaan. Jika kita nyatakan; “ini adalah sesuatu yang dibuat (muhdats), dan mesti terdapat penciptanya (muhdits). Setiap pencipta mesti “berketetapan” wujudnya (wajib)”. Pernyataan ini menunjukkan universalitas kata pencipta dan ketetapan, sehingga tidak dapat menjelaskan keesaan Sang Pencipta.[6]

Sesuai dengan konsep istilah yang ditetapkan pakar logika, bahwa prosedur analogis atau silogisme pada kerangka pikiran manusia, mengharuskan setiap kata kunci masuk dalam ruang lingkup universalitas “teori umum”. Pada kasus di atas, kata muhdats yang pertama sebagai kata kunci, harus termasuk pada pengertian kata muhdats yang kedua sebagai pembuktian yang diambilkan dari “teori umum”. Demikian juga dengan kata muhdits dan kata wajib.

Sementara bukti-rasional yang terdapat dalam Al-Qur’an, disajikan secara sepesifikatif (mu’ayyanah). Sehingga tidak menimbulkan kemungkinan-kemungkinan, namun menunjukkan keyakinan-keyakinan. Al-Qur’an menyatakan;

Jika ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, maka tentulah keduanya itu telah rusak binasa.[7]

Struktur seperti ini disebut Silogisme-Hipotetik atau dalam bahasa arab disebut Qiyas istitsna’i. Silogisme hipotetik adalah argument dengan premis mayor berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minor adalah proposisi kategorik yang menetapkan atau mengingkari term antecedent atau term konsekuen premis mayornya.[8] Proposisi kategorik menyatakan kebenaran tanpa suatu syarat, sedang pada proposisi hipotetik kebenaran yang dinyatakan justru tergantung pada syarat tertentu. Proposisi kategorik kopulanya selalu “adalah”, “bukan” atau “tidak”. Sedang kopula pada proposisi hipotetik berupa “jika”, “apabila” atau “manakala” yang kemudian dilanjutkan dengan “maka”, meskipun yang terakhir ini sering tidak dinyatakan. Pada proposisi kategorik kopula menghubungkan dua term, sedang pada proposisi hipotetik kopula menghubungkan dua pernyataan.[9]

Sebuah proposisi hipotetik sebagaimana struktur dalam ayat di atas; “Jika ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, maka tentulah keduanya itu telah rusak binasa.”[10] Pada dasarnya terdiri dari dua proposisi kategorik; “di langit dan bumi ada tuhan-tuhan selain Allah” sebagai pernyataan pertama yang disebut sebab atau antecedent dan “langit dan bumi telah rusak binasa” sebagai pernyataan kedua yang disebut akibat atau konsekuen. “jika” dan “maka” pada struktur ini disebut kopula. Jika antecedent dilambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, maka akan berbetuk rumusan sebagai berikut: jika A adalah B, maka A adalah C. Dimana A adalah langit dan bumi, B mewakili keberadaan tuhan-tuhan selain Allah, dan C adalah kerusakan dan kebinasaan.

Proposisi hipotetik ini menjadi bagian pada premis mayor dalam struktur silogisme hipotetik. Ini berarti harus ada bagian lain yaitu premis minor yang terbentuk dari proposisi kategorik. Dalam hokum logika dinyatakan bahwa:

1.                  Bila A terlaksana, maka B juga terlaksana

2.                  Bila A tidak terlaksana, maka B belum tentu tidak terlaksana

3.                  Bila B terlaksana, maka A belum tentu terlaksana

4.                  Bila B tidak terlaksana, maka A tidak terlaksana.[11]

Sebagai contoh,

Bila terjadi peperangan, harga makanan membumbung tinggi.

Nah, peperangan ternyata terjadi.

Jadi harga makanan membumbung tinggi.

Pernyataan “harga makanan membumbung tinggi” adalah kesimpulan dari kemungkinan pertama dimana dinyatakan dalam premis minor “ternyata peperangan terjadi”. Lalu bagaimana halnya dengan kemungkinan kedua, bila premis minor menyatakan sebaliknya?

Bila terjadi peperangan, harga makanan membumbung tinggi.

Nah, peperangan ternyata tidak terjadi.

….

Pernyataan ini, tidak dapat serta merta disimpulkan bahwa “harga makanan tidak membumbung tinggi”. Atau pada kemungkinan ketiga:

Bila terjadi peperangan, harga makanan membumbung tinggi.

Nah, ternyata harga makanan membumbung tinggi.

….

Tidak dapat disimpulkan bahwa “peperangan terjadi”. Karena antecedent “peperangan” bukan satu-satunya sebab dari konsekuen “harga makanan yang membumbung tinggi” sebagai akibat.

Dan pada kemungkinan keempat, bahwa “harga makanan tidak membumbung tinggi” menunjukkan tidak adanya sebab yang mendahului termasuk terjadinya peperangan sebagai salah satu sebab.

Bila terjadi peperangan, harga makanan membumbung tinggi.

Nah, ternyata harga makanan tidak membumbung tinggi.

Maka peperangan tidak terjadi.

Bagaimana dengan ayat di atas?. Kemungkinan pertama dan ketiga sebagai premis minor dari struktur silogisme hipotetis pada ayat tersebut bahwa “terdapat  di langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah” dan “langit bumi telah rusak dan binasa”, pada realitanya setiap pembaca akan menyatakan dengan meyakinkan bahwa kemungkinan itu tidak ada. Al-Qusyairi menyatakan:

فالسماءُ في علوِّها تدور على النظام أفلاكُها، وليس لها عُمُدٌ لإمساكها، والأرضُ مستقرةٌ بأقطارها على ترتيب تعاقب ليلها ونهارها. والشمسُ لتقديرِ العزيزِ العليمِ علامةٌ ، وعلى وحدانيته دلالةٌ.

Langit dengan ketinggiannya, bintang-bintang berputar secara teratur, tidak ada tiang-tiang yang menahannya, Bumi tetap dalam pusarnya dengan aturan pergantian malam dan siangnya. Matahari adalah tanda kekuasaan Tuhan Yang Maha Agung nan Maha Mengetahui, dan bukti keesaan-Nya.

Pada kemungkinan pertama, adanya dua tuhan berarti adanya dua kekuasaan dan dua kehendak. Pada satu hal penciptaan tidak mungkin keduanya bersepakat, karena bila demikian itu berarti keduanya saling tergantung satu sama lain, atau salah satunya terkalahkan oleh kekuasaan yang lain. Pada satu hal penciptaan itu, keduanya harus memiliki kekuasaan dan keinginan yang berbeda dan dengan kekuatan yang sama. Inilah kepastian kemugkinan ketiga, kehancuran dan kebinasaan langit dan bumi sebagai akibat dari adanya dua tuhan.

Sehingga komposisi sebenarnya dari bentuk silogisme hipotetik ayat tersebut menggunakan kemungkinan kedua pada premis minornya, yaitu:

Jika ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, maka tentulah keduanya itu telah rusak binasa.

( Namun ternyata keduanya tidak rusak)

Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. [12]

Kesimpulan “pensucian” ini dapat dipastikan, karena tidak terlaksananya konsekuen “maka tentulah keduanya itu telah rusak binasa” sebagai akibat, mentiadakan antecedent “adanya di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah” sebagai satu-satunya sebab.


[1] Manna’u al-Qatthan, hlm 298

[2] QS 18 al-Kahfi, 54

[3] Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

[4] QS 16 an-Nahl, 125

[5] Manna’u al-Qatthan, hlm 299-300

[6] ibid, hlm 299-300

[7] QS 21 al-Anbiya’, 22

[8] Mundiri, Logika, hlm. 111

[9] Ibid, 59

[10] QS 21 al-Anbiya’, 22

[11] Mundiri, hlm. 112

[12] QS 21 al-Anbiya’, 22

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: