//
you're reading...
artikel

Nama bagi Ilmu Pengetahuan Dunia

imagesIlmu pengetahuan adalah secercah cahaya Tuhan yang diberikan kepada manusia untuk menjadi “petunjuk” akan sesuatu yang harus dinilahi baik atau buruk. Penilaian itu adalah nilai objektif dari ilmu Tuhan yang kita sebut dengan wahyu.

Sebagaimana yang digambarkan oleh Ibn Khaldun, seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi dalam karyanya yang terkenal Muqaddimah, bahwa:

“On man’s ability to think, which distinguishes human beings from animals and which enables them to obtain their livelihood, to co-operate to this end with their fellow men, and to study the Master  whom they worship, and the revelations that the Messengers transmitted from Him”.

Yang initinya bahwa kemampuan berfikir manusia sejak lahir adalah untuk membedapakn manusia dengan hewan. dimana manusia dapat mengenal Tuhan dan Risalah yang dibawa oleh utusan-Nya.

Untuk menggambarkan kerangka kerja berfikir manusia, sejak lama telah diadakan penelitian mendalam oleh para pakar. Dalam catatan sejarah terdapat nama besar Aristoteles dalam jajaran orang pertama yang merumuskan kerangka berfikir itu, yang kemudian kita kenal dengan logika atau kerangka berfikir deduktif. Bahkan dalam kajian klasik pesantren, disebutkan dalam sepuluh pokok ilmu (mabadi’ al-‘asyrah) diklaim bahwa penemu rumusan itu adalah Aristoteles (wa wadi’uhu aristoteles).

180px-aristotle_by_raphaelDalam gambaran rumusan kerangka itu, dapat disimpulkan bahwa “nama” sangat berpengaruh pada ilmu pengetahuan dunia. Nama adalah satua terkecil dalam pembentukan kerangka berfikir manusia. Karena itulah – mungkin – ilmu pengetahuan pertama yang diberikan Allah Swt. kepada manusia adalah tentang nama-nama:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَـٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”. (QS. Al-Baqarah; 31)

Menurut Al-Qur’an secara tegas di gambarkan bahwa dengan ilmu “sederhana” itu malaikat harus tubduk kepada manusia pertama.

Coba kita buktikan teori ini;

Jika kita berusaha berkomunikasi dengan seseorang, maka kita berusaha memberikan bahasa yang dapat dimengerti oleh orang itu. satuan dan detail bahasa harus sesuatu yang dikenal dan difahami.

Jika kita memberikan perintah kepada orang itu untuk: memberikan uangnya kepada kita, maka kita harus berucap (dalam bahasa indonesia):

“berikan uangnu kepadaku!”.

Dalam kajian bahasa, ujaran kita si atas, tidak dapat diteliti kebenaran dan kesalahannya. Karena berbentuk insya’ bukan khabar. namun tidak demikian dalam kajian logika ini, semua ujaran harus diposisikan sebagai ungkapan khabar.

satuan kata dari ujaran kita itu, harus difahami oleh orang itu. apa itu perintah “berikan”, apa itu “uang”, siapakah “kamu”, apa maksudnya “kepada”, dan siapakah aku?.

Setelah semua nama-nama itu jelas, dan sesuai dengan pengertian sesungguhnya sebagaimana yang dimaksudkan oleh kita, maka yindakan orang itu selanjutnya adalah tindakan yang benar (sebagaimana yang kita harapkan) jika tindakannya sesuai dengan pesan teks ujaran kita.

Teori ini harus diterapkan pada setiap “teks” yang ada di Dunia ini, sebagai sumber Ilmu Pengetahuan Dunia.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: