//
you're reading...
artikel

Tuntutan Kedewasaan

Ketika lingkungan kita mengalami perubahan kondisi, kadang lingkungan kita menuntut kita untuk bersikap dewasa. Kita tidak dapat berharap bahwa lingkungan yang kita kenal adalah lingkungan yang statis, tanpa perubahan. Perubahan pasti terjadi, hanya skala besar atau kecil, biasa atau luar biasa, terprediksi atau tidak.
Kedewasaan adalah sikap, artinya kondisi diri seseorang yang di buat agar sesuai dengan kondisi lingkungannya. Sikap penyesuaian diri dengan lingkungan dalam bahasa agama, kita kenal dengan “akhlak karimah”. Pembahasan tentang yang terakhir ini akan memakan banyak waktu, di sini saya tidak menekankan pada sisi itu.
Salah satu Guru saya pernah memberikan wejangan : “Janganlah kamu sok dewasa, pada waktunya nanti kamu akan dewasa sendiri”. pada awalnya saya kurang setuju, mungkin saat itu saya belum benar-benar menyelami maksud dari wejangan itu. Agar terstruktur, saya akan mencoba mendewasakan pemikiran kita tentang kedewasaan.
Kedewasaan seseorang akan dituntut pada hal-hal berikut : 1) ketika ia harus memutuskan sesuatu yang bersangkutan dengan orang lain, 2) ketika ia menanggung nasib kehidupan orang lain dan 3) ketika ia melakukan sesuatu untuk orang lain. Dari ketiga kondisi ini, dapat dilihat bahwa kondisi yang menuntut seseorang untuk dewasa adalah kondisi disaat seseorang menjadi Pemimpin, artinya kedewasaan sama sekali tidak tergantung pada umur, pengalaman atau tingkat pengetahuan. Namun lebih dari itu, yaitu kondisi lingkungan yang sering kita abaikan sebagai faktor terpenting pembetuk kedewasaan.
Karena itu, wejangan itu sangat benar : kita harus bersikap dewasa, katika kondisi menuntut kita untuk dewasa.

Diskusi

2 thoughts on “Tuntutan Kedewasaan

  1. setuju.
    kedewasaan tak tergantung pada umur..

    Posted by Nanda | 3 Juli, 2009, 12:57 pm
  2. saya merasa, pengalaman ini sangat berharga bagi sampyan, cak. saya yg masih hijau ini tentu hanya bisa melihat dari “luar” mengenai pengalaman sampyan ini. Jika suatu saat saya dikaruniai pengalaman yang sama yang juga menuntut saya untuk “dewasa”, moga saat itu saya ingat tulisan sampyan ini. . .πŸ™‚

    saya harap, koment ini tidak membuat saya terlalu cepat merasa “dewasa”.πŸ˜›

    Posted by HILAL ALIFI | 3 Juli, 2009, 6:06 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: