//
you're reading...
artikel

Pengaruh Simbol

A. Filsafat dan Bahasa

Istilah Filsafat Bahasa (falsafat al-lughat, the philosophy of leanguges) pertama kali muncul pada abad ke-20 bersamaan dengan perkembangan filsafat yang bersifat logosentris. Dari hubungan dua kata ini, filsafat dan bahasa, dapat menunjukkan dua pengertian: pertama, filsafat mengenai bahasa, atau kedua, filsafat berdasarkan bahasa.[1]

Dalam kajian ini, menurut penulis, lebih kepada pengertian pertama, bahwa filsafat bahasa adalah kajian filsafat dimana bahasa menjadi objek kajiannya. Walaupun secara general, yang sepertinya menjadi tujuan kajian ini, filsafat adalah sebuah perangkat pengetahuan dengan bahasa sebagai dasarnya, ini jika bahasa diartikan sebagai “simbol” pengetahuan.

Karena dalam penerapannya, filsafat dapat dengan lebih luas diterapkan dengan memakai “tanda-tanda” atau “simbol-simbol” yang verbal dari pada yang non-verbal. Dalam kajian tanda atau semiotika, bahasa adalah tanda verbal paling fundamental yang digunakan manusia dalam menyampaikan suatu informasi atau pengetahuan.[2]

Sebagai gambaran, kita masih dapat mengungkapkan informasi tentang matahari terbit (the sun rises) dengan simbol non-verbal (bukan bahasa), yaitu dengan ekspresi visual yang terdiri dari garis horizontal, setengah lingkaran garis-garis pendek yang memancar dari tengah imajiner setengah lingkaran tersebut. Namun akan lebih sulit untuk mengungkapkan informasi tentang matahari juga terbit (the sun also rises) dengan menggunakan tanda visual itu. Dan hampir tidak mungkin dengan sarana visual mengungkapkan informasi tentang : al-Ghazali adalah pengarang al-Tahqiq (al-Ghazali is the author of al-Tahqiq).[3]

Karena itu, suatu sistem filsafat sebenarnya dalam arti tertentu dapat dipandang sebagai suatu bahasa, dan perenungan kefilsafatan dapat dipandang sebagai suatu upaya menyusun bahasa tersebut, sehingga filsafat dan bahasa akan selalu beriringan, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Sebab bahasa pada hakikatnya merupakan sistem simbol-simbol, sedangkan tugas filsafat yang utama adalah mencari jawab atau makna dari seluruh simbol yang menampakkan diri di alam semesta ini, dan bahasa juga untuk membongkar seluruh rahasia simbol-simbol tersebut.[4]

B. Simbol dalam Bahasa

Bahasa adalah sine quo non, suatu yang mesti ada bagi kebudayaan manusia.[5] Perbedaan antara manusia dan hewan, hingga manusia pantas memiliki hak luar biasa atas makhluk yang lain, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an:

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.[6]

Perbedaan itu tidak terletak pada bentuk, atau karena nenek moyang manusia diciptakan dari tanah (turab), atau karena dapat memenuhi kebutuhkan dengan kedua tangannya, atau karena dapat berdiri dengan kedua kakinya, namun karena adanya kemampuan untuk mengetahui (al-ma’rifat).[7] Artinya manusia telah memiliki potensi untuk mendapatkan dan memberikan pengetahuan dengan manusia lain, potensi yang dimaksud adalah kemampuan berbahasa.

Kita tidak dapat membayangkan jika hewan dapat berbahasa (berbicara) sebagaimana manusia. Jika si Didi, misalnya, sedang memakan pisang, maka monyet si Didi tidak sekedar mengernyit-ngernyit dahinya karena frustasi, melainkan dengan lantang akan mengatakan: “bagi-bagi dong, Di, pisangnya!”. Bahkan tidak sampai disitu saja, si monyet akan ikut menanam pisang, karena dengan perangkat bahasa ia akan mendapatkan pengetahuan. Mungkin tidak ada yang lebih menyadari kebenaran pernyataan Wittgenstein selain monyet si Didi, Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt (batas bahasaku adalah batas duniaku).[8]

Pada umumnya bahasa didefinisikan sebagai: “suara yang digunakan suatu kelompok untuk mengutarakan maksudnya”.[9] Yang lain mendefiisikan: segala perantara komunikasi yang berbentuk simbol (wasa’il al-ittishal al-ramziyah) yang dapat memudahkan manusia untuk menyampaikan dan/atau mendapatkan informasi dan data (tawshil al-ma’lumat wa al-hushul alaiha).[10] Sementara di barat, bahasa diartikan sebagai:

Language is a system of arbitray vocal simbols bu means of which social group cooperates. Sistem simbol-simbol bunyi yang bersifat sewenang-wenang (arbriter) yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat komunikasi.[11]

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa menunjuk pada tiga pengertian, yang salah satunya adalah: sistem lambang (sign, simbol) bunyi berartikulasi (yang dihasilkan alat-alat ucap) yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran.[12]

Karena itulah manusia disebut sebagai Animal Simbolicum, makhluk yang mempergunakan simbol, yang secara generik mempunyai cakupan yang lebih luas dari pada Homo Spienes makhluk yang hanya berpikir, sebab dalam kegiatan berpikirnya manusia menggunakan simbol. Karena tanpa kemampuan berbahasa (kemampuan menggunakan simbol), maka kegiatan berpikir secara sistematis dan terstruktur tidak mungkin dilakukan. Lebih lanjut, tanpa bahasa, manusia tidak dapat mengembangkan kebudayannya, sebab tidak dapat mentranformasikan nilai-nilai budaya itu pada generasi berikutnya.[13]

Bahasa juga dapat memungkinkan manusia untuk berpikir secara abstrak, dimana obyek-obyek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak.[14] Ketika si Budi memperlihatkan buku barunya kepada si Didi dan mengatakan: “ini buku baru saya”, lalu beberapa saat kemudian ia memasukkan buku tersebut kedalam lemari. Keesokan harinya, si Didi bertanya kepada si Budi: “berapa harga buku barumu itu?”, maka yang dimaksud “buku baru” dalam pertanyaan si Didi adalah obyek faktual yang sekarang telah menjadi simbol abstrak dalam pikiran si Didi dan si Budi. Karena itu menurut Kneler: bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif dan afektif.[15]

Penemuan simbol oleh manusia didorong oleh dua hal: pertama; kemampuan untuk menemukan (al-ikhtira’), dan kedua; kemampuan menyingkap (al-iktisyaf). Desakan dan kebutuhan manusiawinya yang memaksanya untuk menemukan dan menyingkap.[16] Jika simbol dalam bahasa manusia pada awalnya hanya sebagai simbol abstrak dalam pikiranya, maka dengan kebutuhan yang memaksanya, ia dapat cara-cara untuk menvisualisasikan simbol abstrak itu dengan tulisan.

Kata simbol sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata symbolon yang berarti tanda pengenal, lencana atau semboyan.[17] Dalam banyak literatur, simbol kerap disamakan atau diartikan sebagai tanda (sign, ayat), namun sesungguhnya simbol adalah tanda yang bersifat konvensional dan arbitrer.[18]

Symbol is a conventional sign, a sign which functions as such in virtua of a convention, explicit or implicit, between its users. In this sense “symbol” is sametimes opposed to “natural sign”.[19]

Dalam kajian semiotika, simbol adalah bagian dari trikotomi tanda (sign),[20] yang menunjukkan bahwa simbol tumbuh dan berkembang secara alami (natural sign), dan menunjukkan pada suatu makna secara konvensional dan bersifat arbitrer.

Jika demikian, maka simbol merupakan bagian dari tanda atau dengan kata lain; simbol adalah salah satu bentuk tanda yang menunjukkan pada suatu makna tertentu. Hal ini dalam tanda vebal[21] disebut “semantics units” (al-wahdah al-dalaliyah). Yang dimulai dari unit terkecil berupa bunyi (phonem), lalu bagian kata (morphem), kata dan susunan kata.

Karena itu perbedaan antara bahasa tutur (lughat al-kalam) dengan bahasa tulis (lughat al-kitabah) adalah dalam penggunaan “simbol bunyi” (phonetic simbols). Penggunaan simbol suara secara umum dapat mengikuti Alfabet Suara Internasional  (International Phonetic Alphabet, Nidzam al-Alif wa al-ba’ al-Shawtiyah al-Dauliyah).[22] Artinya, dalam bahasa terdapat proses komunikasi yang menggunakan simbol-simbol, sebagaimana menurut Tubbs dan Moss:

Involves sending messages from one person’s nervous system to another’s with the intention of creating a miening similar to the one in sender’s mind. The verbal message does this through words, the basic element of language, and words, of course, are verbal simbolic. Proses komunikasi sebenarnya mencakup pengiriman pesan dari sistem saraf seseorang kepada sistem saraf orang lain, dengan maksud untuk menghasilkan sebuah makna yang sama dengan yang ada di benak si pengirim. Pesan verbal melakukan hal tersebut melalui kata-kata, yang merupakan unsur dasar bahasa, dan kata-kata sudah jelas merupakan simbol verbal.[23]

Menurut teori bahasa, simbol sebaiknya dipakai dalam pengertian sebagai berikut: sebagai objek yang mengacu pada objek lain, tapi juga menuntut perhatian pada dirinya sendiri sebagai suatu perwujudan. Simbol adalah tanda yang menunjukkan tidak ada hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya. Hubungannya justru bersifat arbitrer (sewenang-wenang), artinya tanda itu ditentukan oleh konvensi (convensional simbol).[24]

Tanda “ibu” dalam bahasa indonesia menunjuk pada objeknya, sebagaimana tanda “mather” dalam bahasa inggris, “umm” dalam bahasa arab, “mater” bahasa latin, “mitir” bahasa yunani, dan“matri” bahasa sansekerta. Jika ditarik kesimpulan berasal dari tanda “m”.[25] Dari perbedaan pemakaian tanda atau simbol menunjukkan kesemena-mena-nya simbol itu (arbitary simbol).[26]

Simbol-simbol ini disampaikan dengan bentuk bunyi untuk memberikan pemahaman tentang segala sesuatu dimana manusia dapat mewakilkannya dengan bunyi itu. Pada tahap ini, simbol terbentuk secara alami dan bersifat arbitery, dengan bunyi tertentu manusia dapat terpengaruh sesuai dengan pengertiannya terhadap bunyi tersebut. Kemudian pada tahap berikutnya manusia berusaha menterjemahkan simbol bunyi itu kedalam bentuk tulisan dan disesuaikan dengan bunyi bahasa tertentu, sehingga simbol bahasa (linguistic symbols) sesungguhnya adalah simbol suara (phonetic symbols).[27]

Pada awal penemuannya, simbol sangat dekat dengan visualisasi yang ada dalam kehidupan keseharian manusia, si pembuatnya. Sebagaimana ilustrasi sebuah kisah kuno: ketika seorang kepala suku bepergian ke pantai, ia melihat prajurit musuh telah mendarat di pantai itu dengan menggunakan kapal. Ia ingin mengabarkan hal itu segera kepada warganya dengan menggunakan surat, ia menulis:

Tulisan ini dibaca dari kanan ke arah kiri; gambar titik-titik yang banyak mengisyaratkan jumlah, gambar manusia yang memegang senjata adalah musuh, artinya musuh dengan jumlah banyak. Sementara gambar perahu adalah kapal milik pasukan musuh itu, gambar setengah lingkaran dengan bulatan di atasnya menunjukkan hari dan gambar garis tiga adalah angka tiga, artinya mereka datang dengan menggunakan kapal selama tiga hari. Kemudian gambar pohon adalah daratan dan gambar setengah lingkaran dengan bulan sabit dan bintang-bintang menunjukkan malam hari, artinya mereka mendarat di pantai pada malam hari.[28]

Ilustrasi di atas menunjukkan penemuan simbol bahasa manusia dari sesuatu disekitar kehidupannya, simbol itu dibuat dengan cara sederhana untuk memberikan isyarat pada maksud sesungguhnya, sebagaimana seseorang yang ingin menunjukkan angka satu, ia memperlihatkan satu jari telunjuknya. Ini sangat terlihat jelas pada huruf-huruf heroghlyph mesir kuno;

Gambar seseorang yang memasukkan tangannya kedalam mulutnya menunjukkan segala perbuatan yang dilakukan dengan mulut, seperti berbicara, makan atau minum. Gambar dua kaki yang seakan berjalan adalah bergerak. Sedangkan gambar tangan yang sedang memegang tongkat menunjukkan kekuatan.[29]

Dan pada akhirnya ada upaya untuk menyederhanakan simbol gambar rumit ini dengan gambar yang lebih sederhana;

Perubahan ini diambil dari nama-nama benda menurut versi bahasa pheonix, salah satu cabang dari tulisan heroghlyph mesir kuno. Huruf B berasal dari kata “beth” atau dalam bahasa Arab “bait” yang berarti rumah dengan simbol gambar sederhana rumah, dan huruf J berasal dari kata “jemal” atau dalam bahasa Arab “jamal” yang berarti unta dengan gambar potongan kepala unta.[30]

Urutan perubahan bentuk di atas memperlihatkan kedekatan huruf-huruf arab (hija’iy) dengan huruf-huruf pheonix walaupun sebenarnya melewati beberapa generasi bahasa. Sebagai contoh susunan huruf-huruf ini dalam tulisan pheonix asli pernah ditemukan di batu-batu kuno sebagai berikut:

Dalam tulisan arab:

دنح        قبر     دي    عبد     عيدو    بن     كهياو    بن

Dan arti dalam bahasa Arab: هذا هو القبر الذي صنعه عيدو بن كهيلو بن …… [31]

Dari sekilas sejarah penemuan simbol huruf-huruf bahasa, dapat ditarik kesimpulan bahwa simbol-simbol huruf sebenarnya pada awalnya adalah perwakilan dari benda-benda disekitar penemu yang ia kenal, dengan cara menvisualisasikannya kepada gambar tertentu. Ini berarti bahwa simbol bahasa pada mulanya simbol non-bahasa.[32]

C. Pengaruh Simbol

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.[33]

Entry point kata “asma” memiliki dua kemungkinan asal kata yang menunjukkan pada arti berbeda, pertama; menurut bahasa Kufah berasal dari kata al-samah yang berarti tanda (al-‘alamah, wa sifat al-asyya’), dan kedua; menurut bahasa Bashrah berasal dari kata al-sumuw yang berarti petanda (al-dalil wa al-murtafi’).[34] Oleh karena itu, menurut pengkaji makna-makna harus ada kata yang tersembunyi dalam ungkapan ini yaitu kata al-musammiyat yang berarti segala yang diberi nama, atau “ditandai” dengan nama:

Sayyid Qutub menyatakan:

Kita dapat melihat “rahasia” Tuhan Maha Agung yang diberikan kepada makhluk manusia ini, sebagai tanda-tanda khilafah. Yaitu; kemampuan untuk membuat simbol (al-ramz) dengan tanda nama-nama untuk segala sesuatu, dan kemampuan untuk memberikan tanda segala sesuatu itu dengan nama yang ia buat (yang berupa kata-kata verbal) sebagai simbol untuk menandainya.[35]

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa manusia tidak dapat dibayangkan kesulitan yang dihadapi dalam hidupnya jika tidak memiliki kemampuan ini, seseorang tidak akan dapat memberikan pengertian tentang gunung kecuali datang ke gunung tersebut, ia pula tidak dapat mengenalkan seseorang kecuali mendatangkan orang itu.[36] Pierce menyatakan: “Kita hanya dapat berpikir dengan sarana tanda”.[37] Berangkat dari kerangka ini, maka simbol sebenarnya adalah sesuatu yang berpengaruh (mutsir) dan sebagai sesuatu yang mewakili (badil) realitas empirik objeknya.[38]

Namun, jika memang benar hipotesa penulis bahwa sebenarnya ada dua simbol di dunia ini yang diciptakan Tuhan untuk dipergunakan manusia dalam kehidupan, yaitu simbol non-bahasa dan simbol bahasa, sebagaimana telah dijelaskan sebelum ini dasar pemikirannya. Ini pula dapat kita bandingkan dengan kenyataan bahwa manusia pertama kali diberi kemampuan identifikasi hanya sebatas pada simbol bahasa saja, artinya manusia hanya dapat menyebutkan simbol-simbol bahasa yang “diajarkan” kepadanya mengenai simbol-simbol lain yang non-bahasa, sebagaimana dalam interpretasi ayat di atas, Ulama menyimpulkan bahwa Allah mengajarkan simbol bahasa (asma’) dari simbol-simbol non-bahasa (al-musammiyat) dan tidak sebaliknya.[39]

Sementara dalam Islam, terdapat dua prinsip penting tentang simbol non-bahasa itu. Prinsip pertama; simbol sebagai salah satu trikotomi tanda (ayat, sign) dapat diartikan sebagai sesuatu yang dapat mengantarkan manusia pada suatu kebenaran, atau dengan kata lain simbol adalah pelajaran atau contoh (ibrah, teaching and examples). Sehingga tidak terbatas pada simbol tulis saja;

The two connotations of the concept of signs (ayat), one referring to the verses of the book and a nather to the natura phenomena. Dua pengertian dari konsep ayat (signs), pertama, menunjuk pada ayat versi tulisan Kitab (al-Qur’an), dan kedua, menunjuk pada fenomena alam.[40]

Melihat pada konsep dualisme simbol, atau dalam pernyataan di atas disebut dengan “ayat”, simbol adalah tanda yang universal. Oleh karena itu sepanjang tanda itu dikenal oleh manusia dan dapat dicerna oleh akal pikiran mereka, maka simbol itu adalah bahasa. Ketika simbol itu berupa tulisan yang ada di Kitab yang Tuhan turunkan, maka ia disebut dengan ayat Al-Qur’an atau simbol yang ada dalam kitab Al-Qur’an, sementara jika simbol itu diluar Al-Qur’an, ia disebut a natura phenomena.

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. di antara (isi)-nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat darinya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wil-nya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wil-nya selain Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.[41]

Gejala alam adalah sebuah tanda yang akan mengantarkan pikiran manusia pada suatu kesimpulan tertentu, seperti dunia yang dengan teratur mengelilingi matahari, bulan yang mengelilingi dan selalu mengikuti peredaran bumi, gunung yang akarnya jauh lebih menjulang kedalam perut bumi dari pada permukaannya, udara yang terkurung dalam atmosfir dan bahkan keajaiban penciptaan dalam diri manusia sendiri. Artinya seluruh natural sciences bahkan dengan filsafat positivisme-nya adalah sebuah tanda yang menunjukkan pada makna tertentu, mungkin inilah yang dimaksud dengan sebutan “the natural sign”.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.[42]

Muhammad Dawileh menyatakan:

In other words, the whole creation of God, especially this world is like a big book of “ayat”. All things are ini truth ayat of God, and their simbolic nature can only be grasped by those who have “aql”, who can “reflect” (fikr in the true sense of the word).[43]

Prinsip kedua;  bahwa ternyata simbol bahasa yang diajarkan Tuhan kepada manusia, atau kemampuan manusia untuk membuat simbol-simbol bahasa sangat terbatas. Tidak hanya terbatas pada sesuatu yang dapat ditangkap oleh panca indra manusia saja, namun juga dibatasi dengan keterbatasan simbol bahasa itu sendiri untuk menerjemahkan segala simbol non-bahasa. Hal ini menjadi dasar pemikiran sebagian pakar bahwa bahasa dengan simbol-simbol nya adalah “pemberian” (wahbiyah) dan “ketentuan yang dibatasi” (tauqifiyah).[44] Dan ketika manusia berusaha mengetahui yang tidak dapat panca indranya, maka Al-Qur’an dengan tegas menyatakan:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.[45]

Sehingga kenyataan bahwa simbol bahasa sangat terbatas sesuai dengan kemampuan manusia untuk menerjemahkan segala aspek kehidupannya ke dalam dimensi bahasa, dan/atau sesuai dengan simbol bahasa yang diajarkan atau diinformasikan oleh Tuhan melalui ayat-Nya (tanda-Nya), sebagaimana informasi tentang sesuatu yang tidak mungkin dapat ditangkap indra manusia, kenyataan ini membawa dampat besar pada tingkat pengetahuan manusia. Pengetahuan manusia yang terbatas ini kemudian dibatasi pula dengan keterbatasan simbol bahasa yang dimilikinya. Polanyi mengatakan: “we know more than we can say. kita mengetahui lebih banyak dari pada yang dapat kita katakan”.[46] Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si. menggambarkan pengaruh simbol bahasa pada tingkat pengetahuan manusia sebagaimana ia ambil dari pemikiran Michael Polanyi:

Dari kenyataan (the whole reality) yang hampir tak terbatas, sebagian kecilnya merupakan kenyataan yang diketahui (the know reality) manusia, sehingga melahirkan pengetahuan (knowledge), selanjutnya dari khasanah pengetahuan yang jumlahnya masih luar biasa, sebagian besar masih merupakan pengetahuan tak terbahasakan (pre-artuculated knowlrdge), sedangkan sebagian kecil diantaranya merupakan pengetahuan terbahasakan (articulated knowledge). Konsekuensinya, tak mungkin menarik simpulan lain, kecuali bahwa manusia pada dasarnya mengetahui lebih banyak dari pada yang bisa diucapkan.[47]

Teori Polanyi yang disampaikan Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si. dalam pidatonya yang luar biasa itu, menurut penulis jika dibahasakan dengan bahasa Agama dalam kajian ini, maka akan mengantarkan kita pada kebenaran kesimpulan Allah dalam Firman-Nya:

Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu perlihatkan dan apa yang kamu sembunyikan?”.[48]

Dalam ayat di atas, Allah menyimpulkan tiga pengetahuan Allah: pertama: rahasia langit dan bumi (ghaib al-samawat wa al-ardli) atau kita sebut sebagai segala kenyataan (the whole reality) yang sama sekali tidak diketahui oleh manusia atau makhluk apapun termasuk malaikat.[49] Kedua: pengetahuan yang disembunyikan manusia (ma kuntum taktumun) karena mereka tidak mampu untuk menyebutkannya yang disebabkan keterbatasan simbol bahasa yang diajarkan Tuhan kepada mereka. Pengetahuan kedua ini adalah pengetahuan Tuhan yang diperlihatkan kepada manusia sebagai simbol, ayat atau tanda tentang kebenaran-Nya, namun tidak dapat dibahasakan secara simbolik, untuk itu kita sebut sebagai “simbol-simbol non-bahasa”. Dan ketiga: pengetahuan yang diperlihatkan oleh manusia (ma tubduna), yaitu segala pengetahuan yang dapat diwakilkan dengan simbol-simbol bahasa manusia


[1] Ibid: 12

[2] Kris Budiman, Kosa Simiotika, LkiS, 1999: 109

[3] Umberto Eco, a Theory of Semiotics, seri terjemah Indonesia: Teori Semiotika oleh Inyiak Ridwan Muzir, Kreasi Wacana Yogyakarta, 2009: 259

[4] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, mengungkap hakikat bahasa, makna dan tanda, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006: 31

[5] Sebagaimana kearifan melayu menyatakan: “bahasa adalah cermin dari budaya bangsa, hilang budaya maka hilang bangsa”. Lihat: Ibid 30.

[6] QS. Al-Jatsiyah: 13

[7] Abu Zaid, isykaliyat al-qira’at, al-markaz al-tsaqafi al-arabi, tt. : 54

[8] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, sebuah pengantar populer, PT Total Grafika Indonesia, c.16, 2003: 171

[9] Abu Zaid, isykaliyat al-qira’at, al-markaz al-tsaqafi al-arabi, tt. : 53

[10] Ahmad al-Burini, al-lughah al-arabiyah ashlu al-lughat kulliha, Daru al-Hasan, Yordania, 1998: 54

[11] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, mengungkap hakikat bahasa, makna dan tanda, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006: 22

[12] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1988: 66-67

[13] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, sebuah pengantar populer, PT Total Grafika Indonesia, c.16, 2003: 171

[14] Ibid: 173

[15] Ibid: 173

[16] Jarji Zidan, al-falsafah al-lughah, Daru al-Jail, Libanon, 1904: 131

[17] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, mengungkap hakikat bahasa, makna dan tanda, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006: 23

[18] Lihat: Kris Budiman, Kosa Simiotika, LkiS, 1999: 108-109

[19] Dagobert D. Runes, Dictionary of Philosophy, Littlefield, Adams & Co., New Jersey, 1976: 308

[20] Trikotomi tanda menurut Charles S. Pierce yang tidak dapat di tawar-tawar: simbol, ikon dan indeks. Simbol adalah tanda yang dikaitkan dengan objeknya secara arbitrer, sementara ikon adalah tanda yang mirip atau sama dengan objeknya, dan indeks adalah tanda yang dikaitkan dengan objeknya secara fisik. Lihat: Umberto Eco, a Theory of Semiotics, seri terjemah Indonesia: Teori Semiotika oleh Inyiak Ridwan Muzir, Kreasi Wacana Yogyakarta, 2009: 267-268. Lihat juga: Kris Budiman, Kosa Simiotika, LkiS, 1999: 49, 50-51, 108-109

[21] Tanda verbal adalah bahasa, yaitu tanda yang fundamental dan cara utama yang digunakan manusia untuk menerjemahkan pikiran-pikirannya. Lihat: Umberto Eco, a Theory of Semiotics, seri terjemah Indonesia: Teori Semiotika oleh Inyiak Ridwan Muzir, Kreasi Wacana Yogyakarta, 2009: 260. Lihat juga: Kris Budiman, Kosa Simiotika, LkiS, 1999: 109

[22] Bertil Malmberg, al-Shautiyat, Ma’had al-Khurtum al-Dauli lilughat al-Arabiyah, 1985: 21. Lihat juga: Ahmad al-Burini, al-lughah al-arabiyah ashlu al-lughat kulliha, Daru al-Hasan, Yordania, 1998: 53

[23] Alex Sobur, Analisis Teks Media, PT Remaja Rosdakarya, 2006: 41-42

[24] Ibid: 44

[25] Jarji Zidan, al-falsafah al-lughah, Daru al-Jail, Libanon, 1904: 25

[26] Alex Sobur, Analisis Teks Media, PT Remaja Rosdakarya, 2006: 44

[27] Mahmud Fahmi, ilm al-Lughah al-Arabiyah, Dar Gharib, tt.

[28] Jarji Zidan, al-falsafah al-lughah, Daru al-Jail, Libanon, 1904: 132

[29] Ibid. h: 135. Cara ini tentu saja memiliki banyak kekurangan, antara lain; kerumitan gambar yang harus dibuat, jika satu gambar mewakili satu pernyataan, maka akan memerlukan ribuan gambar untuk mewakili unkapan-ungkapan lain yang berbeda, dan jika-pun satu gambar dibuat untuk mewakili satu huruf dari potongan kata, maka tetap akan memerlukan banyak gambar untuk disusun menjadi satu ungkapan saja.

[30] Ibid. h; 137

[31] Ibid. h; 140. Dalam contoh ini, terlihat kemiripan huruf dal, ba’, nun, kaf, ya’, lam dan waw. Sementara huruf “h” lebih mirip huruf latin.

[32] Hipotesa penuisi ini dapat dibandingkan dengan penemuan tentang kemiripan bunyi (phone) dalam setiap bahasa dengan benda atau rasa yang dirasakan pembicara atau pendengar, sebagaimana dalam bahasa Arab. Bunyi kata “bathasya” yang berarti memukul dengan keras, memberikan rasa yang menunjukkan arti memukul dengan keras itu, demikian juga bunyi kata “layyin” yang memberikan rasa halus sebagai artinya. Juga sebagai bahan pertimbangan tentang asal segala bahasa yang pernah digunakan manusia yang tidak akan penulis tulis dalam makalah sederhana ini. Lihat kajian tentang ini dalam Al-Qur’an: Husen Aziz, Sastra Al-Qur’an, Jauhar, Surabaya, 2007, hal: 56

[33] QS. Al-Baqarah: 31-32

[34] Lihat: Muhammad Sayyid Thanthawi, Tafsir al-Wasit, mauqi’u al-Tafasir, Maktabah al-Syamilah, Juz: 1, h: 1. Lihat juga: Fakhruddin al-Razi, Mafatihu al-Ghiyab, mauqi’u al-Tafasir, Maktabah al-Syamilah, Juz: 1, h: 454. Jika kita bandingkan dengan asal istilah semantik sebagai ilmu yang mengkaji makna tanda (ilmu dalalah al-asykal) yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata sema yang berarti tanda. Lihat: wikipedia bahasa indonesia.

[35] Sayyid Qutub, Fii Dzilal al-Qur’an, mauqi’u al-Tafasir, Maktabah al-Syamilah, Juz: 1, h: 29

[36] Ibid

[37] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, mengungkap hakikat bahasa, makna dan tanda, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006: 130

[38] Muhammad sa’ad, ilm ad-dalalah, dar al-tsaqafah al-arabiyah: 16

[39] Walaupun alasan tidak sebaliknya, bahwa Tuhan tidak mengajarkan simbol non-bahasa (musammiyat al-asma’) yang disampaikan Ulama didasarkan pada kajian semantik ungkapan ayat tersebut, dimana Tuhan memerintahkan Adam untuk membeberkan simbol bahasa saja (asma’ahum). Lihat: Fakhruddin al-Razi, Mafatihu al-Ghiyab, mauqi’u al-Tafasir, Maktabah al-Syamilah, Juz: 1, h: 454

[40] Muhammad Dawilah al-Edrus, Islamic Epistemology an Introduction to the Theory of Knowledge in al-Qur’an, The Islamic Academy, 1992: 71

[41] QS. Ali Imran: 7

[42] QS. Ali Imran: 190-191

[43] Muhammad Dawilah al-Edrus, Islamic Epistemology an Introduction to the Theory of Knowledge in al-Qur’an, The Islamic Academy, 1992: 45

[44] Al-Qur’an menyatakan: bahwa Allah mengajarkan kepada Adam (allama Adama). Lihat: Fakhruddin al-Razi, Mafatihu al-Ghiyab, mauqi’u al-Tafasir, Maktabah al-Syamilah, Juz: 1, h: 453. Sementara sebagai pemberian Tuhan (wahbiyah), dinyatakan dalam Al-Qur’an pada QS. Al-baqarah: 269

[45] QS. Al-Isra’: 85

[46] Mudjia Rahardjo, Bahasa, Pemikiran dan Peradaban, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar UIN malang, UIN Malang, 2006: 8

[47] Ibid.

[48] QS. Al-Baqarah: 33

[49] Karena dalam beberapa Tafsir, para Ulama banyak yang masih terikat dengan kekhususan lafadz menurut siyaq al-kalam dari ayat tersebut, lihat: Tafsir al-Razi. Namun beberapa Mufassir seperti al-Qusyairi mendukung teori penulis ini, lihat Al-Qusyairi, Tafsir al-Qusyairi, tt.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nomor Anda

  • 77,108 hits

Kategori

%d blogger menyukai ini: