//
you're reading...
artikel

Rekonstruksi Metode Bayan

tafsirnyaKehidupan adalah salah satu episode “penciptaan”, dari sekian episode yang sudah ada dalam Ilmu Allah Swt. Kehidupan yang sekarang kita jalani adalah mega sistem dengan keteraturan setiap gerak ruang-waktunya sesuai Taqdir Tuhan.

Episode kehidupan fana di dunia diciptakan sebagai “tes” untuk episode kehidupan berikutnya. Mekanisme tes tentu sangat sportif, Allah Swt. dengan segala kekuasaan-Nya sejak awal kehidupan telah memberikan “pesan-pesan” jelas pada semua peserta tes.

Ketika Allah Swt. berkehendak untuk memberikan petunjuk pesan-Nya, peserta tes harus dapat mengerti bahasa pesan-Nya itu. Teks merupakan “alat” terpilih untuk menyampaikannya, sebagaimana alat  lain dengan istilah serumpun, seperti al-Qolam, sebuah makhluk yang menurut data sebagai “the first being”, dan istilah lauh al-mahfudz, sebuah “buku tulis” sebagai media data base. Keduanya sangat identik dengan istilah “teks”.

Menghadapi “Teks” yang turun dari langit (kitab samawi, sama’u ad-dunya, baitu al-izzah), peserta dihadapkan pada sesuatu yang “asing” sekaligus “familier”. Asing, karena teks itu sama sekali berbeda dan baru, sekaligus pembeda dan pembaharu. Familier, karena secara tekstual berbentuk bahasa bumi dengan bunyi-bunyi dan huruf-huruf yang dikenal. Dualisme ini yang menjauhkan teks Al-Qur’an dari tuduhan teks budaya (muntaj at-tsaqafat), teks bahasa (an-nash al-lughawi), teks sejarah (a historical teks) atau teks manusiawi (teks insani).

Dalam kajian bayan, Al-Qur’an tetap akan menjadi sumber primer segala “bayan” (tibyanan likulli syay’, litubayyina maa nuzzila ilaihim), sebelum sumber-sumber skunder lainnya. Penafsiran teks dengan teks itu sendiri adalah metodologi teraman menurut siapa saja, dengan ideologi apapun.

Perbedaan pemikiran tentang metodologi bayan terhadap teks itu, sebenarnya telah terjadi sejak awal turunnya. Hanya saja, saat itu masih ada teks dalam bentuk lain, yaitu al-Hadits dan Sunnah Rasul,  sebagai sumber bayan skunder terpercaya. Demikianlah mekanisme bayan pada mulanya, dimana data dan informasi tentang bayan atas teks Al-Qur’an yang dikeluarkan oleh Sahabat harus diakui sebagai data yang datang dari Rasul Saw. (al-Hadits al-marfu’), dengan anggapan bahwa Sahabat-pun tidak mempunyai wewenang untuk menafsirkan teks itu dengan pendapatnya sendiri.

Metodologi pertama ini kemudian dikenal sebagai Tafsir bi al-ma’tsur, sebelum kemudian berkembang model “baru” Tafsir bi al-ra’yi. Bayan model kedua ini tidak mungkin terjadi di masa-masa awal, karena alasan di atas itu.

Sebagai contoh;

Model pada penafsiran pada tulisan “nyeleneh” di situs ini: pentagon, yang mengkaji penafsiran ayat-ayat  tentang Hari Kiamat. Sang penulis dapat dinilai terlalu jauh menggunakan daya “khayal”-nya untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Bandingkan dengan model penafsiran pada tulisan tanggapan atas tulisan sebelumnya pada situs ini: mubas.wen.ru, yang dengan tegas tetap mempertahankan metodologi bayan berdasarkan data primer.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: