//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XIX

Definisi Tafsir bi ar-Ra’yi

Tafsir bi-ra’yi adalah metodologi bayan al-Qur’an berdasarkan rasionalitas pikiran (ar-ra’yu), dan pengetahuan empirik (ad-dirayah). Tafsir jenis ini mengandalkan kemampuan “ijtihad” seorang mufassir, dan tidak berdasarkan pada kehadiran riwayat-riwayat (ar-riwayat). Disamping aspek itu, kemampuan tata bahasa, retorika, etimologi, konsep yurisprudensi, dan pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan wahyu dan aspek-aspek lainnya menjadi pertimbangan para mufassir.

Kata “ar-ra’yu” yang berarti “kebebasan pemikiran”, cenderung berkonotasi pada rasionalitas ijtihad terhadap bayan al-Qur’an. Ini berarti, al-Qur’an dianggap sebagai teks “fleksibel” yang memberi ruang gerak secara bebas bagi mufassir untuk menentukan dan memberi bayan sesuai dengan “kepentingannya”.  Sehingga perlu adanya syarat-syarat tertentu yang membatasi pengertian Tafsir bi ar-ra’yi terutama dalam aplikasinya. Sebagaimana yang diriwayatkan at-Turmudzi, bahwa;

Barang siapa menafsirkan al-Qur’an dengan tanpa berdasarkan “pengetahuan” (al-ilm), maka neraka adalah tempatnya”.[1]

Terdapat dua cara intrepetasi terhadap Hadits-hadits semacan ini; pertama, bila proses tafsir tersebut tidak berdasarkan riwayat-riwayat. Kedua, bila penafsiran tersebut berlawanan dengan teks al-Qur’an yang kemudian dinilai sebagai suatu kebenaran.

Tafsir bi al-ma’tsur terkait khusus dengan aspek-aspek umum yang eksternal dari teks, seperti pengetahuan tentang asbabu nuzul, cerita, makkiyah dan madaniyah, nasikh dan mansukh. Semua ini adalah ilmu naqliyah yang didasarkan pada riwayat menurut Ulama kuno. Dalam ilmu-ilmu tersebut tidak tempat untuk berijtihad, selain mentarjih riwayat-riwayat, atau berusaha mengkompromi-kannya, sebagaimana yang telas dibahasa dalam bagian sebelumnya. Ini berarti bahwa Tafsir bi al-ma’tsur tampak sebagai ilmu yang menghimpun semua ilmu yang menjadi pengantar bagi Tafsir bi ar-ra’yi.[2]

Kritik terhadap Tafsir bi ar-Ra’yi

Oleh karena Tafsir bi ar-ra’yi masih harus didasarkan pada syarat-syarat yang ada pada Tafsir bi al-ma’tsur, maka kritik terhadap Tafsir bi ar-ra’yi haruslah Tafsir bi ar-ra’yi yang tidak berdasarkan standar kualifikasi itu, yang kemudian disebut Tafsir bi ar-ra’yi yang terlarang atau “ta’wil yang dibenci”.

Thameem Ushama mengemukakan beberapa kritikan terhadap Tafsir bi ar-ra’yi, sebagai berikut: pertama, metode ini masuk pada katagori firman Allah;

Mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.[3]

Kedua, Hadits-hadits yang melarang Tafsir bi ar-ra’yi yang tidak berdasarkan standar kualifikasi, sebagaimana yang diriwayatkan at-Turmudzi, bahwa “barang siapa menafsirkan al-Qur’an dengan tanpa berdasarkan “pengetahuan” (al-ilm), maka neraka adalah tempatnya”, ketiga, firman Allah yang mengindikasikan bahwa hanya Rasulullah yang mempunyai otoritas atas bayan al-Qur’an (QS. 16: 44), dan keempat, fakta empiris yang menyatakan bahwa para sahabat membatasi diri mereka untuk menyatakan sesuatu sebagai interpretasi mereka terhadap al-Qur’an berdasarkan pemikiran.[4]

Contoh Tafsir bi ar-Ra’yi

Sebagaimana telah dibahas, bahwa Tafsir bi ar-ra’yi terbagi menjadi dua:  pertama, Tafsir bi ar-ra’yi terpuji, dan yang lain, Tafsir bi ar-ra’yi terlarang.[5]

Achmad Baiquni menulis dalam Buku Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman tentang penafsiran ayat:[6]

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.[7]

Keterpaduan ruang (as-Samawat) dan materi (al-ardh) seperti dinyatakan dalam ayat diatas hanya dapat kita pahami jika keduanya berapa pada satu titik, yaitu titik singularitas yang merupakan volum yang berisi seluruh materi. Sedangkan pemisahan mereka terjadi dalam siatu ledakan dasyat yang melontarkan materi keseluruh penjuru ruang alam yang berkembang dengan sangat cepat sehingga tercipta universum yang berekspansi.

Selanjutnya, mengenai ekspansi alam semesta ini yang menaburkan materi, paling tidak sebanyak 100 milyar galaksi yang masing-masing berisi rata-rata 100 milyar bintang itu. Kitab suci al-Qur’an menyatakan dalam ayat:

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.[8]

Baiquni memulai penafsirannya dengan mengemukakan pemikiran rasionalnya, yang kemudian ia dukung dengan teks al-Qur’an yang lain. Ini berarti bahwa penafsirannya tidak terikat dengan riwayat, tetapi riwayat hanya sebagai  pendukung bahwa penafsirannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Agama.

Contoh diatas adalah metode Tafsir bi ar-ra’yi yang legal, akan sangat lain kalau kita bandingkan dengan Tafsir bi ar-ra’yi yang terlarang seperti tafsir (ta’wil) yang dilakukan oleh kelompok Rafidloh terhadap:

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu…[9]

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan…[10]

Dua lautan (al-bahrain) dalam ayat itu, menurut mereka adalah Ali dan Fatimah, sedangkan “mutiara” dan “marjan” adalah Hasan dan Husen. Penafsiran semacam ini menjadi teks menjadi alat ideologis bagi mufassir karena mengabaikan data-data bahasa dan literal, dan menundukkan teks pada kepentingan subjektif.[11]


[1] as-Suyuthy, hlm 179, lihat juga at-Turmudzi, sunan, kitab tafsir Al-Qur’an, hadits nomor: 2874

[2] Nasr Hamid, hlm 295

[3] QS. 7 al-A’raf, 33

[4] Ushama, hlm 21-22

[5] ibid, hlm 15-16

[6] Baiquni, Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman , hlm. 212

[7] QS 21 al-Anbiya’, 30

[8] QS 51 adz-Dzariyat, 47

[9] QS. Ar-Rahman, 19

[10] QS. Ar-Rahman, 22

[11] Nasr Hamid, hlm 296

Diskusi

2 thoughts on “Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XIX

  1. saya salah satu mahasiswa anda ……….!!!!
    terimakasih banyak nggeh ……..!!!

    Posted by ulfa silvia | 17 November, 2009, 4:48 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Rekonstruksi Metode Bayan « Abdurrahman, S.H.I. - 3 Januari, 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: