//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XVII

Definisi Amtsal Al-Qur’an

Arti kata amtsal yang barasal dari kata matsal, mitsl dan matsil sama dengan arti kata syabah, syibh dan syabih[1], yaitu menyerupai. Kata ini secara umum menunjuk pada pengertian kondisi atau cerita yang menakjubkan. Pangertian ini banyak diberlakukan dalam Al-Qur’an, seperti ayat berikut, yang memperkihatkan kondisi dan sifat surga;

(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?.[2]

Namun konsep amtsal dalam Al-Qur’an tidak selalu terikat dengan pengertian kebahasaan yang membawanya pada makna asal sebagai penyerupaan atau perbandingan. Tidak juga dengan konsep “penyerupaan” dengan satu bagian sebagai “yang diserupai” dan yang lain sebagai “yang serupa”. Dan tidak juga dengan pengertian konsep “peminjaman kata” (isti’arah) atau ungkapan yang jarang digunakan.

Ibn al-Qayyim mendefinisikan amtsal sebagai; penyerupaan sesuatu dengan yang lain dalam aspek persamaan hukumnya, atau pendekatan yang abstrak pada yang fisik, atau menggambarkan dua hal yang bersifat fisik, yang satu dari yang lain.[3]

Pola Amtsal Al-Qur’an

Efek yang dihasilkan dari konsep amtsal yang sama sekali terlepas dari aturan-aturan kebahasaan, namun tetap dapat dijelaskan dengan tingkat aturan gramatika serumit apapun, adalah teks luar biasa dengan kandungan yang luas, keluasan kandungan teks Al-Qur’an dikarenakan keleluasaan teks itu sendiri.

Kesimpulan ulama pada pola amtsal yang digunakan dalam Al-Qur’an dikelompokkan dalam tiga bagian; pertama, bentuk perumpamaan konkrit (amtsal musharrahah), yaitu ungkapan amtsal yang secara jelas dimunculkan beserta kata contoh matsal, atau yang lain yang serupa dengan itu. Bentuk ini memperlihatkan dengan jelas bagian-bagian bentuk matsal, bagian yang diserupai, bagian yang serupa atau bagian yang menunjukkan penyerupaan. Bentuk ini banyak digunakan dalam Al-Qur’an. Sebagai contoh misalnya;

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, Karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.[4]

Teks di atas mencontohkan secara konkrit kelompok munafik dengan dua perumpamaan; pertama, wahyu yang turun kepada mereka diserupakan dengan api, yang tentu saja mengandung sinar, dan wahyu itu seharusnya menyinari hati mereka. Sedang mereka diserupakan dengan seseorang yang menyalakan api, namun tidak mendapatkan manfaat darinya, kacuali secara dzahir mereka dapat masuk islam, sementara mereka tidak tersinari, karena Allah telah memadamkan sinar yang ada pada api itu. Kedua, wahyu itu diumpamakan dengan air sebagai unsur kehidupan. Wahyu seharusnya dapat menghidupkan hati mereka. Namun pada kenyataannya tidak mendapatkan unsur kehidupan itu pada air yang turun kepada mereka. Mereka diserupakan dengan seseorang yang pada saat turun hujan lebat diwaktu gelap, gemuruh dan kilat. Mereka menyumbat telinga mereka karena ketakutan. Pada perumpamaan kedua, mereka memang tidak mau mendapatkan “sinar pesan” yang ada pada wahyu, sehingga mereka menutup telinga rapat-rapat. Sedang pada perumpamaan pertama, mereka memang dibuat tuli, bisu dan buta, sehingga tidak dapat kembali kejalan yang benar.[5]

Bentuk perumpamaan yang kedua, adalah bentuk tidak konkrit (amtsal kaminah). Yaitu ungkapan yang sama sekali tidak memperlihatkan kata matsal atau yang lain, namun menunjukkan pesan matafor. Perumpamaan disampaikan melalui pesan-pesan metafor (majaz). Pesan pertama, “kebaikan segala sesuatu pada tengah-tengahnya” (khairu al-umur al-wasth). Ini tergambar pada ayat;

Sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu.[6]

Pesan kedua, “pesan yang disampaikan bukan informasi yang disampaikan” (laisa al-khabar kal-mu’ayanah). sebagimana tergambar pada ayat;

Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku Telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).[7]

Pesan ketiga, “anda akan dihutangi, sebagaimana anda berhutang” (kama tadayan tudan). hal ini tergambar pada ayat;

Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.[8]

Dan pesan keempat, “seorang beriman tidak mungkin jatuh dilubang yang sama dua kali” (la yaldagh al-mu’min min hijrin marratain). pesan ini tergambar pada ayat;

) kepadamu, kecuali seperti Aku Telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?”.[9]

Bentuk perumpamaan yang ketiga, disebut amtsal mursalah atau perumpamaan bebas. Di dalamnya tidak terdapat kata penyerupaan semisal kata matsal. Amtsal mursalah biasanya digunakan untuk memberi perumpamaan pada sesuatu di luar konteks ayat dimaksud. Seperti ayat;

Bagimu agamamu, dan baiku agamaku.[10]

Yang kadang digunakan pada saat seseorang terjebak pada perdebatan dengan orang yang dinilai ber-madzhab sesat, dikhawatirkan ia terseret ke dalamnya. Lalu dikatakan ayat tersebut yang tujuannya diluar konteks yang sebenarnya.

Penggunaan ayat al-Qur’an sebagai perumpamaan diluar konteks ayat tersebut dilarang oleh sebagian ulama. Alasannya menurut ar-Razi, bahwa al-Qur’an diturunkan bukan untuk menjadi perumpamaan-perumpamaan. Namun untuk di hayati dan kemudian di implementasikan.[11]

Urgensi Amtsal Al-Qur’an

Bagaimanapun, kekuatan deskripsi Al-Qur’an adalah salah satu bukti bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat. Kekuatan deskripsi adalah kekuatan teks yang ternyata diturunkan dalam bentuk bahasa arab. Unsur perumpamaan yang telah penulis bahas dalam bagian sebelumnya, terkait dengan pola konsep amtsal dalam Al-Qur’an. Menunjukkan bahwa kekuatan itu di-“ekspresi”-kan melalui ter-“bebas”-nya teks Al-Qur’an dari aturan-aturan gramatika, walaupun dapat dijelaskan dengan tingkat tertentu.

Hal ini menunjukkan urgensi yang sebenarnya dari konsep amtsal dalam teks Al-Qur’an, sebagai berikut; pertama, mewujudkan konsep yang abstrak pada bentuk benda fisik, sehingga dapat lebih mudah diterima oleh daya tangkap akal.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.[12]

Kedua, menjelaskan informasi “hal hakekat” dengan menghadirkan hal yang ghaib menjadi  nyata.

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.[13]

Ketiga, menyimpan pesan-pesan dalam ungkapan metafor. Sebagaimana dalam amtsal kaminah dan amtsal mursalah. Keempat, motivasi terhadap obyek yang diumpamakan, dimana perumpamaan adalah sesuatu yang cenderung disenangi.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.[14]

Kelima, motivasi untuk menjauhi obyek yang diumpamakan, dimana perumpamaan adalah sesuatu yang cenderung dibenci.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.[15]

Keenam, sebagai pujian, sebagaimana perumpamaan yang ditujukan pada para sahabat Nabi;

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.[16]

Ketujuh, menjelaskan sesuatu yang dinilai buruk. Sebagaimana gambaran mereka yang telah diturunkan al-Kitab namun tidak dapat melaksanakan amanah yang dibebankan.

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.[17]

Dan kedelapan, konsep amtsal adalah bentuk persuasive yang efektif. Walaupun memperjelas dan mempermudah, namun tidak semua dapat menangkap pesan informasi dari konsep ini;

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.[18]


[1] Manna’u al-Qatthan, hlm 282

[2] QS 47 Muhammad, 15

[3] Manna’u al-Qatthan, hlm 283

[4] QS 2 al-Baqarah, 17-20

[5] Manna’u al-Qatthan, hlm 284-285

[6] QS, 2 al-Baqarah, 68

[7] QS 2 al-Baqarah, 260

[8] QS 4 an-Nisa, 123

[9] QS 12 Yusuf, 64

[10] QS 109 al-Kafirun, 6

[11] Manna’u al-Qatthan, hlm 287

[12] QS 2 al-Baqarah, 264

[13] QS 2 al-Baqarah, 275

[14] QS 2 al-Baqarah, 261

[15] QS 49 al-Hujurat, 12

[16]

[17] QS 7 al-A’raf, 175-176

[18] QS 29 al-Ankabut, 43

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: