//
you're reading...
Buku

Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XVIII

Definisi Tafsir bil Ma’tsur

Tafsir yang dipahami sebagai pemahaman teks melalui “riwayat-riwayat”, dan ta’wil berdasarkan nalar pemikiran. Adalah dualisme metodologi bayan al-Qur’an yang terpisah. Model pertama, disebut dengan tafsir bi al-ma’tsur yang bertujuan mencapai makna melalui sejumlah dalil historis dan kebahasaan, ini berarti pemahaman teks secara objektif. Yakni, pemahaman yang diusahakan seperti apa yang dipahami oleh generasi pertama pada zaman turun dan terbentuknya teks al-Qur’an itu, melalui berbagai gejala kebahasaan dan kandungannya. Sebaliknya pada model kedua pemahaman berdasarkan sikap asli sang mufassir, yang lalu mencoba menemukan sandaran dalam teks al-Qur’an. Sebuah pemahaman yang subjektif, disebut dengan tafsir bi ar-ra’yi.

Para pendukung kecendrungan model pertama disebut ahlussunnah atau salaf as-shalih, yang men-dapatkan pandangan keagungan dan penghargaan, sementara pendukung model kedua disebut filosof, mu’tazilah, syi’ah dan bahkan para sufi, dipandang secara negatif, bahkan sampai pada tingkat pengkafiran dan pembakaran buku-buku. Adalah suatu keniscayaan untuk menunjuk bahwa perbedaan dua kecendrungan ini – pada realitas praktisnya – tidaklah serta merta menjadi semudah seperti yang muncul dalam realitas teoritisnya.[1]

Terlepas dari keniscayaan yang ditulis Nasr Hamid, tafsir bi al-ma’tsur tidak akan pernah terlepas dari kritik, walupun secara historis, diakui kemenangannya atas model kedua.

Manna’u al-Qatthan merumuskan tafsir bi al-ma’tsur sebagai;

Tafsir yang mendasarkan diri pada otoritas teks yang manqul secara akurat. Mulai dari teks Al-Qur’an, teks sunnah sebagai penerjemah Al-Qur’an, data yang diambil dari para sahabat yang – dinilai – paling mengenal Al-Qur’an, atau interpretasi generasi tabi’in yang “biasanya” berasal dari sahabat.[2]

Definisi di atas, menggambarkan model tafsir yang resmi dan cenderung dinilai cara yang “aman”. Aman karena berdasarkan data dan informasi. Tafsir model ini, – menurut definisi di atas – serta merta menafikan dan memarginalkan “kepentingan” dan kebebasan mufassir. Otoritas bayan terhadap teks al-Qur’an berada pada teks itu sendiri.

Otoritas bayan al-Qur’an

Tafsir bi al-ma’tsur terkait khusus dengan aspek-aspek umum yang eksternal dari teks, seperti pengetahuan tentang asbabu nuzul, cerita, makkiyah dan madaniyah, nasikh dan mansukh. Semua ini adalah ilmu naqliyah yang didasarkan pada riwayat menurut Ulama kuno. Dalam ilmu-ilmu tersebut tidak tempat untuk berijtihad, selain mentarjih riwayat dari otoritas-otoritas, atau berusaha mengkompromi-kannya.[3]

Otoritas pertama adalah Al-Qur’an sendiri. Didasarkan pada karakter teks al-Qur’an sebagai bayan segala sesuatu (tibyanan li kulli syay’). Terlepas persoalan apakan ia merupakan kalam qadim dan azali atau bahasa yang hadits, polemic klasik yang cenderung mengguncang pengakuan seseorang atas otoritas al-Qur’an sebagai medium “kebanaran”. Sebagaimana yang terjadi pada Nasr hamid yang lebih memihak pemahaman mu’tazilah tentang predikat bahasa budaya yang hadits dan tidak qadim sebagaimana Dzat Allah Swt. Polemic yang berawal dari konsep teologis tentang ke-azali-an lauh al-mahfudz. Menurut Nasr Hamid, teks Ilahi (divine text) berubah menjadi teks manusiawi (human text) sejak turunnya wahyu yang pertama kali kepada Nabi Muhammad.

Teks sejak awal diturunkan-ketika teks diwahyukan dan dibaca oleh Nabi-, ia berubah dari sebuah teks Ilahi (nas ilahl) menjadi sebuah konsep atau teks manusiawi (nas insa­m), karena ia berubah dari tanzil menjadi takwil. Pemahaman Muhammad atas teks mempresentasikan.tahap paling awal dalam interaksi teks dengan akal manusia.[4]

Dalam pandangan Nasr Hamid, teks Al-Qur’an terbentuk dalam realitas dan budaya, selama lebih dari 20 tahun. Oleh sebab itu, Al-Qur’an adalah “produk budaya” (muntaj thaqafah). Ia juga menjadi “produsen budaya” (muntij li al-tsaqafah) karena menjadi teks yang hegemonik dan menjadi rujukan bagi teks yang lain. Disebabkan realitas dan budaya tidak bisa dipisahkan dari bahasa manusia, maka Nasr Hamid juga menganggap Al-Qur’an sebagai teks bahasa (nas lughawi). Realitas, budaya, dan bahasa, merupakan fenomena historis dan mempunyai konteks spesifikasinya sendiri. Oleh sebab itu, Al-Qur’an adalah teks historis (a historical text). Histo­risitas teks, realitas dan budaya sekaligus bahasa, menunjuk­kan bahwa Al-Qur’an adalah teks manusiawi (nash al-insani).

Dengan berpendapat seperti itu, Nasr Hamid menegaskan bahwa teks-teks agama adalah teks-teks bahasa yang bentuk­nya sama dengan teks-teks yang lain di dalam budaya (anna al-nushus al-diniyyah nushus lughawiyyah sya’nuha sya’n ayyat nusus ukhra fi al-thaqafah). Sekalipun asal muasalnya dari Tuhan.

Kesimpulan Nasr Hamid bahwa Al-Qur’an adalah produk budaya tidaklah tepat. Adnin Armas  misalnya melaporkan bahwa; ketika diturunkan secara gradual, Al-­Qur’an ditentang dan menentang budaya Arab Jahiliyah saat itu. Ketika menyampaikan agama Islam, Rasulullah saw. ditentang dengan menuduh Rasulullah sebagai orang gila.

Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila”.[5]

Al-Qur’an juga menentang budaya jahiliyah yang bangga dengan kemampuan puisi mereka dengan menyatakan:

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.[6]

Jadi, Al-Qur’an bukanlah produk budaya, karena Al­Qur’an bukanlah hasil kesinambungan dari budaya yang ada. Al-Qur’an justru membawa budaya baru dengan menentang serta mengubah budaya yang ada. Jadi, Al-Qur’an bukanlah produk budaya Arab Jahiliyyah. Namun justru kebudayaan Jahiliyyah Arab yang diubah pada zaman Rasulullah saw. Jadi, budaya pada zaman Rasulullah saw. adalah produk dari Al-Qur’an, bukan sebaliknya.

Al-Qur’an juga bukan teks bahasa Arab biasa, sebagai­mana teks-teks sastra Arab lainnya. Menurut al-Attas, bahasa Arab Al-Qur’an adalah bahasa Arab bentuk baru. Sejumlah kosa-kata pada saat itu, telah diislamkan maknanya. AI­-Qur’an mengislamkan struktur-struktur konseptual, bidang­-bidang semantik dan kosa kata. Khususnya istilah-istilah dan konsep-konsep kunci, yang digunakan untuk memproyeksi­kan hal-hal yang bukan dari pandangan hidup Islam. Al­Qur’an mengislamkan dan membentuk makna-makna baru dalam kosa kata bahasa Arab.

Al-Qur’an juga bukan teks manusiawi, sebagaimana klaim Nasr Hamid, karena ia bukan kata-kata Muhammad.

Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya.[7]

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).[8]

Dari sini jelas bahwa al-Qur’an adalah sumber utama kebenaran, terutama dalam menelusuri bayan al-Qur’an itu sendiri. Tidak sebagaimana klaim proyek hermeneutika Nasr Hamid yang akan membawa kepada konsep bahwa tafsir itu relatif, dan akan menempatkan al-Qur’an pada posisi yang sama denga teks yang lain. Yang ini berarti tidak ada otoritas utama dan tidak ada kebenaran mutlak dalam teks apapun, termasuk al-Qur’an.

Otoritas kedua, adalah sunnah sebagai bayan dan teks skunder. Sebagaimana urutan yang ditetapkan al-Qatthan sebagai syarat procedural seorang mufassir dalam proses penafsirannya, bahwa Al-Qur’an sebagai teks primer harus didahulukan sebelum sunnah. Dengan posisi ini, sunnah – dalam aspek bayan – justru lebih di-“butuh”-kan dari pada sunnah terhadap Al-Qur’an.[9]

Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikir, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.[10]

Fungsi sunnah sebagai bayan al-Qur’an yang digambarkan teks di atas adalah disaat sunnah itu dapat dipertanggungjawabkan akurasi datanya. Ini bukan masalah bila sunnah yang dimaksud adalah tradisi Nabi di saat wahyu turun. Lain halnya bila saat itu sudah lama berlalu. Makin lama, maka akan semakin panjang deretan masalah yang harus dihadapi sunnah untuk kemudian dapat “melenggang” menjadi bayan al-Qur’an.

Pertama, pada awal masanya, sunnah tidak berupa teks, baik pada tataran kultural maupun struktural. Sunnah dengan tegas dilarang keberadaannya dalam bentuk teks, yang tentunya karena beberapa pertimbangan, terutama demi menyelamatkan teks primer al-Qur’an itu sendiri. Model sunnah yang dipertahankan malalui cara lisan, tentunya banyak menemui kendala disana-sini. Sunnah sendiri mengajarkan; “ikatlah pengetahuan ini dengan tulisan”,[11] dan “Tulis, demi Allah, tidak keluar dari (lisanku) kecuali kebenaran”.[12] Kebenaran yang divokalkan Nabi adalah wahyu, dan wahyu adalah kebenaran itu sendiri. Jadi, kebenaran itu sebenarnya diperintahkan untuk dipertahankan dengan bentuk teks. Polemik sunnah menuju bentuk teks ini, insya’allah akan penulis bahas lebih luas pada makalah yang lain. Secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut;

Polemik kedua, berangkat dari gambaran di atas, sunnah ternyata tidak hanya barkembang pada interpretasi sahabat, yang pada bagian inipun belum merupakan teks, tapi lebih dinamis karena berupa prilaku yang berkembang pada opini-opini. Sampai di sini, dapat dibayangkan luas wilayah perkembangannya. Pada bagian lain, sunnah berkembang lebih luas dan “lebih jauh”, yang disebabkan oleh legalisasi periwayatan bi al-makna, transformasi essensial data. Sunnah ternyata berkembang sampai salah satu bagiannya berada di luar “jalur”. Banyak ditemukan data-data palsu, imitasi dan gadungan. Bermotif kepentingan-kepentingan sesaat dan berlatar belakang ideologis tertentu. Data palsu dari sunnah itu disebutkan sebagai bagian dari sunnah secara struktural yang kita kenal dengan istilah hadits maudlu’, walaupun sebenarnya bukan sunnah sama sekali.

Ketiga, lebih jauh, bila kita mau mengkoreksi teks sunnah yang baru secara resmi ditulis pada paruh kedua abad kedua hijriyah atas instruksi Umar ibn Abd al-Aziz. Yang akan memunculkan pertanyaan; Apakah usaha kodifikasi saat itu atau bahkan sampai sekarang, dapat mengakomodir semua atau segala sunnah yang semestinya dapat menjadi bayan al-Qur’an? Atau malah sangat minim bahkan dirasakan tersendat-sendat ditengah jalan karena permasalahan akurasi?.

Penulis mengira bahwa sebagai media bayan, sunnah tentu saja sudah melalui usaha maksimal dari para ulama untuk mencapai akurasi data yang menjadi syarat legalisasi sunnah sebagai bayan al-Qur’an. Dimulai dari usaha kodifikasi, klasifkasi dalam istilah-istilah (mushthalah), dirasat al-asanid, tajrih wa at-ta’dil, konsep-konsep dan teori-teori seputar akurasi. Usaha yang selektif itu, memang akan menekan jumlah sunnah yang lolos uji, dan itulah sebabnya ada otoritas ketiga dalam tafsir bi al-ma’tsur, yaitu otoritas sahabat. Karena bila usaha akurasi data itu berhasil menemukan data sunnah secara lengkap, maka otoritas ketiga tidak akan pernah dikenal. Sebab agama – dalam pandangan teks – sudah sempurna dengan kedua otoritas, al-Qur’an dan sunnah.

Sahabat sebagai otoritas ketiga, berperan penting dalam perkembangan sunnah. Interpretasi mereka yang bergerak dinamis karena berupa prilaku dan tradisi-tradisi, disatu sisi merupakan polemik tersendiri bila didudukkan sebagai bayan al-Qur’an. Di sisi lain, otoritas ini dapat dinilai sebagai tafsir model “ta’wil” atau tafsir bi ar-ra’yi, yang membuka lebar-lebar penta’wilan pribadi dari sahabat bila tidak menemukan data pada otoritas sebelumnya.

Ketika Rasul akan mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, ia bertanya; “bagaimana anda akan memberikan keputusan bila anda dihadapkan suatu permasalahan?”, mu’adz menjawab; “saya akan merujuk pada Al-Qur’an”, “bila tidak anda temukan dalam Al-Qur’an?”, “maka dengan sunnah”, “bila tidak terdapat pada keduanya?”, “saya akan ber-ijtihad dengan pendapat saya”. Nabi kemudian menepuk dada mu’adz dan berkata; “segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasul-Nya kepada sesuatu yang menjadi ridlonya.[13]

Legalisasi ijtihad bagi kalangan sahabat dalam proses bayan, juga menimbulkan masalah yang dianggap sebagai “kelemahan” oleh az-Zarqani. Pertama, pemalsuan data oleh gerakan orientalis yahudi. Kedua, fanatisme dan kepentingan ideologis kelompok tertentu. Ketiga, tidak adanya kejelasan akurasi data, yang disebabkan tidak adanya sanad. Kelemahan-kelemahan ini sebenarnya bukan merupakan permasalahan serius, bila kelemahan poin ketiga dapat dipertanggung jawabkan. Karena bila benar data itu berasal dari sahabat, maka hampir dapat dipastikan hal itu berasal dari Nabi (marfu’). Ini adalah pendapat al-Hakim, yang kemudian dibatasi oleh as-Suyuthi, bahwa otoritas sahabat hanya pada data yang tidak mungkin dapat dihasilkan melalui proses ijtihad mandiri tanpa otoritas al-Qur’an dan sunnah.[14]

Dua kelemahan selebihnya lebih merupakan kelemahan secara umum pada metode tafsir bi al-ma’tsur, yaitu; Keempat, “keikutsertaan” dongeng-dongeng isra’-iliyyat. Dan Kelima, informasi yang didapat dari data kitab terdahulu, seperti taurat atau injil. Dalam hal ini, Nabi memberikan ketentuan; untuk tidak (terlalu) membenarkan dan menyalahkan informasi itu.[15] Ketentuan ini mengharuskan mufassir untuk tidak meninggalkan informasi itu, tapi diambil, dikoreksi melalui analisa-analisa, dan bila benar maka informasi itu adalah data penting untuk menjadi bayan al-Qur’an. Sebagai contoh penafsiran pada ayat;

Dan (ingatlah), ketika kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri Ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan Katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak kami akan menambah (pemberian kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”.[16]

Kata al-qaryah walaupun ditunjuk dengan kata isyarat hadza dalam ayat di atas, secara tekstual tidak dapat di pastikan tempat yang dimaksudkan. Untuk menelusuri tempat yang ditunjukkan, para ulama mendasarkan penafsiran mereka pada data dan informasi yang ada. Sebagaimana dinyatakan oleh Qatadah, Ar-Rabi dan Imam Muslim al-Ashfahani, bahwa tempat yang dimaksud pada ayat di atas adalah Bait al-Maqdis,[17] mereka mendasarkan pada teks al-Qur’an yang lain;

Hai kaumku, masuklah ke tanah Suci (Palestina) yang Telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), Maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.[18]


[1] Nasr Hamid, Hermeneutika Inklusif, hlm 6

[2] Manna’u al-Qatthan, hlm 347

[3] Nasr Hamid, hlm 295

[4] Lihat Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qur’an

[5] QS 15 al-Hijr, 6

[6] QS 17 al-Isra’, 88

[7] QS 69 al-Haqah, 44-46

[8] QS 53 an-Najm, 3-4

[9]

[10] QS 16 An-Nahl, 44

[11] Walaupun riwayat ini bukan pernyataan langsung dari Rasul. Ini adalah Hadits mauquf yang berasal dari Umar ra. Lihat Ad-Darimi, sunan, Kitab muqaddimah, hadits nomor: 498

[12] Abu Dawud, Sunan, kitab al-Ilm, nomor hadits: 3161

[13] ibid, kitab al-aqdiyah, hadits nomor: 3119

[14] As-Suyuthi, juz 2 hlm 473

[15] Az-Zarqani, juz 2 hlm 18-19

[16] QS 2 al-Baqarah, 58-59

[17] Ar-Razi, Tafsir, juz 2, hlm 118

[18] QS 5 al-Maidah, 21

Diskusi

4 thoughts on “Mengkaji Ilmu Al-Qur’an: Bab XVIII

  1. Download Software AL-QUR’AN Pro Ver. 3.0
    Al-Qur’an lengkap 30 juz ( 114 Surat + teks & terjemahan (Arab/English/Indonesia))
    Tafsir Quran Lengkap, Penunjuk waktu sholat, 21 bahasa terjemahan Al-Quran, Al-Qur’an Audio with Voice of Shaikh Sudaish (Imam Mecca).
    Download Gratis Sekarang . Link Download http://www.ziddu.com/download/3082887/Al-QuranProVer.3.0.exe.html

    Posted by Gus Dur | 4 Januari, 2009, 11:50 am
  2. Wah thanks for that.
    tapi kayaknya ane udah punya yang itu …
    ada yang lain ndak ?

    Posted by abdurrahmanbinsaid | 4 Januari, 2009, 1:06 pm
  3. sukran ya shohibi

    Posted by imam | 12 November, 2009, 2:07 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Rekonstruksi Metode Bayan « Abdurrahman, S.H.I. - 3 Januari, 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: